Sunday, 10 November 2019

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Jiwa Yang Lapar Bagian 3

>>>>>

Dia mengayunkan sebuah sekop pada kuburan tempat dia beristirahat. Kilau petir yang menggelegar menerangi bentuk badannya yang basah dalam kegelapan, dan hujan turun membasahi kulitnya seperti pelembab.

Rambutnya tersapu oleh angin yang kencang, dan dengan mata merahnya Dia berteriak.

"Kayano! Kayano! Kembalilah padaku!"

"Aku akan membalikkan aliran waktu jika itu bisa membuatku bertemu denganmu lagi, aku akan menghidupkan mu kembali!"

Pemakaman seperti hutan tak berujung tempat orang-orang yang sudah mati, tapi hanya ada satu jiwa yang dia cari. Keringat dan hujan turun dari rambutnya sampai alisnya, dan matanya. Dia terus menggali kuburannya, Dia adalah orang yang dicintainya.

Ya, ini bukanlah akhir.

Dia telah mengkhianatinya, telah menghancurkan hubungan indah mereka, hingga hancur menjadi debu. Dia telah dengan kejam menertawakan harapannya. Dia tidak pernah menghargainya. Sementara itu, jiwanya telah dirobek dan terus berpura-pura. Dia tidak akan pernah mengerti betapa dalamnya keputusasaan dan kebenciannya.

Aku tidak akan pernah memaafkanmu karena telah meninggalkanku.

Sampai balas dendamnya selesai, dia tidak akan pernah bisa tenang.

"Bangun, Kayano!" 
"Setengah dari jiwamu memanggilmu dari atas makammu!"
"Buka peti matinya dan merayaplah keluar dari bumi yang gelap dan dingin!" 
"Kau adalah miliku! Seluruh tubuhmu, suaramu, rambutmu, bibirmu, dan juga jiwamu! "

>>>>>

"Hmm. Hotaru Amemiya, Huh?"

Pelajaran sudah berakhir dihari itu.Kak Maki datang ke halaman sekolah untuk melihat bagaimana reaksi Kak Touko (atau lebih tepatnya, untuk mengejek dia karena telah melihat hantu), setelah Kak Touko memberitahunya seluruh cerita yang terjadi dimalam sebelumnya, bibirnya melengkung menjadi senyuman yang tidak terduga.

"Aku, Aku, benar-benar iri padamu, Touko."

"Apa maksudmu?"

Kak Touko menatap Kak Maki, jelas dia berharap menyuruhnya untuk pergi. Kak Touko terus menatapnya tanpa gentar, dan aku bersamanya, sebuah buku fisika terbuka di pangkuanku.Tapi yang bisa kupikirkan hanyalah, Ujian diminggu depan ...

"Apakah kau kenal dia, Maki?"

“Dia satu tahun di bawahku di SMA. Kami berada di klub seni yang sama. Dia sangat pendiam, jadi Aku hampir tidak pernah berbicara dengannya.  Tapi ada rumor tentang Hotaru Amemiya. "

"Rumor yang lain?" Kak Touko menatap tajam.

"Kau belum dengar? Siapa pun yang dekat dengannya pasti akan terkena kutukan. ”

“Kutukan—?” Suara Kak Touko tercekat, dan bahkan aku mendongak tanpa sengaja.

Kak Maki menatap sadis ke wajah Kak Touko yang tegang dan kemudian melanjutkan pembicaraannya.

"Tepat sekali. Hotaru Amemiya cenderung menemukan dirinya di pusat peristiwa supernatural.  Hal-hal buruk juga terjadi pada  orang-orang yang terlibat dengannya, dan itu adalah hal-hal yang membahayakan hidup mereka.Kalian berdua harus hati-hati.Meskipun, mungkin saja Kau sudah terkena kutukan itu? "

Kak Touko menggelengkan kepalanya dengan kuat dan berdiri.

"Apa kau serius? Mungkin Kau bisa menakuti anak SD dengan cerita hantu, kutukan dan semua omong kosong yang tidak berguna itu tapi tidak untukku. Jelas Amemiya tahu sesuatu tentang Kayano Kujo.  Ketika Aku bertanya  tentang hal itu di UKS, dia mengatakan kepadaku bahwa itu adalah arwahnya, tetapi jika Aku membiarkannya membuatku takut dan menyerah, Aku akan kehilangan kehormatan dari para alumni klub Sastra. Ya! Jadi bagaimana jika dia dikutuk? Aku ini seorang gadis sastra, dan Aku sudah membaca sampul Legenda Tono legenda Kunio Yanagita dari awal hingga akhir! ”

"Sombongnya," canda Kak Maki sambil bertepuk tangan.

Aku telah mengambil kesimpulan bahwa Aku tidak bisa lagi terlibat dalam hal ini, jadi Aku menutup bukuku dan berdiri.

"Bersiaplah, Konoha? Kita akan berjaga malam ini dan menangkap Kayano Kujo dan kemudian kita akan membuktikan bahwa semua ini adalah kebohongan ... Hei, kau mau pergi kemana? Konoha? "

"Aku mau ke kamar mandi."

"Dengan tasmu?"

"Aku ingin memastikan alisku lurus dan memperbaiki perona pipiku."

Ketika Aku berjalan pergi, Kak Touko berteriak setelah itu,

“Tidak mungkin! Kau tidak memakai riasan, bukan? Hei, apa yang kau tertawakan, Maki? T-tidak! Dia tidak akan meninggalkanku. Benar kan, Konoha?  Kau akan kembali, kan? Janji!  Hei, apa kau mendengarku?  Konoha!  Konohaaa! ”

Tentu saja, Aku tidak punya niat sedikit pun untuk kembali.

Aku akui, sebenarnya aku juga bertanya-tanya tentang hubungan antara Kayano Kujo dan Hotaru Amemiya.Peristiwa malam kemarin telah mengukir kesan yang tak terlupakan ke dalam kepalaku, dan Kata-kata Amemiya sangat dalam dengan penuh makna. Aku juga memiliki rasa ingin tahu sebanyak orang lain.

Tapi Aku tidak mau terlibat dalam kerumitan ini, melebihi dari yang sudah Aku lakukan sebelumnya. Yang terpenting dari semua itu, ujian tengah semester sebentar lagi.Kegiatan klub seharusnya ditunda sampai ujian dilaksanakan. Kak Touko mungkin akan menyerah dan segera pulang.

Ketika Aku bergegas melewati halaman sekolah, seorang gadis yang berada di kelasku ditahun lalu datang berlari ke arahku dengan beberapa gadis lain dan tampak senang.

“Konoha!  Kaukah itu!"

Hah? Apa ini?

"Ada pria super tampan yang sedang mencarimu. Cepatlah!"

Dikelilingi oleh sekelompok gadis yang terkikik, aku bergegas pergi tanpa penjelasan. Aku melewati Kotobuki dalam perjalanan, dan dia melihatku lewat dengan mata terbelalak. Ketika kami sampai di gerbang sekolah, pria yang Kak Touko pukul hingga jatuh ke tanah berdiri di sana.

"Yo. Ingat Aku?"

"Kau Adiknya Kak To—"

"Ryuto Sakurai. Senang bertemu denganmu, Konoha. ”

Dia menundukkan tubuh raksasanya untuk menyambutku dan kemudian menyeringai pada para gadis.

“Muchas gracias for bringin him. Sampai jumpa. ”

Dia memberi gadis-gadis itu kedipan mata;  kemudian dia meraih lenganku dan mulai berjalan.

"Ayo pergi ke suatu tempat yang lebih tenang. "

Aku mendengar gadis-gadis itu menghela nafas panjang lebar di belakang kami dan bergegas untuk berbicara.

"Tunggu sebentar, kau—"

“Panggil aku Ryuto.Kau lebih tua dariku. "

"Aku?"

Sekarang dia terlihat lebih sopan, Aku menyadarinya karena dia mengenakan pakaian jalanan kemarin malam, tapi hari ini dia mengenakan seragam sekolah.Lambang itu untuk sekolah SMA anak laki-laki didekat sini. Dan jika dia lebih muda dariku, itu berarti ...

"Kau Kelas satu?!"

“Tentu saja.Aku baru saja lulus tahun lalu. "

Dia berada di SMP tahun lalu— dengan tubuh seperti itu ?!  Dan sekarang setelah dia menjadi kelas satu di SMA, dia tiga kali lebih tinggi dan memiliki banyak kekasih di jalan di malam hari? Siapa sebenarnya orang ini?

“Apakah kau butuh sesuatu dariku? Bagaimana kau tahu namaku? "

“Kak Touko selalu membicarakan tentangmu di rumah.Hari ini Konoha menulis kepadaku kisah ini dan itu;  dia menulis kepada Aku itu; itu manis;  itu pedas;  pahit;  asin. Seperti itulah. "

Aku menarik napas dan aku malu karena Kak Touko banyak bercerita tentangku.

"Kau sudah tahu bahwa Kak Touko suka makan cerita?"

Ryuto menatapku dan ujung mulutnya bergerak-gerak.

"Tentu saja.Kami tinggal  bersama.Setiap pagi untuk sarapan, dia makan buku cerita anak-anak seperti Guri and Gura atau The Children of Noisy Village. Dia menceritakan semuanya tentang buku itu, lalu merobeknya hingga habis."

Ketika Aku mendengar itu, Aku merasa seolah-olah kemarahan tanpa nama telah menusuk hatiku.Itu terlihat tidak bagus ... bagaimana jika orang lain tahu rahasia Kak Touko? Lalu, bagaimana jika dia mengenalnya lebih baik daripada aku? Tapi entah kenapa perutku merasa melilit.

Dengan hati-hati aku melepaskan lenganku dari genggamannya.

"Apakah kau makan buku juga?"

"Bagaimana menurutmu?"

Bibir maskulinnya yang indah tersenyum. Matanya seperti hewan buas, dan ketika Aku melihat matanya, Aku merasa hati dan tubuhku menyusut. Itu mirip dengan bagaimana Kak Maki membuatku takut.

“Bagaimana kalau kita mencari sesuatu untuk dimakan? Maka Kau akan tahu apakah Aku suka makan cerita seperti Kak Touko atau tidak. "

Tempat yang ia pilih adalah restoran cepat saji yang didekorasi terlihat seperti sebuah bar. Tabel pesanan dan kursi-kursi terbuat dari kayu berwarna cokelat gelap, dan papan dart tergantung di dinding.

Sesampai di sana, Ryuto memesan hamburger setebal enam inci ditumpuk dengan timun, selada,jamur, dan keju; sekantong kentang goreng ditaburi dengan kemangi;  dan soda ukuran besar.

"Ini dia, Ryu."

"Terima kasih, Harumi."

Seorang gadis yang lebih tua yang tampaknya dikenalnya membawakan hamburgernya, dan dia menyalakan lilinya.  Kemudian dia meletakan makanannya.

Dia membuka mulutnya lebar-lebar, mengoleskan saus merah di sudut mulutnya, dan menelan dengan lahap lalu meraup kentang goreng sebesar jempolnya ke mulut.

Roti panggang Perancis dan teh herbal yang Aku pesan tidak tersentuh sedikitpun di atas meja, Aku hanya menatap Ryuto saat dia makan.

Kak Touko mampu makan hal-hal yang sama dengan yang kita makan. Dia bisa menggigit makanan dan menelannya, tetapi dia mengatakan kepadaku bahwa itu sama sekali tidak ada rasanya, sama seperti jika kita mencoba untuk makan kertas.

Konsep "manis" dan "pedas" Kak Touko tidak sepenuhnya sama dengan konsep kami, karena dia tidak tahu seperti apa kue atau pai apel.Dia hanya menggunakan imajinasinya untuk menggambarkan rasa antara makanan yang kami makan dan apa yang dia rasakan di buku sehingga dia bisa menelannya.

Mm. pasti seperti inilah rasanya pai apel hangat dengan krim kocok.

Jadi fakta bahwa Ryuto melahap hamburgernya dengan semangat seperti itu tidak berarti dia adalah manusia biasa juga.Bisa saja itu hanyalah akting.

Tapi…

"Apakah kau tidak akan memakannya? Akan Jauh lebih enak ketika masih hangat loh. "

"... Kau menantangku."

Dia hanyalah manusia normal seperti kami semua yang makan roti dan minum air. Dia telah memancingku, dan Aku mengikutinya sepenuhnya.

"Itu tidak bagus.Yang Aku lakukan hanyalah bertanya apakah Kau ingin mendapatkan sesuatu untuk dimakan. "

Dia benar-benar sangat mirip Maki— sama seperti saat dia bisa tersenyum dan yang berbeda hanyalah lengan bajunya.

Aku tidak percaya ini, setelah mencoba melarikan diri dari Kak Touko, tapi kemudian Aku diculik oleh adik yang hidup bersamanya.Aku punya firasat buruk bahwa aku akan terjebak dalam semacam masalah.

Aku memasukkan garpu ke sepotong roti panggang Perancisku dan bertanya dengan marah,

“Jadi? Apa yang kau inginkan?  Apakah ini tentang Kak Touko? "

"Nah, ini tidak ada hubungannya dengan dia. Sebenarnya, kau harus tetap sembunyi darinya. ”

Dia menyeka saus dari mulutnya dengan ibu jari lalu menjilatnya.

"Ada seorang gadis yang aku suka di sekolahmu. Apakah Kau bisa membantuku? "

No comments:

Post a Comment

Lari, Melos!

Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...