Friday, 2 August 2019

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Jiwa Yang Lapar Bagian 2

Dia sudah mati ... 
Dia kecewa saat dia telah kembali ke kota itu.
Apa yang terjadi?
Kenapa dia tidak ada di sana? Balas dendam adalah satu-satunya hal yang telah mendorongnya.
Dia telah mengkhianatinya.
Dia kembali ke kota ini untuk menyeretnya kembali ke Neraka dan menguncinya rapat-rapat. 
Namun, dia sudah mati? 
Dia, separuh jiwanya yang lain? Dunianya hancur, jiwanya dilemparkan ke lautan yang bergejolak, dan dia tenggelam di bawah gelombang hitam yang mengamuk-amuk.
Dia memukul dinding dan menghancurkannya dengan tinjunya, lalu dia melolong bagaikan
binatang buas.

>>>>>

"Um ... baiklah ... Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. bukan berarti karena aku takut pada hantu, hingga membuatku tidak bisa berdiri ya. Itu hanya karena kakiku keseleo kau tahu"

Satu jam setelah kami melihat hantu di halaman sekolah, Kak Touko dan aku berjalan melalui jalanan yang gelap, saling berdekatan satu sama lain.

Bukan hal yang aneh lagi.Kak Touko terlihat ketakutan sekali hingga membuatnya tidak bisa berjalan sendirian, jadi mau tidak mau aku harus mengantarkannya sampai kerumahnya.

"Sumpah, aku hanya keseleo. Itu bukan karena hantu. Waktu kecil aku juga pernah keseleo, dan ternyata sampai saat ini pun aku kadang masih mengalaminya" dia hanya mengelaknya, wajahnya yang merah, sempoyongan dan tangannya berpegangan pada lenganku.

Hebatnya lagi, bahkan di kota seperti ini, Kak Touko telah menyatakan, "Aku tidak percaya dengan adanya hantu!" Dan memaksakan dirinya sendiri untuk meyakinkan hal itu.Dia hanya menutupi wajah dan ketakutannya dengan melihat kearaah semak-semak sepanjang jalan.Kulihat hidungnya masih memerah.

"Aku tidak pernah mendengar bahwa kau punya keseleo sebelumnya "

Aku menggendong tasku dan tas kak Touko dibahu ditangan kiriku.Dan tangan kananku, aku menggunakannya untuk membantu Kak Touko berjalan.Ketika aku menghela nafas dan menatapnya, dia hanya memalingkan wajahnya sama seperti yang kubayangkan.

"Aku minta maaf, aku benar-benar kakak kelas yang buruk" katanya.

Mungkin aku sudah terlalu keras padanya, tapi....tidak, jika dia kubiarkan terus seperti ini, dia pasti hanya akan semakin sombong.

"Jika kau menyadari itu semua, kenapa kau tidak menjauh dari hal-hal gila seperti ini? Walaupun dadamu itu rata, kau ini masih seorang gadis kau tahu, jadi---ow!"

Ekspresi Kak Touko tiba-tiba berubah, dan dia mencubit pipiku dengan keras.

"Kejaam! Itu pelecehan! Kau harusnya lebih menghormati orang yang lebih tua darimu, Konoha. "

Dia menarik pipiku, dijepit di antara ibu jari dan telunjuknya.

"Owwww. Dan Aku rasa, Kau harusnya memiliki lebih banyak pertimbangan untuk orang yang lebih muda daripada dirimu. "

“Aku bisa berjalan sendiri sekarang. Kau boleh pergi."

"Tapi, jalanmu masih terhuyung-huyung."

"Setelah belokan itu, aku hanya harus berjalan satu atau dua menit lagi untuk sampai kerumah. Aku akan baik-baik saja. "

Dia mengerutkan bibirnya dan berbalik dengan cepat.

"Kau jahat!"

Kami mendengar suara melengking seorang gadis disekitar.

"Kau anggap aku apa, Ryu?"

"Ya, mari kita dengarkan! Kau harus memilih, dia atau aku? ”

"Hei! Jangan pura-pura kau tidak dengar! "

Kedengarannya seperti beberapa orang sedang berkelahi di belokan yang berikutnya.

Kak Touko dan aku mengintip ke sekeliling dan melihat tiga gadis sedang mengelilingi seorang anak laki-laki, mereka saling berteriak di bawah lampu jalan.

Ketiga gadis itu marah dan saling beradu mulut:

“Aku yang pertamakali mengencani Ryu!”

“Menjauh dari pacarku! ”

“Apa katamu!”

Sepertinya bocah itu hanya punya tiga pilihan.Tapi meskipun itu kesalahannya, dia tidak melakukan apa pun untuk menghentikan gadis-gadis itu.

Senyum tersungging di sudut bibirnya, dan dia hanya melipatkan kedua tangannya dengan santai.Dia tinggi dan berbahu lebar, tubuhnya sangat bagus yang menandakan bahwa dia mungkin seorang atlet atau sesuatu yang lain.Pakaian dan gaya rambutnya juga kasual.Dia terlihat seperti seseorang yang akan membuat semua gadis-gadis tergila-gila padanya.Apakah dia seorang mahasiswa?

"Dengar, bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain saja? Berada di sini hanya akan membuatku dalam masalah.Kita sekarang berada tepat di sebelah rumahku loh. "

Ketika anak lelaki itu mengatakan itu, aku merasakan ada sentakan dingin di bagian belakangku.

Aku menoleh dan melihat Kak Touko menggertakkan giginya, mengumpulkan amarahnya untuk alasan yang tidak diketahui.

Eh? Tunggu, apa? Kenapa Kak Touko marah?

Aku mulai panik karena ketidaktahuanku.

Kak Touko mengambil tasnya dari tanganku dan melangkah maju.

Tapi, Kak Touko— bagaimana dengan keseleomu?

Matanya terbakar dan dia mengangkat bahunya, dan semua itu lenyap di hadapan amarahnya. Dia langsung menuju sekelompok gadis yang sedang berdebat tersebut.

Kemudian tasnya melengkung di atas kepala anak lelaki itu dan dia berteriak,

“Ryuto! Rasakan ini!"

"Urk — Kak Touko!"

Mata anak lelaki itu tersentak saat kak Touko mengayunkan tasnya tepat ke kepalanya.

Terdengar bunyi gedebuk saat tas dan kepalanya bertabrakan.  Gadis-gadis di sekitarnya tersentak.

Aku hanya bisa ternganga melihatnya.

"Aku tidak percaya, kau!  Seberapa sering ku katakan kepadamu untuk tidak memulai perkelahian di dekat rumah ini?  Apa yang akan para tetangga pikirkan jika mereka melihat ini semua? Dan sekarang Kau membawa tiga orang lagi kesini! Bagaimana bisa kau sangat menyukai para gadis. Bukankah Kau tidak memiliki sedikitpun kesetiaan? "

Anak lelaki itu jatuh ke tanah, dan Kak Touko memukuli kepalanya dengan kedua tangannya dan wajahnya terlihat sangat marah.

Gadis-gadis itu ketakutan karena ekspresi dari Kak Touko.Aku segera berlari ke arahnya dan menangkap lengannya dari belakang punggungnya.

"Berhenti, Kak Touko! Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi Kau tidak boleh memukuli orang sembarangan. Kau harus tenang atau Kau akan menyakiti kakimu lagi. "

"Jangan ikut campur, Konoha!"

Kak Touko mengibaskan tanganku dan menoleh ke arah gadis-gadis itu dengan tatapan dingin.

“Kalian akan jauh lebih baik berada di rumah membaca karya-karya lengkap Natsume Souseki daripada berdebat tentang seorang pria yang tidak berharga seperti ini.Mulailah dengan koleksi cerita pendeknya yang saling berhubungan, 'Mimpi Sepuluh Malam!' 'The estetika', cerita fantasmagoric memiliki rasa anggur yang sudah matang. Minumlah sendiri kekonyolan pada aroma yang tak tertandingi dan kehangatan kalimat puitis akan menyelinap ke tenggorokanmu! Kau akan bersyukur karena Kau dilahirkan dinegara ini.Setelah kau selesai membaca itu, Kau harus melanjutkannya ke trilogi pertamanya. Emosi yang lebih kuat sedang menunggumu disana. "

Mulut gadis-gadis itu terbuka ketika dia mengatakan itu dengan sangat serius.  Kemudian Kak Touko meraih telinga anak laki-laki itu dengan menjewernya di telinga.

"Kita akan pulang sekarang, Ryuto."

"Adu-du-du-duh!  Berhenti, berhenti, berhenti-sakit kak Touko! "

Seperti itulah, dia menyeret anak lelaki itu pergi, meskipun anak lelaki itu lebih besar dan lebih kuat darinya, dia terus menyusuri jalan yang diterangi cahaya bulan.

"A-apa yang baru saja terjadi?"

"A-aku juga tidak tahu.Apa itu trilogi pertama? "

"Pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana gadis itu tahu Ryu!"

Aku berdiri dalam keheningan yang mengejutkan di samping para gadis itu ketika mereka bergumam.

Bagaimana Kak Touko tahu lelaki itu?

Pagi berikutnya, Aku pergi ke sekolah seperti biasanya.

Sepanjang jalan, Aku melihat ada kepang panjang seperti ekor kucing yang berayun keluar dari balik tiang listrik.

"Selamat pagi Kak Touko..."

Kak Touko muncul dengan malu-malu, menundukkan kepalanya dengan wajah merah, memegang sebuah buku bersampul terbuka di tangannya.

"Selamat pagi, Konoha."

Sepertinya dia sudah menungguku.Ada warna kemerahan di pipinya saat dia menundukkan kepalanya.

"Aku minta maaf tentang kejadian kemarin.Kau cukup baik sudah mau mengantarku pulang, tapi kemudian aku lepas kendali dan lupa tentanmu... Aku benar-benar minta maaf. "

Kak Touko tampaknya merasa benar-benar bersalah tentang itu.Dia tampak seperti khawatir bahwa aku akan marah padanya, dan dia terus mengintip ke arahku dari balik salinan Atsushi Nakajima's Legend of Moon Mountain.Nyatanya dia datang untuk meminta maaf padaku. tapi, ada sesuatu masih menggangguku.

"Siapa lelaki bernama Ryuto itu? Kalian sepertinya saling kenal cukup dekat. ”

Kak Touko menjawab dengan susah payah.

"Aku tinggal dengan sebuah keluarga, dan Ryuto adalah putra dari keluarga itu, jadi dia bisa dianggap seperti adik laki-lakiku."

“Kau tinggal dengan keluarganya? Apakah orang tuamu ada di kota monster? ”

Dia dengan cepat memukulku dengan tinjunya.

"Berhentilah memanggilku monster!"

Kak Touko cemberut, ekspresi nya berubah menjadi marah. karena dia mengatakan, itu akan melukai hati seorang gadis yang polos dengan menyebutnya seorang monster dan dia tidak tahu bagaimana aku bisa begitu kejam seperti itu.  Aku masih bertanya-tanya apakah orang tuanya benar-benar monster? dan di mana mereka berada? dan apa yang mereka lakukan setelah menitipkan putri mereka dirumah seseorang? dan apakah orang-orang yang tinggal bersama Kak Touko tahu bahwa dia suka memakan potongan buku? tapi Aku rasa Aku tidak bisa menanyakan hal itu.

Aku menyerah.  "Kita akan terlambat," kataku dan mulai berjalan.

"Tunggu aku!" Kak Touko bergegas mengejarku.

“Jadi menurutmu apa fenomena supranatural tadi malam itu ada?  Dan gadis itu ... "

Saat kami berjalan berdampingan ke sekolah, aku mengubah topik pembicaraan.  Kak Touko membuka mulutnya dan melipat tangannya.

“Itu pasti semacam trik.Aku akan mencari tahu."

"Apa? Kau masih ingin melanjutkan penyelidikannya? "

Aku heran, tapi Kak Touko menjawab dengan cepat,

"Tentu saja."

Di pintu masuk sekolah, dia melambaikan tangan dan pergi ke gedung kelas tahun ketiga.

"Aku akan menemuimu nanti, Konoha. "

Dia tidak kapok sama sekali!

Hari baru saja dimulai, dan Aku sudah kelelahan.Ketika Aku menuju ke ruang kelasku, teman sekelasku memanggilku,

"Pagi."

 Aku membalas salamnya.

"Oh.Pagi, Akutagawa. "

Akhir-akhir ini, Aku menghabiskan banyak waktu dengan Akutagawa di kelas.  Dia adalah pria yang sangat tenang, baik di dalam maupun di luar, tinggi dan pendiam.Dia tidak pernah mengatakan lebih dari yang dia butuhkan dan tidak pernah merasa emosi.Dia punya semangat teguh seperti pohon yang kuat, dan sangat mudah untuk berada di sekitarnya.Dia bukan seorang teman dekatku, tapi Aku menemukan jarak tertentu yang menyenangkan hari ini.

“Apakah kau mengerjakan PR matematika? Bolehkah Aku mencocokan jawabanku dengan jawabanmu? ”

"Tentu saja, silahkan."

Kami membuka buku catatan kami dan mulai berbincang.Lalu Akutagawa menepuk lenganku dan dengan halus menunjuk ke belakangku.

Aku berbalik dan melihat teman sekelas kami, Kotobuki. memperhatikanku dengan kesal.

Jangan lagi…

Kotobuki memiliki semacam kekesalan terhadapku dan selalu memelototiku seperti itu.Aku pernah mendengar dia mengatakan kepada beberapa gadis di kelas kami bahwa dia membenciku.Rupanya itu membuatnya tidak nyaman bahwa aku selalu tersenyum palsu dan disengaja sehingga tidak ada yang tahu bagaimana aku yang sebenarnya.

Tapi, apakah dia akan begitu gigih memberiku pendapat yang kotor hanya karena aku selalu tersenyum padanya? Lagipula apa yang telah Aku lakukan padanya?

Akutagawa memberi isyarat "dia sedang melihatmu" dengan matanya dan kemudian pergi dengan acuh tak acuh.

Kotobuki mengambil langkah ke depan, lalu kembali lagi satu langkah ke belakang.Lalu memain-mainkan kukunya yang terawat, memandang kearah lain.Tapi ketika dia menyadari Aku memandangnya, dia tersipu dan mendatangiku.

"Apa yang kau inginkan, Kotobuki?"

Dia mengigit bibirnya dengan kesal dan dengan singkat menjawab,

"Tidak ada."

Dia memiliki rambut coklat yang indah.Dia juga memiliki kaki yang panjang dan tubuhnya yang ideal dengan payudara yang besar, dia sangat populer dikalangan anak laki-laki di kelas kami.Rupanya mereka bahkan menyukai sikap kerasnya ini, itu karena mereka mengatakan bahwa dia juga menyembunyikan sisi yang lembut.Tapi aku belum pernah melihat Kotobuki melunak sebelumnya.

Aku tidak bisa membayangkan kalau dia selalu tersenyum manis untuk anak laki-laki yang disukainya.

"Jika Kau tidak menginginkan apa pun, maka Aku akan mengulas soal matematika."

“Dasar brengsek.Kau pikir akting seperti murid sempurna membuatku terkesan? ”

"... Apakah kau ingin mengobrol, Kotobuki?"

"T-tidak mungkin.Kenapa Kau mengatakan itu? Aku tidak akan pernah berbicara denganmu — aku hanya— ”

Kotobuki membuang muka dan kemudian bergumam dengan sedikit rasa takut,

“Kau datang ke sekolah dengan Kak Amano pagi ini, bukan? "

"Apa?"

“Jangan pura-pura bodoh.Kalian berdua datang bersama kan?. ”

Tatapannya menuju padaku lagi dan dia mencondongkan tubuh ke depan dengan tajam.

"Aku tidak sedang berpura-pura bodoh ... Aku hanya ingin tahu, bagaimana kau tahu itu?".

“Aku kebetulan melihatmu!Bukannya aku memperhatikanmu ya!Tetapi karena Kau datang dari arah yang sama, aku hanya berpikir apa tujuanmu datang bersama ... B-bukannya-a-aku peduli bahkan jika kamu melakukannya, tentu saja.Lagipula tidak ada yang peduli denganmu, Inoue. Tapi kak Amano Touko telah membantuku di perpustakaan, jadi aku berutang padanya dan sangat menghormatinya."

Itu membuatku lengah.

"Benarkah? Apa yang kau hormati dari dia? "

Apakah ada sesuatu tentang Kak Touko yang bisa dilihat oleh seorang adik kelas?

Kotobuki menjawab, wajahnya merah, “Dia membaca banyak buku, dan dia tahu hampir semuanya tentang perpustakaan.Dan dia tidak pernah sombong tentang betapa cantiknya dia.Dia itu baik. "

Hmmmmm

“Kenapa kau terlihat sangat curiga? Apakah ada yang salah denganku karena aku memperhatikan Kak Touko? " Kata Kotobuki.

"Ha-ha-ha ... kurasa tidak."

Terkadang lebih baik aku tidak mengetahui kebenarannya.Kak Touko beruntung karena masih ada orang yang memandangnya.

Senyumku sepertinya mengganggu Kotobuki, kemudian dia mendengus dan memalingkan muka.

"Ngomong-ngomong, aku hanya ingin tahu, kenapa Kak Amano datang ke sekolah bersamamu?."

"Kami bertemu satu sama lain di jalan, jadi kami datang bersama."

Sebenarnya bukan kebetulan sih, tapi Aku tidak mau repot menjelaskan semuanya secara detail.Aku hanya memasang muka datarku sebagai gantinya.

Kotobuki melirikku.

"Hmph.Baiklah kalau begitu."

Kemudian dia berbalik dan kembali ke kursinya.

Mungkin Kotobuki memiliki dendam yang sangat besar terhadapku karena dia iri bahwa Aku selalu dengan Kak Touko?

Aku tengah memakan makan siang yang dibuat oleh ibuku, dan kemudian kak Touko mendatangiku.

"Hei!  Konoha! "

Suaranya yang jelas terdengar dari pintu di bagian belakang kelas, dan dia melambaikan tangan padaku sambil menyeringai.

"Ada apa?"

Kotobuki sedang duduk bersama sekelompok temannya.Dia baru saja makan roti melon, tapi dia membeku dan menatapku sambil menutup bibirnya.Aku bisa merasakan tatapannya menusuk punggungku saat aku keluar menuju ke koridor.Mata Kak Touko berkilauan, dan dia meraih tanganku dengan gembira.

"Aku menemukan gadis yang tadi malam, Konoha."

"Kau apa?"

"Aku tahu dia bukan hantu!  Ayo!"

Kak Touko menyeretku bersamanya ke aula.

“Maksudmu, gadis bernama Kayano Kujo itu? Dan bisakah Kau melepaskan tanganku? Ini memalukan tahu. "

"Baiklah, baiklah." Kak Touko mencibir dan melepaskanku.

"Tapi ya, aku melihatnya keluar dari kamar mandi saat istirahat, dan aku mengikutinya." Kata kak Touko.

"Kau terdengar seperti seorang penguntit."

Kami berhenti di ruang kelas dua.Sekolahan ini adalah sekolahan yang cukup besar, jadi meskipun demikian, mungkin gadis itu dan aku sama-sama di tahun kedua, kelas itu cukup jauh dari kelasku.

"Itu dia."

Aku mengintip melalui pintu di belakang ruang kelasnya bersama Kak Touko.Ruangan itu penuh dengan keramaian saat istirahat makan siang, tetapi seorang gadis dengan rambut setengah panjang duduk di tengah-tengahnya sendirian.

Gadis-gadis lain telah memindahkan meja mereka bersama teman-temannya dan mengobrol dengan penuh semangat sambil memakan makan siang mereka.Dia adalah satu-satunya yang tidak makan siang di mejanya, dan dia bahkan tidak sedang membaca atau belajar.Dia hanya duduk dengan kepala sedikit menunduk, tidak menggerakkan tubuhnya, bahkan tidak berkedip, seperti benda yang terbuat dari kaca pucat.Apa yang bisa Aku lihat dari wajahnya dan anggota tubuhnya yang sangat kurus adalah identik dengan gadis yang kami lihat di halaman sekolah tadi malam.

"Aku benarkan?"

“Tapi dia sepertinya sangat berbeda.Bukankah dia tampak lebih bugar kemarin? "

"Dia bisa saja mengantuk karena dia keluar saat malam."

"Apa kau pikir seperti itu?"

Ketika kami berbisik pelan, gadis itu diam-diam berdiri. Tidak ada yang memperhatikannya.Dia pergi dengan ekspresi kosong dan melewati pintu depan ruang kelas.

"Apakah kau pikir dia memperhatikan kita?"

"Mana aku tahu."

"Ayo ikuti dia."

"Apa? Hei, Kak Touko— ”

Aku tidak percaya ini ... Aku mengikuti Kak Touko tanpa perlawanan.Gadis itu berjalan menyusuri lorong dengan langkah-langkah yang tidak stabil dan kemudian menuruni tangga.Kakinya mengintip ke bawah roknya seperti tangkai mungil yang menopang sebuah bunga putih.

"Menurutmu ke mana dia akan pergi?"

"Mungkin dia akan pergi membeli makanan?"

"Kalau begitu berarti dia salah jalan."

Sekitar setengah jalan menuruni tangga, Kak Touko berkata, "Bisakah kami bicara denganmu?"

Ketika gadis itu menuruni langkah terakhir, tubuhnya bergerak maju, dan dia terjatuh meringkuk dilantai.

Kami berdua berlari menuruni tangga dan membungkuk di atasnya.

Gadis itu meringkuk lemas, matanya terpejam.Dari dekat, kulitnya begitu pucat, dan tulang lehernya terlihat di leher seragamnya.

"Hei Bangun! Kau kenapa?"

Kak Touko berteriak padanya, tetapi gadis itu tidak membuka matanya.Dia seperti boneka yang talinya telah terpotong.

“Konoha, kau bagian situ.Kita harus membawanya ke UKS.Sekarang juga. "

"Oke."

Kami mengangkat gadis itu di kedua sisi, lalu kami berdiri.  Ketika Aku mengangkat badannya, Aku terkejut betapa lemah dan ringannya itu.Dia seringan Sterofoam.

Ketika Aku mengantar Kak Touko pulang malam sebelumnya, Aku tahu bahwa dia sangat ceroboh, Tapi gadis ini sudah melewati batas langsing atau terlalu kurus.Aku tidak bisa merasakan berat apa pun di tubuhnya, dan itu membuatku bertanya-tanya apakah ada sesuatu di dalam dirinya ataukah tidak sama sekali.

Ketika kami sampai diUKS di lantai pertama, perawat itu berteriak,

“Oh tidak lagi! Aku sudah memberitahunya lagi dan lagi bahwa dia perlu makan dengan teratur, tapi dia masih melanjutkan dietnya yang gila."

Kami meletakkan gadis itu di tempat tidur ketika wanita perawat diUKS itu bergumam.

Mata gadis itu terbuka lebar dan perawat itu menceramahinya dengan marah.

"Amemiya, ini adalah keempat kalinya kau dibawa kesini karena anemiamu [Catatan : Kekurangan zat sel darah merah].Aku sudah memberitahumu untuk makan dengan benar dan mengikuti menu yang Aku berikan, kan? Tapi lihatlah, lenganmu lebih tipis dari sebelumnya!Kau jauh lebih kurus dari yang seharusnya.Kau tidak boleh lagi kehilangan satu ons pun karena diet ini.Kau tidak harus melakukannya sekaligus, tapi Kau juga butuh makan. "

Gadis itu — Amemiya — duduk diam di tempat tidur, matanya tertunduk.

"Apakah kau mendengarku, Amemiya?"

"Ya ... aku minta maaf," bisiknya, tubuhnya yang kurus, lemah tak berdaya. Itu mengingatkanku pada binatang kecil yang lemah lembut.

"Aku akan memberimu beberapa vitamin.Aku ingin Kau memakannya sekarang juga. ”

Ketika perawat pergi ke kamar sebelah, Amemiya bangkit dari tempat tidur dan terlihatlah kakinya, mungil seperti kaki bayi yang memakai sepatu putihnya.

Dia memandang kami dan menundukan kepalanya.

“Terima kasih telah membawaku ke sini.Maaf sudah merepotkan. "

Dia tampak di ambang memudar dari kenyataan.Dia gadis yang sangat berbeda dari malam sebelumnya.Aku bingung.Kak Touko juga tampak bermasalah.

"Um, Amemiya? Namaku Amano Touko.Aku anak kelas ketiga.Ini Inoue Konoha, dan dia seorang siswa kelas kedua.  Aku rasa kita pernah bertemu denganmu tadi malam di halaman sekolah. "

Amemiya menjawab pertanyaan dengan tatapan kosong.

"Tidak."

“Ya, kami berbicara dengan seorang gadis yang terlihat persis sepertimu kemarin.  Namanya Kayano Kujo. ”

Amemiya tersentak.

"Kau mengenali nama itu, bukan?"

Kak Touko mencondongkan tubuhnya ke depan.

Wajah Amemiya kehilangan semua warnanya dan bibirnya bergetar.Dia tidak mau berbicara.

Perawat kembali membawa sebuah pil.

“Baiklah, sekarang kau harus minum ini.Dan makan makananmu juga. "

Amemiya menerima pil itu dengan tangan kurusnya dan mulai meninggalkan ruangan.

 "Tunggu! Apakah kau benar-benar bukan gadis yang kita temui? ”

Bahu tipis gadis itu bergetar lagi.Tanpa mendongak, Amemiya bergumam, “Aku rasa ... Kau pasti bertemu dengan hantu diriku. "

Napas Kak Touko terengah-engah.Aku merasa seolah-olah pada saat itu udara telah membeku.

Lagipula aku sudah mati.

Kata-kata Kayano menggema di benakku sekali lagi.

Apakah itu berarti bahwa Amemiya dan Kayano adalah orang yang sama? Mungkinkah Kayano adalah hantu yang merasuki dia? Kata hantu ada di catatan yang dia tinggalkan untuk kami juga. Itu adalah membencimu dan itu menyakitkan ...

Apakah hantu yang merasuki Amemiya juga menulis angka-angka misterius itu?

Amemiya tidak mengatakan apa-apa lagi kepada kami.Dia menggigit bibirnya dengan kencang dan menundukkan kepalanya; lalu dia meninggalkan UKS.

No comments:

Post a Comment

Lari, Melos!

Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...