Satu minggu telah berlalu sejak kami menyelamatkan Takeda di atas atap.
Itu adalah hari di bulan Juni. Hujan musim semi yang berkabut telah membasahi tanaman, dan sepulang sekolah.
Takeda membawa laporan yang sudah diselesaikannya dan datang ke ruang Klub Sastra.
"Masuklah. Aku telah menunggumu."
Kak Touko pergi ke perpustakaan, jadi aku menerima laporan itu di tempatnya.
"Wah, ini sangat tebal. Kau pasti sudah berusaha keras. "
"Ehehe, mulai sekarang aku banyak menulis. Kau tahu, Kak Konoha, di ruang bawah tanah tempat penyimpanan buku, kau mengatakan kepadaku
menulis tidak akan mengubah apapun, kan? "
Takeda menatapku dengan gembira.
"Itulah yang kupikirkan juga. Tapi sejak aku menulis laporan ini, aku merasa tulisan ini sangat membantu. Sangat memiliki efek terhadapku! "
"Yeah, mungkin."
Cerita yang ditulis Miu--- semuanya membuatku merasa sangat hangat dan segar.
Ketika dia memasukan tulisannya yang lengkap ke dalam amplop, Miu juga memiliki ekspresi bahagia di wajahnya.
Hari-hari itu tidak pernah bisa kulupakan.
Jadi, seperti kata Takeda, mungkin tulisan memang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.
"Oh, ya, Kak Konoha, kau bilang dulu kau adalah perempuan ?"
"Ehhh, itu-itu-"
"Saat di atap bukankah kau bilang kau dulu adalah seorang bishoujo yang misterius. Jangan katakan bahwa kau memiliki gangguan jenis kelamin atau transgender? Atau apakah kau seorang ratu? "
"Uwaaaaaaah, itu, itu-"
"Kak Touko juga mengatakan bahwa dia memakan buku-buku perpustakaan. Aku sangat penasaran, apa maksudnya itu? "
"It-It-It-It-Itu hanya akibat dia gugup dan mengoceh tanpa berpikir.Aku mohon padamu! Tolong lupakan itu semua ya! "
Wajahku menjadi merah padam, dan aku mulai panik. Takeda menatapku, lalu wajahnya berubah menjadi ekspresi seolah dia mengerti. Senyuman muncul di wajahnya.
Ini mungkin ini adalah ekspresi sebenarnya Takeda, dia tidak pernah menunjukkan ekspresi ini sebelumnya.
"Baiklah, aku mengerti. Setiap orang memiliki sesuatu yang memalukan sehingga mereka tidak ingin orang lain tahu kan. Aku akan menyimpan rahasia ini di dalam hatiku. "
"Terima kasih."
Aku lega. Rahasiaku akhirnya tidak terbongkar, akan sangat buruk jika orang lain mengetahui tentang rahasia Kak Touko.Wartawan TV dan pakar monster tak dikenal pasti ingin mendapat jawaban yang lebih tentang dia.
"Kak Konoha, bisakah aku menyimpan surat cinta yang kau tulis untukku?"
"Eh? Kau masih memilikinya? "
Takeda tertawa polos seperti yang selalu dilakukannya.
"Ya. Aku menyimpan semua surat itu di kotak penyimpanan favoritku, dan menjaganya dengan sangat baiku. "
Wah, aku merasa sedikit malu. Tapi karena Takeda setuju menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri, aku tidak punya pilihan selain setuju
"Tapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan pernah menunjukkannya kepada orang lain."
"Eheh, aku akan memperlakukan mereka sebagai harta paling berharga untukku."
Dia menitipkan salam untuk Kak Touko; Setelah dia bilang dia akan kembali kesini lagi untuk bertemu dengan kami berdua, dia pergi.
Aku duduk di kursi dan mulai membaca laporan dari Takeda.
Suara hujan yang lembut disertai suara halaman kertas yang berpindah.
Suara yang nyaman, seperti lagu pengantar tidur di rahim seorang ibu, berbunyi dengan lembut.
Hujan telah berhenti tanpa aku sadari. Matahari terbenam telah mewarnai ruang klub seperti emas yang bersinar.
Sudah berapa lama berlalu?
Aku tertunduk dari membaca laporan. Tiba-tiba aku merasakan gatal di punggung dan leherku seolah ada sesuatu yang menyerupai ekor kucing yang sedang bergelayut. Dengan tidak sadar aku meraihnya
dengan tanganku
(?)
Benda yang bergelayut bukan ekor kucing; Ini adalah salah satu kepangan Kak Touko.
Aku melihat ke sisiku. Entah kapan, tapi Kak Touko sudah kembali dari perpustakaan. Dia, Rupanya memindahkan kursi ke belakang tempat dudukku, dia duduk di atasnya, menyandarkan tubuh bagian atasnya ke depan, dan membaca laporan itu denganku dari balik bahuku
(Wah!)
Kak Touko mungkin sedang sangat memperhatikan pada laporan itu. Jari telunjuk kanannya menyentuh
bibirnya. Dia melihat buku itu dengan ekspresi melamun. Bahkan saat aku mencengkeram
kepangannya dia bahkan tidak menyadarinya.
Tidak hanya itu, Kak Touko mencondongkan tubuh ke depan terlalu dekat. Pipinya nyaris menyentuhku. Alis matanya yang berkedip-kedip dengan cahaya emas. Jarak kami begitu dekat sehingga jika aku bersandar sedikit saja, aku bisa menciumnya.
"Ka, Ka, Ka, Ka- Ka- Ka- Ka- Kak Touko"
"Cepat Balik ke halaman berikutnya, Konoha."
Apa itu,
Mata Kak Touko terpaku pada laporan itu saat dia berkata dengan lembut di telingaku.
"Itu, tapi, ini-"
"Cepat ..."
Dia benar-benar terserap olehnya. Sekarang setelah dia berada dalam keadaan seperti lupa daratan, apapun yang aku katakan akan dia abaikan.
Telinga gadis sastra ini tidak mendengar kata-kataku lagi.
"Y-Ya."
Aku menyerah juga; Aku kembali membaca laporan itu.
Saat aku menikmati aroma harum warna ungu dari Kak Touko, aku merasakan kehangatan tubuhnya, aku membiarkannya lembut.
Kepangannya menempel di leherku, bersama dengannya di ruangan ini, ditambah dengan menjelang matahari terbenam, kita membaca Laporan Takeda bersama.
Saat matahari terbenam, warna keemasan samar berubah merah dan merah, akhirnya kami selesai membaca.
Kak Touko dengan ringan mendesah.
Lalu dia menyadari bahwa wajahku merah dan tubuhku membeku kaku, dia dengan cepat mundur
dariku.
"Ya, kya! Maaf!"
Dengan refleks dia tersentak mundur. Kursinya, tertekan oleh kekuatan mendadak, berbalik ke belakang. Sekarang
Dia kehilangan keseimbangannya, dia juga terjatuh ke belakang--- dia terjatuh dan menghadap langit-langit.
"A-"
"Hnnn, bokongku menabrak tanah ..."
Dengan roknya membalik ke belakang pahanya, mata Kak Touko dipenuhi air mata.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Bokongku sakit ..."
Dia meluruskan roknya dan berubah menjadi posisi duduk.
Saat matanya bertemu denganku, dia mulai tersipu malu. Tapi tidak lama kemudian dia
berubah menjadi ekspresi lembut dan tersenyum padaku.
"Tapi ... Sepertinya Takeda sudah baikan sekarang. Ini bagus sekali. "
Aku tersenyum juga.
"Ya."
Aku menarik tangan Kak Touko dan membantunya berdiri.
Dengan hormat aku menyerahkan laporannya kepadanya.
"Kalau begitu, ini dia yang bisa kau nikmati, milady."
Kak Touko, diterangi matahari terbenam, dengan anggun berjalan ke kursinya. Dia duduk, lebih
sopan daripada biasanya, dan menerima laporan tersebut secara resmi.
"Selamat makan."
Sambil tersenyum ia melihat laporan itu, lalu mulai membaca halaman pertama.
Kapan pun dia menyelesaikan sebuah halaman, dia akan merobek halaman itu, dan mengunyahnya bagian ujung catatannya.
"…Pahit,"
Dengan sedikit cemberut, dia bergumam. Meskipun demikian tetap saja, gigitan demi gigitan, dikunyahnya perhalaman dan kemudian menelan mereka.
"Pahit sekali…"
Laporan ini mungkin jauh dari kata cemilan manis dan manis yang dia harapkan.
Kulitnya yang cantik, seragam, dan kepangnya, semuanya dipenuhi dengan warna matahari senja.
Bahkan jika matahari terbenam di bawah cakrawala, saat malam berlalu, matahari akan kembali terbit. Pada saat diatap, Kak Touko mengatakan ini pada Takeda.
'Tidak masalah betapa menyakitkan atau sedihnya pengalaman itu, besok pasti akan berubah secara drastis.'
Sama seperti ini, saat kami menyambut kedatangan setiap hari baru; Mungkin kami bisa berangsur-angsur berubah.
Bahkan luka-luka yang kami pikir mungkin tidak akan pernah sembuh; Mungkin mereka akhirnya akan sembuh.
Pada hari itu, Miu terjun dari atap. Bukankah akan bagus jika dia bisa berada di suatu tempat, dan tertawa juga.
Bahkan jika kami tidak pernah bisa bertemu lagi, selama dia, di bawah langit matahari terbenam ini, bisa tersenyum ditempat lain ...
Itu mungkin hanya angan-anganku.
Aku membuka tumpukan kertas yang terikat dan mulai menulis.
Kak Touko, yang terus memakan laporan itu, bertanya kepadaku-
"Apa yang kau tulis?"
"Ini sebuah rahasia."
"Hei, Konoha ... cobalah menulis novel suatu hari nanti. Novelmu..., kau harus membiarkan aku membacanya. "
Kak Touko tiba-tiba mengatakan itu. Jantungku berdegup kencang.
Aku mengangkat kepalaku, dan melihat senyum hangat Kak Touko.
Dia tidak tahu tentang masa laluku yang memalukan, bukan?
Jadi, itu mungkin salah satu komentarnya sendiri.
Kak Touko mengalihkan pandangannya kembali ke makanannya.
Aku juga terus menulis di tumpukan kertas.
Apakah akan ada hari, ketika aku akan memegang pena lagi untuk sebuah novel? Apa yang akan aku tulis??? Saat ini, aku tidak tahu.
Tapi untuk hari ini, aku akan menulis cerita yang manis untuk Kak Touko.
Ini akan menjadi makanan penutupnya setelah dia menyelesaikan memakan cerita pahit itu.
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Tuesday, 3 April 2018
Monday, 2 April 2018
Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 13 Prolog
Kau tidak boleh mati!--- Dia berkata kepadaku.
Aku akan membantumu memikirkannya juga, aku akan membantu membawa bebanmu bersamaku! Paling tidak itulah yang bisa kulakukan!
Jadi tolong jangan bunuh diri dengan terburu-buru!
Kau tidak boleh mati!--- Dia berkata kepadaku.
Dia bilang akan memalukan jika aku hanya membaca 'Ningen Shikkaku' sebelum aku mati.
Dazai menulis banyak kisah indah; kau tidak boleh mati sampai kau membaca semuanya.
Kedua orang ini erat memegang tanganku, dan dengan putus asa berusaha meyakinkanku.
Aku menangis.
Aku menangis sambil tertawa.
Apa yang harus ditangisi, apa yang harus ditertawakan, apa yang harus disesali, apa yang membahagiakan?
Aku masih belum mengerti, tapi air mataku tidak akan keluar lagi. Aku berpikir bahwa saat ini, ekspresiku pasti mirip monyet di kebun binatang, atau seperti bayi yang baru lahir,
Keduanya terlihat sangat konyol!
Aku melepaskan tanganku yang lembab, dan cangkir yang diberi Shizuka terselip diujung jariku.
Bagiku, cangkir itu mengingatkanku akan kejahatan yang aku lakukan terhadap Shizuka; maka dari itu aku
selalu memabawanya bersamaku.
Tapi ketika aku melepaskannya dari tanganku dan gelas itu menabrak tanah, tiba-tiba aku merasa lega.
Hatiku menjadi terasa lebih ringan, dan aku merasa telah dibebaskan.
Mungkin itu hasil dari kelalaianku.
Mungkin aku masih bertahan sebagai monster yang tidak memiliki hati!
Mungkin seharusnya aku meninggal dihari itu.
Tapi, aku malah mengulurkan tanganku sendiri dan memegang kedua tangan orang itu.
Wajah mereka berdua memerah. Mereka menasihatiku saat mereka mencoba menarikku.
Selama waktu itu, para guru dan petugas pemadam kebakaran juga sampai di atap dan membantuku kembali ke sisi lain pagar pembatas.
Kenapa kau melakukan itu? Setelah diselamatkan, para guru dan orang tuaku bertanya secara rinci.
Apa yang sedang terjadi? Apakah kau diintimidasi?
Tidak ada apa-apa. Kupikir akan sangat menyenangkan memanjat pagar pengaman, dan tanpa sengaja aku tergelincir, Begitu menakutkan, kupikir aku akan mati!
Jawabku sambil terlihat ngeri. Lalu aku dimarahi karena bermain-main di pagar pembatas.
Desas-desus tentangku dengan segera menyebar ke seluruh sekolahku. Berkat itu aku menjadi terkenal dalam sehari.
Beberapa orang bergosip tentangku di belakangku; beberapa orang juga mengejekku tepat didepan wajahku;
beberapa orang menatapku penuh simpati.
Tentu saja, ada orang yang memperlakukanku dengan baik.
Beberapa orang acuh tak acuh dan sikap mereka terhadapku tetap tidak berubah.
'Apakah kau benar-benar mencoba bunuh diri? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?'
Yang lain memintaku untuk tidak mempedulikannya.
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda.
Keberadaan orang baik hati berarti akan ada orang yang mengerikan juga.
Di atas segalanya ada beberapa yang acuh tak acuh terhadap segala hal.
Tidak peduli apakah itu sekolah atau masyarakat, peraturan ini mungkin akan tetap berlaku.
Dalam keadaan seperti ini, aku akan bertindak ceroboh seperti gadis yang mudah sekali dipengaruhi, dan aku menjawab dengan tertawa- 'ya, tapi gagal. aku jadi merasa sedikit malu.'
Sulit bagi seseorang untuk berubah.
Mulai sekarang aku masih akan memakai topeng badut dan hidup dengan berbohong kepada dunia.
Tapi aku tidak merasa malu lagi.
Aku putus dengan Hiro.
"Itu bukan karena kau berada dalam sorotan semua orang kenapa aku putus denganmu ..." Katanya
dan mengalihkan pandangannya.
Aku juga berpikir bahwa kita harus menempatkan jarak antara kita.
Aku mengatakannya dengan suara yang jauh lebih dingin daripada yang biasa aku gunakan. Terkejut dengan hal itu, Hiro melihatku seolah-olah aku adalah orang asing, dan menjawab dengan suara rendah "Aku mengerti."
Aku tahu bahwa ketua Klub Bola Basket Hanamura diam-diam menyukai Hiro.
Karena, waktu itu dia berbicara dengan rendah hati kepadaku; aku pikir Hanamura akan mencoba dan
menghiburnya.
Akhir-akhir ini, berita yang ditulis dari kejadian ini tidak sampai seserius dulu.
Sampai sekarang, ketika aku mencoba menulis tentang diriku yang dangkal dan mengerikan, aku sering berhenti
dan mengalihkan pandangan dari notebook.
Kata-kata hitam itu tampak seperti kutukan, dan membuatku sangat takut.
Tapi sekarang, semakin aku menulis, semakin aku merasa bahwa aku telah mengeluarkan nanah yang telah membusuk
di dalam hatiku. Ketika aku lebih banyak menulis, aku merasa hatiku menjadi lebih bersih, dan hatiku menjadi
lebih tenang dan lebih tenang lagi. Sekarang aku merasa seolah-olah bisa melihat masa depanku yang jauh.
Aku masih agak menyesal bahwa aku tidak mati hari itu.
Tapi pada saat bersamaan, kepada Kakak kelas dari Klub Sastra, aku juga bersyukur. ya, aku masih hidup.Itu benar.
Dimasa depan, jika seseorang bisa melihatku melalui topeng badutku, aku berencana membuka hatiku,
dan menjawab dengan tawa- "Ya, kau memang benar. Kau memiliki mata yang tajam! "
Jika kebetulan aku bertemu dengan orang lain seperti Shizuka, aku tidak akan berbohong padanya lagi.
Aku akan membantumu memikirkannya juga, aku akan membantu membawa bebanmu bersamaku! Paling tidak itulah yang bisa kulakukan!
Jadi tolong jangan bunuh diri dengan terburu-buru!
Kau tidak boleh mati!--- Dia berkata kepadaku.
Dia bilang akan memalukan jika aku hanya membaca 'Ningen Shikkaku' sebelum aku mati.
Dazai menulis banyak kisah indah; kau tidak boleh mati sampai kau membaca semuanya.
Kedua orang ini erat memegang tanganku, dan dengan putus asa berusaha meyakinkanku.
Aku menangis.
Aku menangis sambil tertawa.
Apa yang harus ditangisi, apa yang harus ditertawakan, apa yang harus disesali, apa yang membahagiakan?
Aku masih belum mengerti, tapi air mataku tidak akan keluar lagi. Aku berpikir bahwa saat ini, ekspresiku pasti mirip monyet di kebun binatang, atau seperti bayi yang baru lahir,
Keduanya terlihat sangat konyol!
Aku melepaskan tanganku yang lembab, dan cangkir yang diberi Shizuka terselip diujung jariku.
Bagiku, cangkir itu mengingatkanku akan kejahatan yang aku lakukan terhadap Shizuka; maka dari itu aku
selalu memabawanya bersamaku.
Tapi ketika aku melepaskannya dari tanganku dan gelas itu menabrak tanah, tiba-tiba aku merasa lega.
Hatiku menjadi terasa lebih ringan, dan aku merasa telah dibebaskan.
Mungkin itu hasil dari kelalaianku.
Mungkin aku masih bertahan sebagai monster yang tidak memiliki hati!
Mungkin seharusnya aku meninggal dihari itu.
Tapi, aku malah mengulurkan tanganku sendiri dan memegang kedua tangan orang itu.
Wajah mereka berdua memerah. Mereka menasihatiku saat mereka mencoba menarikku.
Selama waktu itu, para guru dan petugas pemadam kebakaran juga sampai di atap dan membantuku kembali ke sisi lain pagar pembatas.
Kenapa kau melakukan itu? Setelah diselamatkan, para guru dan orang tuaku bertanya secara rinci.
Apa yang sedang terjadi? Apakah kau diintimidasi?
Tidak ada apa-apa. Kupikir akan sangat menyenangkan memanjat pagar pengaman, dan tanpa sengaja aku tergelincir, Begitu menakutkan, kupikir aku akan mati!
Jawabku sambil terlihat ngeri. Lalu aku dimarahi karena bermain-main di pagar pembatas.
Desas-desus tentangku dengan segera menyebar ke seluruh sekolahku. Berkat itu aku menjadi terkenal dalam sehari.
Beberapa orang bergosip tentangku di belakangku; beberapa orang juga mengejekku tepat didepan wajahku;
beberapa orang menatapku penuh simpati.
Tentu saja, ada orang yang memperlakukanku dengan baik.
Beberapa orang acuh tak acuh dan sikap mereka terhadapku tetap tidak berubah.
'Apakah kau benar-benar mencoba bunuh diri? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?'
Yang lain memintaku untuk tidak mempedulikannya.
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda.
Keberadaan orang baik hati berarti akan ada orang yang mengerikan juga.
Di atas segalanya ada beberapa yang acuh tak acuh terhadap segala hal.
Tidak peduli apakah itu sekolah atau masyarakat, peraturan ini mungkin akan tetap berlaku.
Dalam keadaan seperti ini, aku akan bertindak ceroboh seperti gadis yang mudah sekali dipengaruhi, dan aku menjawab dengan tertawa- 'ya, tapi gagal. aku jadi merasa sedikit malu.'
Sulit bagi seseorang untuk berubah.
Mulai sekarang aku masih akan memakai topeng badut dan hidup dengan berbohong kepada dunia.
Tapi aku tidak merasa malu lagi.
Aku putus dengan Hiro.
"Itu bukan karena kau berada dalam sorotan semua orang kenapa aku putus denganmu ..." Katanya
dan mengalihkan pandangannya.
Aku juga berpikir bahwa kita harus menempatkan jarak antara kita.
Aku mengatakannya dengan suara yang jauh lebih dingin daripada yang biasa aku gunakan. Terkejut dengan hal itu, Hiro melihatku seolah-olah aku adalah orang asing, dan menjawab dengan suara rendah "Aku mengerti."
Aku tahu bahwa ketua Klub Bola Basket Hanamura diam-diam menyukai Hiro.
Karena, waktu itu dia berbicara dengan rendah hati kepadaku; aku pikir Hanamura akan mencoba dan
menghiburnya.
Akhir-akhir ini, berita yang ditulis dari kejadian ini tidak sampai seserius dulu.
Sampai sekarang, ketika aku mencoba menulis tentang diriku yang dangkal dan mengerikan, aku sering berhenti
dan mengalihkan pandangan dari notebook.
Kata-kata hitam itu tampak seperti kutukan, dan membuatku sangat takut.
Tapi sekarang, semakin aku menulis, semakin aku merasa bahwa aku telah mengeluarkan nanah yang telah membusuk
di dalam hatiku. Ketika aku lebih banyak menulis, aku merasa hatiku menjadi lebih bersih, dan hatiku menjadi
lebih tenang dan lebih tenang lagi. Sekarang aku merasa seolah-olah bisa melihat masa depanku yang jauh.
Aku masih agak menyesal bahwa aku tidak mati hari itu.
Tapi pada saat bersamaan, kepada Kakak kelas dari Klub Sastra, aku juga bersyukur. ya, aku masih hidup.Itu benar.
Dimasa depan, jika seseorang bisa melihatku melalui topeng badutku, aku berencana membuka hatiku,
dan menjawab dengan tawa- "Ya, kau memang benar. Kau memiliki mata yang tajam! "
Jika kebetulan aku bertemu dengan orang lain seperti Shizuka, aku tidak akan berbohong padanya lagi.
Sunday, 1 April 2018
Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 12B
Di buku catatan Takeda, di mana dia menuliskan pengakuannya, di halaman terakhirnya dia menulis---
Kak Konoha telah memberiku jawabannya.
Lalu, ayo naik ke atap!
Lantai kedua
Lantai tiga
Lantai empat
Aku merasa tangga yang membentang ke atas menjadi tak terhingga. Kegugupan dan ketakutan tidak akan pernah
mencapai Takeda membengkak dalam pikiranku.
Ketika aku selesai menaiki tangga, apa yang menantiku di sana? Apakah akan menjadi seperti tragedi yang lalu
.Sama seperti waktu dengan Miu? Akankah aku berdiri di sana, tidak bergerak, hanya diam disana untuk menyaksikanTakeda menjatuhkan dirinya dari atap gedung?
Hatiku rasanya ingin menangis. Aku merasa sangat pusing sehingga hampir roboh.
Tidak lagi.
Ini persis seperti waktu itu, aku tidak akan berhasil.
Demi diriku sendiri, aku tidak boleh pergi! Jika aku pergi, aku akan melihat hal-hal yang tidak ingin aku lihat--- ini hanya akan meningkatkan rasa sakitku.
Aku tidak bisa pergi.
Bibir dan ujung jariku terasa mati rasa. Aku terengah-engah seperti binatang buas. Penglihatanku mulai kabur.
Sebenarnya, gejala-gejala ini hilang setelah aku masuk SMA; Namun saat Soeda menyeretku
Keatap, jadi, aku tidak bisa bernafas dengan baik.
Persis seperti waktu itu, rasa lapar dan kegelisahan yang luar biasa melonjak ke arahku. Tubuhku menjadi sedingin es.
Suara yang menyakitkan dikeluarkan oleh tenggorokanku. Aku mencondongkan tubuh ke depan dengan lemah dan aku harus tetap menstabilkan
diriku dengan memegang pembatas.
Ini sangat menyakitkan.
Aku akan mati.
Ah, aku tidak akan berhasil. Sudah terlambat. Bahkan jika aku mencapai atap, itu sudah tidak ada gunanya. Tidak berguna. Setiap orang
hanya bisa hidup dengan cara yang menyedihkan. Tidak ada cara untuk mengubah ini. Sudah terlambat untuk mengatakan apapun.
--Tidak, itu tidak benar.
Saat aku jatuh ke dalam jurang yang dikenal dengan keputusasaan, sebuah tangan tak terlihat menarikku ke atas
Mungkin itu tangan Kak Touko.
Dialah yang menarik tangan lemasku dan tanpa menyerah, dia menarikku sampai ke sini.
Kak Touko tak pernah meninggalkanku.
Aku hanyalah orang yang selalu menangis karena tidak ingin bekerja untuk apapun lagi, atau menangis karena ketidak tahuan terhadap apapun lagi--- dia dengan lembut mengatakan bahwa aku harus menemukan jawabannya pada diriku sendiri.
Betapa menyakitkannya, betapa tragisnya dan betapa mengerikannya perasaanku, aku harus tetap berdiri di atas kakiku sendiri dan
Menemukan jawabanku sendiri.
Seperti Merosu yang tidak ingin melepaskan janjinya dengan temannya, aku berdiri dan berlari seolah-olah tidak ada hal lain yang ada dalam pikiranku.
Aku tidak merasakan sakit dan duka lagi; aku mengabaikan rasa sakit yang merobek-robek hatiku, dan juga, aku tidak akan membiarkanku sesak nafas dan penglihatan yang buram menggangguku lagi. Aku menaruh semua perhatianku untuk mencapai
atap secepat mungkin.
Pintu yang berat muncul di ujung tangga yang tak terbatas. Aku mendorongnya untuk membuka pintu.
Warna langit berwarna biru seperti biasanya.
Takeda ada disana, berdiri di luar pagar pembatas.
Badanya kecilnya tampak sangat lemas dan lesu.
"Jangan! Takeda! "
Saat aku berteriak, aku berlari ke arahnya. Dia juga menatapku dengan terkejut. Aku melihat dia memegang mug bebek itu.Ah, saat aku melihat dia benar-benar berniat membunuh dirinya sendiri, itu membuat dadaku seperti berhenti.
"Jangan, Takeda. Kau tidak boleh mati. Jangan biarkan ini menjadi akhir dari segalanya! Kau bukan Kak Shuuji! Kau adalah Chia Takeda! Kau berbeda dari Kak Shuuji! Hanya karena dia bunuh diri tidak berarti Kau juga harus melakukan hal yang sama! "
Sebuah ekspresi menyedihkan muncul di wajah Takeda.
Aku meraih pagar pembatas dan meraih pergelangan tangan Takeda.
Aku membungkuk ke depan untuk mengambil napas, dan kata demi kata kukatakan---
"Kau harus menemukan jalan lain yang berbeda dari Kak Shuuji!"
Ketika dia melihat buku catatan kusut di tanganku, dia tersenyum sedih.
"Kak Konoha ... Buku catatan itu ... kau sudah membacanya. Itu seharusnya ... ditemukan sepuluh tahun lagi ... Itu adalah pesan dariku untuk sepuluh tahun dari sekarang, sama seperti bagaimana cara Kak Shuuji meninggalkan surat-suratnyanya untukku. Surat itu harusnya ditinggalkan ... "
"Apa yang kau bicarakan ?! Kau tidak harus memilih jalan yang sama dengan Kak Shuuji!
Kembali kesini."
Tetesan air mata yang jernih meluncur di wajahnya seolah-olah itu adalah kesedihannya tentang bagaimana tidak ada yang pernah bisa mengerti dia.
"Tapi, Kak Konoha, Aku tidak bisa lagi menahan rasa malu dan rasa sakit karena sudah hidup di dunia ini ."
Suara tertekannya, direndam dengan dukacita, dimasukkan ke dadaku dan membuatku terdiam.
'Konoha, kau tidak akan pernah mengerti.'
Ah, apakah kejadian dengan Miu akan terulang lagi?
"Hei, Kak Konoha , apakah kau sadar bahwa Kak Shuuji tidak memilih bunuh diri untuk melarikan diri dari rasa bersalah kerena telah membunuh Sakiko? Itu karena Sakiko sempat ditabrak mobil.
Di depannya, dan dia masih belum bisa merasakan apapun dari itu. Itu adalah sikap apatis yang membuat dia putus asa
tentang dirinya sendiri.
Ini sama denganku.
Aku membunuh Shizuka.
Jika aku tidak tersandung dijalanan, maka Shizuka tidak akan kembali dan tertabrak mobil. Ini sama dengan aku membunuhnya.
Tapi, meski Shizuka kekurangan darah sampai mati di depanku, aku masih tak bisa merasakan apapun.
Bahkan di pemakamannya aku tidak meneteskan satu air mata pun.
Aku membuat diriku linglung.
Keluarga dan teman-temanku, ditambah orang tua Shizuka, berbisik-bisik di sekelilingku yang mengatakan bahwa seharuanya jika aku melihat sahabatku yang sekarat di hadapanku pasti sudah membuatku trauma
. 'Aku merasa sangat kasihan padanya, biarkan dia sendiri untuk sesaat.'
Itu tidak benar!
Aku sama sekali tidak sedih! Tidak peduli bagaimana aku mencoba mengingat ingatanku dengan Shizuka untuk membuat diriku menangis, aku tetap tidak bisa melakukannya. Aku bahkan tidak bisa mengucurkan satu ons pun kesedihan. Shizuka sudah meninggal, dan aku masih belum bisa merasakan apa pun.
Ini--- ini terlalu aneh! Seseorang telah meninggal! Dan dia adalah sahabatku! Mengapa aku tidak merasa sedih sama sekali?, ini benar-benar tidak normal! "
Takeda menjadi semakin histeris; Mata basahnya juga menjadi semakin putus asa.
Aku tidak bisa memaksa diri untuk mengatakan 'Tidak, itu normal.'
Dengan akal sehatku, aku tahu apa yang dia katakan itu menyimpang, jadi aku tidak bisa melawan.
Aku tahu betul ketakutan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari; tapi aku hanya anak yang lemah lembut yang tinggal di bawah orang tuaku yang peduli, aku tidak menjalani apapun yang bisa membuat aku mengerti
keputusasaan yang mengikat hati Takeda yang sedang tersiksa saat ini.
"Aku tidak bunuh diri untuk melarikan diri dari rasa bersalah membunuh Shizuka--- Aku bunuh diri karena
dari sikap apatisku terhadap kematian Shizuka. Aku terlalu malu dan takut pada diriku sendiri, aku tidak bisa hidup seperti itu.
Dazai mengatakannya juga, bahkan jika seseorang terus hidup, dosa-dosanya yang kotor hanya akan meningkat jumlahnya,
dan masalahnya hanya akan bertambah pula! Dia juga mengatakan 'Jika kau mencari kematian maka yang kau temukan adalah mati. Hidup adalah benih dari
rasa bersalah! ' aku tidak dapat meneruskan diriku hidup seperti ini lagi! Kak Konoha, apa menurutmu
orang sepertiku bisa terus hidup? Apakah kau masih menyuruhku untuk menjalani hidupku? Apakah menurutmu kematianku adalah salah? Aku tidak bisa tenang dengan kesengsaraanku? "
Tangan Takeda yang sedang kupegang perlahan semakin longar.
Kak Rihoko ingin melepaskan Kak Shuuji yang tersiksa dari rasa sakitnya, jadi dia memenuhi keinginan Kak Shuuji.
Tapi? Tapi aku? Tanganku yang kendor, sekali lagi aku mengencangkan peganganku dan lebih kencang lagi.
Takeda membuka matanya lebar-lebar.
"Aku tidak tahu ... Aku tidak tahu! Mungkin aku keliru, mungkin aku mengatakan beberapa hal yang sangat sulit dilakukan
olehmu, tapi aku masih tidak bisa membiarkanmu mati. Meskipun sekarang aku tidak bisa mengatakan mengapa kau tidak pantas untuk mati, tapi aku akan membantumu memikirkan alasan yang layak untuk hidup! Jadi tolong jangan bunuh diri! Coba dan teruslah
hidup! Aku akan membantumu memikirkannya juga, aku akan membantu membawa bebanmu bersamaku! Paling tidak itulah yang bisa kulakukan!"
Takeda masih menangis.
"Bahkan jika ... Kau mengatakan ini padaku ..."
"Kumohon, Takeda . kembalilah ke sini. "
"Tidak ... Aku sudah ..."
Takeda melepaskan pegangan tanganku. Tindakannya menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan dia kehilangan pijakannya.
"Takeda!"
Buku catatan bergambar bebek itu jatuh ke lantai; Angin kencang dengan cepat membalikkan
halamannya.
Seluruh tubuhku ada di lantai, dengan tanganku menarik salah satu tangan Takeda.
Dan tangan yang lainnya dia gunakan untuk memegang cangkir, Kakinya yang berbahaya menjuntai seperti layang-layang yang tersangkut oleh kabel listrik.
"Lepaskan aku ... biarkan aku mati seperti ini ..."
Takeda memohon kepadaku dengan lemah.
"... aku tidak mau ! "
Lenganku rasanya mau hancur. Ah, seandainya saja aku tidak mengunci diri di rumahku sepanjang waktu, kalau begitu mungkin aku sekarang lebih kuat.
"Lepaskan! Kak Konoha ... "
"Tidak, Tidak akan!"
Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi. Membiarkan kau pergi sama saja seperti Saat Miu jatuh tepat di depanku, yang hanya bisa kulakukan hanya
berdiri tak bergerak.
Bahkan jika aku tidak mengerti apa yang Miu rasakan, bahkan jika aku tidak bisa mengatakan apapun yang bisa dilakukan
untuk merubah pikirannya, setidaknya aku harus lari menghampirinya dan memeluknya erat-erat.
Aku bisa mengulurkan tangan dan menghentikannya.
Inilah sebabnya, kali ini aku tidak akan melepaskannya!
"Kau tidak boleh mati! Walaupun hidupmu mengalami penghinaan! Bahkan, aku punya identitas rahasia sebagai bishoujo misterius dua tahun lalu. Aku sangat malu sehingga aku menolak untuk pergi ke sekolah dan mengunci diri di rumah. Aku tidak punya masa depan, dan lihat! Aku hidup dengan baik sekarang! "
Tanpa berpikir aku meneriakkannya, dan ini membuat Takeda membuka matanya karena terkejut.
"Bi-Bisho ... ..?"
Pada saat ini, karena keringat kami, tangan Takeda menjadi licin dan meluncur.
Tapi dengan segera, tangan itu tertangkap oleh sepasang lengan lain yang datang dari sisiku.
"Betul. Setiap orang memiliki sesuatu yang memalukan yang mana mereka tidak ingin memberitahukannya kepada orang lain.Demikian juga denganku. Aku bahkan makan salinan 'The Great Gatsby' yang aku pinjam dari perpustakaan beberapa waktu yang lalu. "
Kak Touko terbaring di tanah dengan dada ratanya di lantai beton. Wajahnya
mengerutkan kening dengan rasa sakit. Kedua tangannya berada di antara pagar pembatas dan sekarang dengan erat mencengkeram
Tangan Takeda.
Dengan cepat aku juga menggunakan kedua tanganku untuk memegang tangan Takeda juga.
"... Kak Touko, kenapa kau ada di sini?"
"... awalnya aku pergi ke perpustakaan, dan seorang asisten perpustakaan mengatakan kepadaku bahwa Kau baru saja berlari keluar
... jadi aku datang untuk menemukanmu ... "
Bagi seseorang seperti Kak Touko, yang selalu tinggal di rumahnya bahkan melebihiku, itu mungkin sulit
baginya untuk mempertahankan posisi ini.
Takeda dengan bingung berkata---
"Memakan salinan ...'The Great Gatsby '... Apa ... yang"
Wajah pucat Kak Touko sedang meneteskan keringat sekarang. Dia dengan berat menjawab---
"... baiklah ... di dunia ini ada banyak hal yang tidak dapat dijelaskan! Untuk menemukan kebenaran di balik kejadian ini
adalah salah satu kesenangan dalam hidup! "
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari bawah.Mungkin seseorang di lapangan akhirnya memperhatikan kita dan orang-orang mulai panik.
Takeda menunduk dan menghela napas. Mungkin dia berpikir bahwa jika menarik dirinya seperti ini, dia tidak akan bisa mencapai tujuannya, Takeda sepertinya akan melepaskan tangan kita.Kak Touko teriak-
"Selain 'Ningen Shikkaku ', sudahkah kau membaca cerita lain dari Dazai Osamu?"
"Eh?"
Pertanyaan ini mengejutkan Takeda dan dia berhenti.
Kak Touko terus menarik tangan Takeda, dan dengan tegas berteriak-
"Beberapa orang hanya membaca 'Ningen Shikkaku' dan berpikir bahwa semua karya Dazai Osamu penuh dengan kesedihan dan ketidak warasan. Kesimpulan ini adalah salah. Jika kau
hanya membaca 'Ningen Shikkaku', kau belum cukup membaca untuk mengomentari tema umum
Karya Dazai Osamu. Di kelas Etnis, bukankah 'Hashire Merosu' adalah bacaan yang wajib? Jangan kau pikir bahwa Merosu, yang hanya pergi ke pasar untuk membeli hadiah ulang tahun untuk saudaranya, tapi itu sebaliknya,
Dia malah jadi dipenuhi oleh kemarahan saat dia menyadari kekejaman tirani sang raja. Dia masuk kerajaan istana melalui pintu depan supaya dia bisa membunuh raja. Merosu yang ceroboh itu,
didorong oleh pikiran yang lurus dan tidak bersalah, tidakkah kau pikir dia menawan? Jangan pernah
merasa senang dengan persahabatannya yang tulus dengan tukang batu? Merosu begitu terdorong oleh keyakinannya dan dia
lari kembali ke tukang batu dalam keadaan telanjang ! "
Ah, apa yang kau bicarakan, Kak Touko.
Aku ingin menutupi kepalaku dengan tanganku.
Tapi Kak Touko , dengan keringat yang menetes dari wajahnya, terus dalam keseriusan-
"Coba dan bayangkan! Meski ceritanya diatur dalam periode waktu yang berbeda, pasti sangat
memalukan untuk berlari di jalanan dengan telanjang. Tapi Merosu mengabaikan semua ini dan berlari ke temannya, meskipun ia tidak memiliki kain ditubuhnya. Tindakan lurusnya bahkan membuat
raja tirani dan kejam kalah!
Di akhir cerita tukang batu itu berkata 'Merosu, kau tidak mengenakan pakaian apapun.' Dari apa yang aku
ingat, buku teks kelas etnik mengeluarkan baris ini dari cerita; kau harus memeriksa
naskah aslinya! Ini layak dilakukan hanya untuk membaca baris ini!
Tidak hanya Merosu, ia memiliki banyak karya fantastis lainnya yang berpusat pada cinta dan kepercayaan! Kamu harus membaca
'Hazakura ke Mateki.' Dalam ceritanya, seorang kakak perempuan sangat memperhatikan adik perempuannya--- sangat menyentuh! Dan itu berakhir tidak semata-mata terdiri dari kesedihan; Ini juga memiliki sedikit aura lembut dan
berkilau harapan.Dalam 'Yuki no Yoru no Hanashi', adik perempuan yang menginginkan kakak perempuannya untuk melihat pemandangan salju yang indah; dan 'Hifu ke Kokoro', istri yang mencintai suaminya
Seperti layaknya seorang gadis kecil yang baru jatuh cinta---semuanya sangat lembut, dan sangat lucu. Kelima bersaudara di 'Romawi
Dourou ', bersama-sama mereka menulis novel dan mempublikasikannya. Semua orang hidup bersama dalam harmoni--- itu juga seperti
acara keluarga si Karakter wanita utama 'Jyoseito' sangat lucu, kau tidak bisa membantunya tapi kau ingin memeluknya.
Cerita 'Haji' adalah dasar dari surat-surat yang dikirim olah pembaca wanitanya, dan cerita terakhir Dazai
'Guddo Bai', dan cerita tentang pria yang suka berpakaian sembrono 'Oshare Douji' --- itu semuanya cerita humor yang bersinar pada berbagai aspek kehidupan. Dalam catatan penulis untuk 'Nyozegamon',
Kau bahkan bisa melihat Dazai dengan lucu meniru mereka yang mencoba memprovokasi Naoya Shiga. jika kau mau membaca sesuatu yang bisa menyentuh hatimu, kau bisa baca 'Chikuken Dan' atau 'Kahei'! Mereka semua adalah karya bagus yang dapat menunjukkan kepercayaan dan kelembutan yang dimiliki Dazai untuk orang lain! Mereka semua adalah karya fantastis yang akan mencapai bagian terdalam dari hatimu! Sayang sekali jika kau mati sebelum kau dapat membaca
mereka!"
Persuasi macam apa ini!
Apakah seseorang benar-benar mengatakan hal ini kepada seseorang yang akan bunuh diri?
Tapi Kak Touko benar-benar serius.
Benar-benar serius, mencoba yang terbaik, melakukan yang paling sulit, dan bahkan mempertaruhkan hidupnya.
Wajah Takeda, yang sedang menatap Kak Touko, berangsur-angsur berubah menjadi ketidakpercayaan
. Matanya menjadi lebih aneh dan aneh, dan tidak lama sebelum dia menangis dia mulai jatuh lagi.
Dia pasti mengira ini terlalu aneh, terlalu bodoh, namun pada saat bersamaan dia tidak bisa ditolong dan dipaksa tunduk oleh pidato Kak Touko yang kurang masuk akal. Sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa
lagi.
Kak Touko, tubuhnya terbungkus keringat dan matanya menjadi merah, berjuang untuk melanjutkan---
"Setelah perang usai, sebuah karya sastra yang sangat hebat dipublikasikan, kau
juga harus membaca 'Otogi Soushi', sebuah cerita komedi yang didasarkan pada sebuah cerita kuno. 'Kachikachi Yama'
ditulis dalam kondisi yang sama pula.Aku bisa menjamin bahwa rahangmu akan turun saat kau membacanya!
Lihat! Aku bilang Dazai tidak hanya menulis 'Ningen Shikkaku'! Memang benar dia bunuh diri setelah menyelesaikan buku itu; dia juga menulis banyak karya yang membuat
pembacanya murung dan tertekan. Mungkin 'Ningen Shikkaku' benar-benar jawaban yang Dazai temui.
Tapi itu bukan segalanya!
Dalam karya Dazai, ada banyak karakter baik dan empati. Banyak karakternya lemah lembut dan biasa, namun melalui tekad dan usaha mereka, akhirnya sebagian besar dari mereka menjadi kuat.
Dia, terinspirasi oleh buku harian kekasihnya Shzuko Ooda tentang keluarganya yang mulia, dan menulis cerita 'Shayou'. Dalam ceritanya, heroin utama Kazuko kehilangan keluarga bangsawannya yang dicintanya, tapi
dia masih memilih untuk hidup sendiri dan hidup dengan berani. Pada bab terakhir, dengan
Pagi yang tenang sebagai latar belakang, Dazai berusaha menjelaskan bagaimana matahari dengan sinarnya yang mempesona, perlahan naik ke langit--- tidakkah kau setuju bahwa pemandangannya sangat menginspirasi! Terlepas dari kenyataan, matahari selalu terbenam di bawah cakrawala; setelah malam akhirnya berlalu, matahari
pasti akan terbit kembali!
Pemandangan indah dan ceritanya di 'Ougon Fuukei', kau tidak boleh mati tanpa pernah mengalaminya. Paling tidak, sebelum kau membaca semua karya Dazai Osamu dari depan sampai akhir seratus kali, sebelum kau menulis ribuan laporan dan analisis tentang karyanya, kau tidak boleh mati!"
Air mata yang mengalir dari wajah Takeda jatuh ke dalam cangkir bebek yang dipegangnya.
Jemarinya menyerah.
Cangkir itu jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.
Takeda, dengan tangannya yang sekarang bebas, meraih tangan Kak Touko dan tanganku.
Kak Konoha telah memberiku jawabannya.
Lalu, ayo naik ke atap!
Lantai kedua
Lantai tiga
Lantai empat
Aku merasa tangga yang membentang ke atas menjadi tak terhingga. Kegugupan dan ketakutan tidak akan pernah
mencapai Takeda membengkak dalam pikiranku.
Ketika aku selesai menaiki tangga, apa yang menantiku di sana? Apakah akan menjadi seperti tragedi yang lalu
.Sama seperti waktu dengan Miu? Akankah aku berdiri di sana, tidak bergerak, hanya diam disana untuk menyaksikanTakeda menjatuhkan dirinya dari atap gedung?
Hatiku rasanya ingin menangis. Aku merasa sangat pusing sehingga hampir roboh.
Tidak lagi.
Ini persis seperti waktu itu, aku tidak akan berhasil.
Demi diriku sendiri, aku tidak boleh pergi! Jika aku pergi, aku akan melihat hal-hal yang tidak ingin aku lihat--- ini hanya akan meningkatkan rasa sakitku.
Aku tidak bisa pergi.
Bibir dan ujung jariku terasa mati rasa. Aku terengah-engah seperti binatang buas. Penglihatanku mulai kabur.
Sebenarnya, gejala-gejala ini hilang setelah aku masuk SMA; Namun saat Soeda menyeretku
Keatap, jadi, aku tidak bisa bernafas dengan baik.
Persis seperti waktu itu, rasa lapar dan kegelisahan yang luar biasa melonjak ke arahku. Tubuhku menjadi sedingin es.
Suara yang menyakitkan dikeluarkan oleh tenggorokanku. Aku mencondongkan tubuh ke depan dengan lemah dan aku harus tetap menstabilkan
diriku dengan memegang pembatas.
Ini sangat menyakitkan.
Aku akan mati.
Ah, aku tidak akan berhasil. Sudah terlambat. Bahkan jika aku mencapai atap, itu sudah tidak ada gunanya. Tidak berguna. Setiap orang
hanya bisa hidup dengan cara yang menyedihkan. Tidak ada cara untuk mengubah ini. Sudah terlambat untuk mengatakan apapun.
--Tidak, itu tidak benar.
Saat aku jatuh ke dalam jurang yang dikenal dengan keputusasaan, sebuah tangan tak terlihat menarikku ke atas
Mungkin itu tangan Kak Touko.
Dialah yang menarik tangan lemasku dan tanpa menyerah, dia menarikku sampai ke sini.
Kak Touko tak pernah meninggalkanku.
Aku hanyalah orang yang selalu menangis karena tidak ingin bekerja untuk apapun lagi, atau menangis karena ketidak tahuan terhadap apapun lagi--- dia dengan lembut mengatakan bahwa aku harus menemukan jawabannya pada diriku sendiri.
Betapa menyakitkannya, betapa tragisnya dan betapa mengerikannya perasaanku, aku harus tetap berdiri di atas kakiku sendiri dan
Menemukan jawabanku sendiri.
Seperti Merosu yang tidak ingin melepaskan janjinya dengan temannya, aku berdiri dan berlari seolah-olah tidak ada hal lain yang ada dalam pikiranku.
Aku tidak merasakan sakit dan duka lagi; aku mengabaikan rasa sakit yang merobek-robek hatiku, dan juga, aku tidak akan membiarkanku sesak nafas dan penglihatan yang buram menggangguku lagi. Aku menaruh semua perhatianku untuk mencapai
atap secepat mungkin.
Pintu yang berat muncul di ujung tangga yang tak terbatas. Aku mendorongnya untuk membuka pintu.
Warna langit berwarna biru seperti biasanya.
Takeda ada disana, berdiri di luar pagar pembatas.
Badanya kecilnya tampak sangat lemas dan lesu.
"Jangan! Takeda! "
Saat aku berteriak, aku berlari ke arahnya. Dia juga menatapku dengan terkejut. Aku melihat dia memegang mug bebek itu.Ah, saat aku melihat dia benar-benar berniat membunuh dirinya sendiri, itu membuat dadaku seperti berhenti.
"Jangan, Takeda. Kau tidak boleh mati. Jangan biarkan ini menjadi akhir dari segalanya! Kau bukan Kak Shuuji! Kau adalah Chia Takeda! Kau berbeda dari Kak Shuuji! Hanya karena dia bunuh diri tidak berarti Kau juga harus melakukan hal yang sama! "
Sebuah ekspresi menyedihkan muncul di wajah Takeda.
Aku meraih pagar pembatas dan meraih pergelangan tangan Takeda.
Aku membungkuk ke depan untuk mengambil napas, dan kata demi kata kukatakan---
"Kau harus menemukan jalan lain yang berbeda dari Kak Shuuji!"
Ketika dia melihat buku catatan kusut di tanganku, dia tersenyum sedih.
"Kak Konoha ... Buku catatan itu ... kau sudah membacanya. Itu seharusnya ... ditemukan sepuluh tahun lagi ... Itu adalah pesan dariku untuk sepuluh tahun dari sekarang, sama seperti bagaimana cara Kak Shuuji meninggalkan surat-suratnyanya untukku. Surat itu harusnya ditinggalkan ... "
"Apa yang kau bicarakan ?! Kau tidak harus memilih jalan yang sama dengan Kak Shuuji!
Kembali kesini."
Tetesan air mata yang jernih meluncur di wajahnya seolah-olah itu adalah kesedihannya tentang bagaimana tidak ada yang pernah bisa mengerti dia.
"Tapi, Kak Konoha, Aku tidak bisa lagi menahan rasa malu dan rasa sakit karena sudah hidup di dunia ini ."
Suara tertekannya, direndam dengan dukacita, dimasukkan ke dadaku dan membuatku terdiam.
'Konoha, kau tidak akan pernah mengerti.'
Ah, apakah kejadian dengan Miu akan terulang lagi?
"Hei, Kak Konoha , apakah kau sadar bahwa Kak Shuuji tidak memilih bunuh diri untuk melarikan diri dari rasa bersalah kerena telah membunuh Sakiko? Itu karena Sakiko sempat ditabrak mobil.
Di depannya, dan dia masih belum bisa merasakan apapun dari itu. Itu adalah sikap apatis yang membuat dia putus asa
tentang dirinya sendiri.
Ini sama denganku.
Aku membunuh Shizuka.
Jika aku tidak tersandung dijalanan, maka Shizuka tidak akan kembali dan tertabrak mobil. Ini sama dengan aku membunuhnya.
Tapi, meski Shizuka kekurangan darah sampai mati di depanku, aku masih tak bisa merasakan apapun.
Bahkan di pemakamannya aku tidak meneteskan satu air mata pun.
Aku membuat diriku linglung.
Keluarga dan teman-temanku, ditambah orang tua Shizuka, berbisik-bisik di sekelilingku yang mengatakan bahwa seharuanya jika aku melihat sahabatku yang sekarat di hadapanku pasti sudah membuatku trauma
. 'Aku merasa sangat kasihan padanya, biarkan dia sendiri untuk sesaat.'
Itu tidak benar!
Aku sama sekali tidak sedih! Tidak peduli bagaimana aku mencoba mengingat ingatanku dengan Shizuka untuk membuat diriku menangis, aku tetap tidak bisa melakukannya. Aku bahkan tidak bisa mengucurkan satu ons pun kesedihan. Shizuka sudah meninggal, dan aku masih belum bisa merasakan apa pun.
Ini--- ini terlalu aneh! Seseorang telah meninggal! Dan dia adalah sahabatku! Mengapa aku tidak merasa sedih sama sekali?, ini benar-benar tidak normal! "
Takeda menjadi semakin histeris; Mata basahnya juga menjadi semakin putus asa.
Aku tidak bisa memaksa diri untuk mengatakan 'Tidak, itu normal.'
Dengan akal sehatku, aku tahu apa yang dia katakan itu menyimpang, jadi aku tidak bisa melawan.
Aku tahu betul ketakutan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari; tapi aku hanya anak yang lemah lembut yang tinggal di bawah orang tuaku yang peduli, aku tidak menjalani apapun yang bisa membuat aku mengerti
keputusasaan yang mengikat hati Takeda yang sedang tersiksa saat ini.
"Aku tidak bunuh diri untuk melarikan diri dari rasa bersalah membunuh Shizuka--- Aku bunuh diri karena
dari sikap apatisku terhadap kematian Shizuka. Aku terlalu malu dan takut pada diriku sendiri, aku tidak bisa hidup seperti itu.
Dazai mengatakannya juga, bahkan jika seseorang terus hidup, dosa-dosanya yang kotor hanya akan meningkat jumlahnya,
dan masalahnya hanya akan bertambah pula! Dia juga mengatakan 'Jika kau mencari kematian maka yang kau temukan adalah mati. Hidup adalah benih dari
rasa bersalah! ' aku tidak dapat meneruskan diriku hidup seperti ini lagi! Kak Konoha, apa menurutmu
orang sepertiku bisa terus hidup? Apakah kau masih menyuruhku untuk menjalani hidupku? Apakah menurutmu kematianku adalah salah? Aku tidak bisa tenang dengan kesengsaraanku? "
Tangan Takeda yang sedang kupegang perlahan semakin longar.
Kak Rihoko ingin melepaskan Kak Shuuji yang tersiksa dari rasa sakitnya, jadi dia memenuhi keinginan Kak Shuuji.
Tapi? Tapi aku? Tanganku yang kendor, sekali lagi aku mengencangkan peganganku dan lebih kencang lagi.
Takeda membuka matanya lebar-lebar.
"Aku tidak tahu ... Aku tidak tahu! Mungkin aku keliru, mungkin aku mengatakan beberapa hal yang sangat sulit dilakukan
olehmu, tapi aku masih tidak bisa membiarkanmu mati. Meskipun sekarang aku tidak bisa mengatakan mengapa kau tidak pantas untuk mati, tapi aku akan membantumu memikirkan alasan yang layak untuk hidup! Jadi tolong jangan bunuh diri! Coba dan teruslah
hidup! Aku akan membantumu memikirkannya juga, aku akan membantu membawa bebanmu bersamaku! Paling tidak itulah yang bisa kulakukan!"
Takeda masih menangis.
"Bahkan jika ... Kau mengatakan ini padaku ..."
"Kumohon, Takeda . kembalilah ke sini. "
"Tidak ... Aku sudah ..."
Takeda melepaskan pegangan tanganku. Tindakannya menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan dia kehilangan pijakannya.
"Takeda!"
Buku catatan bergambar bebek itu jatuh ke lantai; Angin kencang dengan cepat membalikkan
halamannya.
Seluruh tubuhku ada di lantai, dengan tanganku menarik salah satu tangan Takeda.
Dan tangan yang lainnya dia gunakan untuk memegang cangkir, Kakinya yang berbahaya menjuntai seperti layang-layang yang tersangkut oleh kabel listrik.
"Lepaskan aku ... biarkan aku mati seperti ini ..."
Takeda memohon kepadaku dengan lemah.
"... aku tidak mau ! "
Lenganku rasanya mau hancur. Ah, seandainya saja aku tidak mengunci diri di rumahku sepanjang waktu, kalau begitu mungkin aku sekarang lebih kuat.
"Lepaskan! Kak Konoha ... "
"Tidak, Tidak akan!"
Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi. Membiarkan kau pergi sama saja seperti Saat Miu jatuh tepat di depanku, yang hanya bisa kulakukan hanya
berdiri tak bergerak.
Bahkan jika aku tidak mengerti apa yang Miu rasakan, bahkan jika aku tidak bisa mengatakan apapun yang bisa dilakukan
untuk merubah pikirannya, setidaknya aku harus lari menghampirinya dan memeluknya erat-erat.
Aku bisa mengulurkan tangan dan menghentikannya.
Inilah sebabnya, kali ini aku tidak akan melepaskannya!
"Kau tidak boleh mati! Walaupun hidupmu mengalami penghinaan! Bahkan, aku punya identitas rahasia sebagai bishoujo misterius dua tahun lalu. Aku sangat malu sehingga aku menolak untuk pergi ke sekolah dan mengunci diri di rumah. Aku tidak punya masa depan, dan lihat! Aku hidup dengan baik sekarang! "
Tanpa berpikir aku meneriakkannya, dan ini membuat Takeda membuka matanya karena terkejut.
"Bi-Bisho ... ..?"
Pada saat ini, karena keringat kami, tangan Takeda menjadi licin dan meluncur.
Tapi dengan segera, tangan itu tertangkap oleh sepasang lengan lain yang datang dari sisiku.
"Betul. Setiap orang memiliki sesuatu yang memalukan yang mana mereka tidak ingin memberitahukannya kepada orang lain.Demikian juga denganku. Aku bahkan makan salinan 'The Great Gatsby' yang aku pinjam dari perpustakaan beberapa waktu yang lalu. "
Kak Touko terbaring di tanah dengan dada ratanya di lantai beton. Wajahnya
mengerutkan kening dengan rasa sakit. Kedua tangannya berada di antara pagar pembatas dan sekarang dengan erat mencengkeram
Tangan Takeda.
Dengan cepat aku juga menggunakan kedua tanganku untuk memegang tangan Takeda juga.
"... Kak Touko, kenapa kau ada di sini?"
"... awalnya aku pergi ke perpustakaan, dan seorang asisten perpustakaan mengatakan kepadaku bahwa Kau baru saja berlari keluar
... jadi aku datang untuk menemukanmu ... "
Bagi seseorang seperti Kak Touko, yang selalu tinggal di rumahnya bahkan melebihiku, itu mungkin sulit
baginya untuk mempertahankan posisi ini.
Takeda dengan bingung berkata---
"Memakan salinan ...'The Great Gatsby '... Apa ... yang"
Wajah pucat Kak Touko sedang meneteskan keringat sekarang. Dia dengan berat menjawab---
"... baiklah ... di dunia ini ada banyak hal yang tidak dapat dijelaskan! Untuk menemukan kebenaran di balik kejadian ini
adalah salah satu kesenangan dalam hidup! "
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari bawah.Mungkin seseorang di lapangan akhirnya memperhatikan kita dan orang-orang mulai panik.
Takeda menunduk dan menghela napas. Mungkin dia berpikir bahwa jika menarik dirinya seperti ini, dia tidak akan bisa mencapai tujuannya, Takeda sepertinya akan melepaskan tangan kita.Kak Touko teriak-
"Selain 'Ningen Shikkaku ', sudahkah kau membaca cerita lain dari Dazai Osamu?"
"Eh?"
Pertanyaan ini mengejutkan Takeda dan dia berhenti.
Kak Touko terus menarik tangan Takeda, dan dengan tegas berteriak-
"Beberapa orang hanya membaca 'Ningen Shikkaku' dan berpikir bahwa semua karya Dazai Osamu penuh dengan kesedihan dan ketidak warasan. Kesimpulan ini adalah salah. Jika kau
hanya membaca 'Ningen Shikkaku', kau belum cukup membaca untuk mengomentari tema umum
Karya Dazai Osamu. Di kelas Etnis, bukankah 'Hashire Merosu' adalah bacaan yang wajib? Jangan kau pikir bahwa Merosu, yang hanya pergi ke pasar untuk membeli hadiah ulang tahun untuk saudaranya, tapi itu sebaliknya,
Dia malah jadi dipenuhi oleh kemarahan saat dia menyadari kekejaman tirani sang raja. Dia masuk kerajaan istana melalui pintu depan supaya dia bisa membunuh raja. Merosu yang ceroboh itu,
didorong oleh pikiran yang lurus dan tidak bersalah, tidakkah kau pikir dia menawan? Jangan pernah
merasa senang dengan persahabatannya yang tulus dengan tukang batu? Merosu begitu terdorong oleh keyakinannya dan dia
lari kembali ke tukang batu dalam keadaan telanjang ! "
Ah, apa yang kau bicarakan, Kak Touko.
Aku ingin menutupi kepalaku dengan tanganku.
Tapi Kak Touko , dengan keringat yang menetes dari wajahnya, terus dalam keseriusan-
"Coba dan bayangkan! Meski ceritanya diatur dalam periode waktu yang berbeda, pasti sangat
memalukan untuk berlari di jalanan dengan telanjang. Tapi Merosu mengabaikan semua ini dan berlari ke temannya, meskipun ia tidak memiliki kain ditubuhnya. Tindakan lurusnya bahkan membuat
raja tirani dan kejam kalah!
Di akhir cerita tukang batu itu berkata 'Merosu, kau tidak mengenakan pakaian apapun.' Dari apa yang aku
ingat, buku teks kelas etnik mengeluarkan baris ini dari cerita; kau harus memeriksa
naskah aslinya! Ini layak dilakukan hanya untuk membaca baris ini!
Tidak hanya Merosu, ia memiliki banyak karya fantastis lainnya yang berpusat pada cinta dan kepercayaan! Kamu harus membaca
'Hazakura ke Mateki.' Dalam ceritanya, seorang kakak perempuan sangat memperhatikan adik perempuannya--- sangat menyentuh! Dan itu berakhir tidak semata-mata terdiri dari kesedihan; Ini juga memiliki sedikit aura lembut dan
berkilau harapan.Dalam 'Yuki no Yoru no Hanashi', adik perempuan yang menginginkan kakak perempuannya untuk melihat pemandangan salju yang indah; dan 'Hifu ke Kokoro', istri yang mencintai suaminya
Seperti layaknya seorang gadis kecil yang baru jatuh cinta---semuanya sangat lembut, dan sangat lucu. Kelima bersaudara di 'Romawi
Dourou ', bersama-sama mereka menulis novel dan mempublikasikannya. Semua orang hidup bersama dalam harmoni--- itu juga seperti
acara keluarga si Karakter wanita utama 'Jyoseito' sangat lucu, kau tidak bisa membantunya tapi kau ingin memeluknya.
Cerita 'Haji' adalah dasar dari surat-surat yang dikirim olah pembaca wanitanya, dan cerita terakhir Dazai
'Guddo Bai', dan cerita tentang pria yang suka berpakaian sembrono 'Oshare Douji' --- itu semuanya cerita humor yang bersinar pada berbagai aspek kehidupan. Dalam catatan penulis untuk 'Nyozegamon',
Kau bahkan bisa melihat Dazai dengan lucu meniru mereka yang mencoba memprovokasi Naoya Shiga. jika kau mau membaca sesuatu yang bisa menyentuh hatimu, kau bisa baca 'Chikuken Dan' atau 'Kahei'! Mereka semua adalah karya bagus yang dapat menunjukkan kepercayaan dan kelembutan yang dimiliki Dazai untuk orang lain! Mereka semua adalah karya fantastis yang akan mencapai bagian terdalam dari hatimu! Sayang sekali jika kau mati sebelum kau dapat membaca
mereka!"
Persuasi macam apa ini!
Apakah seseorang benar-benar mengatakan hal ini kepada seseorang yang akan bunuh diri?
Tapi Kak Touko benar-benar serius.
Benar-benar serius, mencoba yang terbaik, melakukan yang paling sulit, dan bahkan mempertaruhkan hidupnya.
Wajah Takeda, yang sedang menatap Kak Touko, berangsur-angsur berubah menjadi ketidakpercayaan
. Matanya menjadi lebih aneh dan aneh, dan tidak lama sebelum dia menangis dia mulai jatuh lagi.
Dia pasti mengira ini terlalu aneh, terlalu bodoh, namun pada saat bersamaan dia tidak bisa ditolong dan dipaksa tunduk oleh pidato Kak Touko yang kurang masuk akal. Sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa
lagi.
Kak Touko, tubuhnya terbungkus keringat dan matanya menjadi merah, berjuang untuk melanjutkan---
"Setelah perang usai, sebuah karya sastra yang sangat hebat dipublikasikan, kau
juga harus membaca 'Otogi Soushi', sebuah cerita komedi yang didasarkan pada sebuah cerita kuno. 'Kachikachi Yama'
ditulis dalam kondisi yang sama pula.Aku bisa menjamin bahwa rahangmu akan turun saat kau membacanya!
Lihat! Aku bilang Dazai tidak hanya menulis 'Ningen Shikkaku'! Memang benar dia bunuh diri setelah menyelesaikan buku itu; dia juga menulis banyak karya yang membuat
pembacanya murung dan tertekan. Mungkin 'Ningen Shikkaku' benar-benar jawaban yang Dazai temui.
Tapi itu bukan segalanya!
Dalam karya Dazai, ada banyak karakter baik dan empati. Banyak karakternya lemah lembut dan biasa, namun melalui tekad dan usaha mereka, akhirnya sebagian besar dari mereka menjadi kuat.
Dia, terinspirasi oleh buku harian kekasihnya Shzuko Ooda tentang keluarganya yang mulia, dan menulis cerita 'Shayou'. Dalam ceritanya, heroin utama Kazuko kehilangan keluarga bangsawannya yang dicintanya, tapi
dia masih memilih untuk hidup sendiri dan hidup dengan berani. Pada bab terakhir, dengan
Pagi yang tenang sebagai latar belakang, Dazai berusaha menjelaskan bagaimana matahari dengan sinarnya yang mempesona, perlahan naik ke langit--- tidakkah kau setuju bahwa pemandangannya sangat menginspirasi! Terlepas dari kenyataan, matahari selalu terbenam di bawah cakrawala; setelah malam akhirnya berlalu, matahari
pasti akan terbit kembali!
Pemandangan indah dan ceritanya di 'Ougon Fuukei', kau tidak boleh mati tanpa pernah mengalaminya. Paling tidak, sebelum kau membaca semua karya Dazai Osamu dari depan sampai akhir seratus kali, sebelum kau menulis ribuan laporan dan analisis tentang karyanya, kau tidak boleh mati!"
Air mata yang mengalir dari wajah Takeda jatuh ke dalam cangkir bebek yang dipegangnya.
Jemarinya menyerah.
Cangkir itu jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.
Takeda, dengan tangannya yang sekarang bebas, meraih tangan Kak Touko dan tanganku.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...