Satu minggu telah berlalu sejak kami menyelamatkan Takeda di atas atap.
Itu adalah hari di bulan Juni. Hujan musim semi yang berkabut telah membasahi tanaman, dan sepulang sekolah.
Takeda membawa laporan yang sudah diselesaikannya dan datang ke ruang Klub Sastra.
"Masuklah. Aku telah menunggumu."
Kak Touko pergi ke perpustakaan, jadi aku menerima laporan itu di tempatnya.
"Wah, ini sangat tebal. Kau pasti sudah berusaha keras. "
"Ehehe, mulai sekarang aku banyak menulis. Kau tahu, Kak Konoha, di ruang bawah tanah tempat penyimpanan buku, kau mengatakan kepadaku
menulis tidak akan mengubah apapun, kan? "
Takeda menatapku dengan gembira.
"Itulah yang kupikirkan juga. Tapi sejak aku menulis laporan ini, aku merasa tulisan ini sangat membantu. Sangat memiliki efek terhadapku! "
"Yeah, mungkin."
Cerita yang ditulis Miu--- semuanya membuatku merasa sangat hangat dan segar.
Ketika dia memasukan tulisannya yang lengkap ke dalam amplop, Miu juga memiliki ekspresi bahagia di wajahnya.
Hari-hari itu tidak pernah bisa kulupakan.
Jadi, seperti kata Takeda, mungkin tulisan memang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.
"Oh, ya, Kak Konoha, kau bilang dulu kau adalah perempuan ?"
"Ehhh, itu-itu-"
"Saat di atap bukankah kau bilang kau dulu adalah seorang bishoujo yang misterius. Jangan katakan bahwa kau memiliki gangguan jenis kelamin atau transgender? Atau apakah kau seorang ratu? "
"Uwaaaaaaah, itu, itu-"
"Kak Touko juga mengatakan bahwa dia memakan buku-buku perpustakaan. Aku sangat penasaran, apa maksudnya itu? "
"It-It-It-It-Itu hanya akibat dia gugup dan mengoceh tanpa berpikir.Aku mohon padamu! Tolong lupakan itu semua ya! "
Wajahku menjadi merah padam, dan aku mulai panik. Takeda menatapku, lalu wajahnya berubah menjadi ekspresi seolah dia mengerti. Senyuman muncul di wajahnya.
Ini mungkin ini adalah ekspresi sebenarnya Takeda, dia tidak pernah menunjukkan ekspresi ini sebelumnya.
"Baiklah, aku mengerti. Setiap orang memiliki sesuatu yang memalukan sehingga mereka tidak ingin orang lain tahu kan. Aku akan menyimpan rahasia ini di dalam hatiku. "
"Terima kasih."
Aku lega. Rahasiaku akhirnya tidak terbongkar, akan sangat buruk jika orang lain mengetahui tentang rahasia Kak Touko.Wartawan TV dan pakar monster tak dikenal pasti ingin mendapat jawaban yang lebih tentang dia.
"Kak Konoha, bisakah aku menyimpan surat cinta yang kau tulis untukku?"
"Eh? Kau masih memilikinya? "
Takeda tertawa polos seperti yang selalu dilakukannya.
"Ya. Aku menyimpan semua surat itu di kotak penyimpanan favoritku, dan menjaganya dengan sangat baiku. "
Wah, aku merasa sedikit malu. Tapi karena Takeda setuju menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri, aku tidak punya pilihan selain setuju
"Tapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan pernah menunjukkannya kepada orang lain."
"Eheh, aku akan memperlakukan mereka sebagai harta paling berharga untukku."
Dia menitipkan salam untuk Kak Touko; Setelah dia bilang dia akan kembali kesini lagi untuk bertemu dengan kami berdua, dia pergi.
Aku duduk di kursi dan mulai membaca laporan dari Takeda.
Suara hujan yang lembut disertai suara halaman kertas yang berpindah.
Suara yang nyaman, seperti lagu pengantar tidur di rahim seorang ibu, berbunyi dengan lembut.
Hujan telah berhenti tanpa aku sadari. Matahari terbenam telah mewarnai ruang klub seperti emas yang bersinar.
Sudah berapa lama berlalu?
Aku tertunduk dari membaca laporan. Tiba-tiba aku merasakan gatal di punggung dan leherku seolah ada sesuatu yang menyerupai ekor kucing yang sedang bergelayut. Dengan tidak sadar aku meraihnya
dengan tanganku
(?)
Benda yang bergelayut bukan ekor kucing; Ini adalah salah satu kepangan Kak Touko.
Aku melihat ke sisiku. Entah kapan, tapi Kak Touko sudah kembali dari perpustakaan. Dia, Rupanya memindahkan kursi ke belakang tempat dudukku, dia duduk di atasnya, menyandarkan tubuh bagian atasnya ke depan, dan membaca laporan itu denganku dari balik bahuku
(Wah!)
Kak Touko mungkin sedang sangat memperhatikan pada laporan itu. Jari telunjuk kanannya menyentuh
bibirnya. Dia melihat buku itu dengan ekspresi melamun. Bahkan saat aku mencengkeram
kepangannya dia bahkan tidak menyadarinya.
Tidak hanya itu, Kak Touko mencondongkan tubuh ke depan terlalu dekat. Pipinya nyaris menyentuhku. Alis matanya yang berkedip-kedip dengan cahaya emas. Jarak kami begitu dekat sehingga jika aku bersandar sedikit saja, aku bisa menciumnya.
"Ka, Ka, Ka, Ka- Ka- Ka- Ka- Kak Touko"
"Cepat Balik ke halaman berikutnya, Konoha."
Apa itu,
Mata Kak Touko terpaku pada laporan itu saat dia berkata dengan lembut di telingaku.
"Itu, tapi, ini-"
"Cepat ..."
Dia benar-benar terserap olehnya. Sekarang setelah dia berada dalam keadaan seperti lupa daratan, apapun yang aku katakan akan dia abaikan.
Telinga gadis sastra ini tidak mendengar kata-kataku lagi.
"Y-Ya."
Aku menyerah juga; Aku kembali membaca laporan itu.
Saat aku menikmati aroma harum warna ungu dari Kak Touko, aku merasakan kehangatan tubuhnya, aku membiarkannya lembut.
Kepangannya menempel di leherku, bersama dengannya di ruangan ini, ditambah dengan menjelang matahari terbenam, kita membaca Laporan Takeda bersama.
Saat matahari terbenam, warna keemasan samar berubah merah dan merah, akhirnya kami selesai membaca.
Kak Touko dengan ringan mendesah.
Lalu dia menyadari bahwa wajahku merah dan tubuhku membeku kaku, dia dengan cepat mundur
dariku.
"Ya, kya! Maaf!"
Dengan refleks dia tersentak mundur. Kursinya, tertekan oleh kekuatan mendadak, berbalik ke belakang. Sekarang
Dia kehilangan keseimbangannya, dia juga terjatuh ke belakang--- dia terjatuh dan menghadap langit-langit.
"A-"
"Hnnn, bokongku menabrak tanah ..."
Dengan roknya membalik ke belakang pahanya, mata Kak Touko dipenuhi air mata.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Bokongku sakit ..."
Dia meluruskan roknya dan berubah menjadi posisi duduk.
Saat matanya bertemu denganku, dia mulai tersipu malu. Tapi tidak lama kemudian dia
berubah menjadi ekspresi lembut dan tersenyum padaku.
"Tapi ... Sepertinya Takeda sudah baikan sekarang. Ini bagus sekali. "
Aku tersenyum juga.
"Ya."
Aku menarik tangan Kak Touko dan membantunya berdiri.
Dengan hormat aku menyerahkan laporannya kepadanya.
"Kalau begitu, ini dia yang bisa kau nikmati, milady."
Kak Touko, diterangi matahari terbenam, dengan anggun berjalan ke kursinya. Dia duduk, lebih
sopan daripada biasanya, dan menerima laporan tersebut secara resmi.
"Selamat makan."
Sambil tersenyum ia melihat laporan itu, lalu mulai membaca halaman pertama.
Kapan pun dia menyelesaikan sebuah halaman, dia akan merobek halaman itu, dan mengunyahnya bagian ujung catatannya.
"…Pahit,"
Dengan sedikit cemberut, dia bergumam. Meskipun demikian tetap saja, gigitan demi gigitan, dikunyahnya perhalaman dan kemudian menelan mereka.
"Pahit sekali…"
Laporan ini mungkin jauh dari kata cemilan manis dan manis yang dia harapkan.
Kulitnya yang cantik, seragam, dan kepangnya, semuanya dipenuhi dengan warna matahari senja.
Bahkan jika matahari terbenam di bawah cakrawala, saat malam berlalu, matahari akan kembali terbit. Pada saat diatap, Kak Touko mengatakan ini pada Takeda.
'Tidak masalah betapa menyakitkan atau sedihnya pengalaman itu, besok pasti akan berubah secara drastis.'
Sama seperti ini, saat kami menyambut kedatangan setiap hari baru; Mungkin kami bisa berangsur-angsur berubah.
Bahkan luka-luka yang kami pikir mungkin tidak akan pernah sembuh; Mungkin mereka akhirnya akan sembuh.
Pada hari itu, Miu terjun dari atap. Bukankah akan bagus jika dia bisa berada di suatu tempat, dan tertawa juga.
Bahkan jika kami tidak pernah bisa bertemu lagi, selama dia, di bawah langit matahari terbenam ini, bisa tersenyum ditempat lain ...
Itu mungkin hanya angan-anganku.
Aku membuka tumpukan kertas yang terikat dan mulai menulis.
Kak Touko, yang terus memakan laporan itu, bertanya kepadaku-
"Apa yang kau tulis?"
"Ini sebuah rahasia."
"Hei, Konoha ... cobalah menulis novel suatu hari nanti. Novelmu..., kau harus membiarkan aku membacanya. "
Kak Touko tiba-tiba mengatakan itu. Jantungku berdegup kencang.
Aku mengangkat kepalaku, dan melihat senyum hangat Kak Touko.
Dia tidak tahu tentang masa laluku yang memalukan, bukan?
Jadi, itu mungkin salah satu komentarnya sendiri.
Kak Touko mengalihkan pandangannya kembali ke makanannya.
Aku juga terus menulis di tumpukan kertas.
Apakah akan ada hari, ketika aku akan memegang pena lagi untuk sebuah novel? Apa yang akan aku tulis??? Saat ini, aku tidak tahu.
Tapi untuk hari ini, aku akan menulis cerita yang manis untuk Kak Touko.
Ini akan menjadi makanan penutupnya setelah dia menyelesaikan memakan cerita pahit itu.
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...
No comments:
Post a Comment