Aku telah hidup dalam rasa malu.
Aku bahkan tidak pernah tahu bagaimana kehidupan seorang 'manusia'. Aku lahir di sebuah desa di sebelah Timur laut, dan saat itulah aku melihat kereta untuk pertama kalinya. Aku sering sekali naik turun jembatan yang berada distasiun, bahkan akupun tak tahu kalau fungsi dari jembatan itu adalah untuk menyebrangkan seseorang dari satu sisi ke sisi lainnya.Yang aku tahu adalah bahwa jembatan
itu dibuat hanya untuk menambah nilai kecantikan agar membuat stasiun utama menjadi tempat yang sangat indah dan menyenangkan, terutama untuk tempatku bermain.
Aku tetap berada di bawah lamunanku yang lumayan begitu lama, bagiku itu adalah hiburan tersendiri untukku.Tapi memang aku akui naik turun jembatan adalah pelayanan paling hebat yang
disediakan oleh stasiun. Dan kemudian, aku akhirnya mengetahui bahwa jembatan itu tidak lebih sebagai alat pelengkap saja,Itu membuatku kehilangan minat terhadapnya. Sekali lagi, ketika aku masih kecil, aku melihat foto-foto kereta bawah tanah di dalam sebuah buku, tak pernah terpikir olehku bahwa kereta-kereta itu telah diciptakan hanya untuk mempermudah manusia; aku hanya bisa mengira bahwa naik kereta di bawah tanah adalah hal yang berbeda dengan yang berada di permukaan, menurutku itu hampir seperti didalam novel dan itu adalah hal yang paling menakjubkan.
Waktu aku kecil, aku memang sering sakit-sakitan hingga membuatku harus selalu terbaring dikasurku.Seringkali, ketika aku tidur dikasurku , aku biasanya berpikir, apa yang membuat motif dari bantal dan seprai hingga terlihat sangat menarik. Tak sampai sekitar dua puluh detik untukku menyadari bahwa mereka sebenarnya diciptakan untuk tujuan kepraktisan, dan ini semua tercipta dari
kebodohan manusia yang menimbulkan depresi yang gelap terhadapku.
Dan lagi, aku tak pernah tahu apa arti dari rasa 'Lapar'. Memang benar aku ini dibesarkan di sebuah keluarga kaya dan besar, tapi yang kumaksud bukanlah itu. Maksudku, aku benar-benar tidak tahu akan sensasi dari rasa 'lapar'.Memang kedengaran
aneh ketika aku mengatakannya, tetapi itu memang benar, aku bahkan tak pernah menyadari
bahwa perutku kosong.Ketika aku pulang dari sekolah, orang-orang di rumah akan
sangat meributkanku. "Kau pasti lapar. Kami tahu rasanya betapa laparnya yang kau rasakan
saat kau pulang dari sekolah. Bagaimana kalau beberapa permen jelly? biskuit dan kue juga ada. " Dengan berpura-pura senang, sama seperti yang selalu aku lakukan, aku akan bergumam bahwa aku lapar, dan kemudian aku memasukkan selusin permen jelly ke dalam mulutku.Tetapi, apa yang mereka maksud dengan rasa 'Lapar' benar-benar tak kumengerti sama sekali.Tentu saja, walaupun aku makan banyak sekali makanan, tapi tetap saja aku hampir tidak ingat pernah melakukannya
karena kelaparan. Hal-hal yang tidak biasa atau boros mulai terjadi padaku.Ketika aku pergi ke rumah orang lain, aku hampir melahap semua makanan yang ada di hadapanku, walaupun itu membutuhkan sedikit usaha. Sebagai seorang anak, bagian yang paling menyakitkan untukku adalah waktunya makan, terutama di rumahku sendiri.
Di dalam rumahku yang besar, ada beberapa anggota keluarga — semuanya berjumlah sekitar sepuluh orang — makan bersama, berbaris dalam dua baris menghadap ke meja. Karena aku adalah anak bungsu, otomatis aku duduk di paling ujung. Ruang makannya agak gelap, dengan pemandangan sepuluh orang atau lebih anggota keluarga memakan makan makanan mereka.Apapun yang mereka makan, dalam kesunyian yang suram ini sudah cukup untuk membuatku menggigil kedinginan. Selain itu, ini adalah rumah besar yang lumayan kuno di mana makanan itu sudah ditentukan lebih atau kurangnya, sia-sia untukmu mengharapkan makanan yang tidak biasa atau lebih.
Aku selalu ketakutan ketika makan setiap harinya.Aku akan duduk di sana, di ujung meja dengan cahaya lampu ruangan yang cukup redup, tubuhku gemetar karena kedinginan, aku akan mengangkat beberapa potong makanan ke mulutku dan mendorong mereka masuk. "Kenapa manusia harus makan tiga kali setiap harinya? Sungguh luar biasa khidmat wajah yang mereka buat ketika menyantap makanan mereka! Tampaknya ini adalah semacam ritual. Tiga kali sehari seluruh keluarga berkumpul di ruangan suram ini.Semuanya ditata dalam urutan yang tepat dan rapih.Walaupun kita lapar atau tidak, kami akan mengunyah makanan kami dalam diam, dengan mata tertunduk.
Siapa yang tahu?
Mungkin ini adalah doa untuk mengusir segala arwah yang sedang mengintai di sekitar rumah. . ." Saat aku memikirkannya, aku benar-benar ingin membuang jauh-jauh pikiran seperti itu . Makan atau mati, itulah kata pepatah, tapi di telingaku itu terdengar seperti sebuah ancaman untukku . Jangan pernah percaya takhayul (begitulah aku menganggapnya), itu selalu menimbulkan keraguan dan ketakutan padaku. Sangat sulit bagiku untuk mengerti, itu begitu membingungkan, dan pada
saat yang sama, akan ada sebuah komentar dengan nada mengancam, "Manusia bekerja untuk mendapatkan sepotong roti, jika mereka tidak makan, mereka akan mati. "
Dengan kata lain, kau mungkin akan mengatakan bahwa aku masih belum memahami apa-apa tentang manusia.Aku sangat khawatir ketika mengetahui bahwa konsep kebahagiaanku tampaknya sangat berbeda jauh dengan semua orang, begitu jauh hingga membuatku tidak bisa tidur dan merintih malam demi malam di tempat tidurku. Itu benar-benar hampir membuatku gila. Aku khawatir jika aku mempunyai kebahagiaan. Orang-orang pernah memberitahuku, lebih daripada yang aku ingat saat terakhir kali, sejak aku masih kecil, betapa beruntungnya aku, tapi aku selalu merasa menderita seperti di neraka. Nyatanya, mereka yang menyebut aku beruntung, ternyata jauh lebih
beruntung daripada aku. Aku terkadang berpikir bahwa aku telah dibebani dengan sepuluh kemalangan, salah satunya yang jika ditanggung oleh tetanggaku mungkin akan cukup
untuk membuatnya bunuh diri.
Aku tak mengerti. Aku tidak memiliki
petunjuk seperti apa sifat atau tingkat kesengsaraan yang akan tetanggaku dapatkan. Masalah nilai guna, kesedihan yang hanya bisa diredakan hanya jika disana ada cukup makanan — ini mungkin sama halnya dengan berada didalam neraka yang terbakar, cukup mengerikan hingga membuatku meledak hingga hancur berkeping-keping, tapi itulah tepatnya apa yang membuatku tak mengerti: jika tetanggaku berhasil bertahan hidup tanpa bunuh diri, tanpa menjadi gila,
terus mempertahankan ketertarikannya pada partai politik, tidak menyerah pada keputusasaan, dengan tekun terus berjuang untuk bertahan, apakah kesedihan mereka benar-benar asli? Apakah aku salah ketika berpikir bahwa orang-orang ini telah menjadi egois, yang sepenuhnya mementingkan diri sendiri dan sangat yakin akan normalitas akan cara hidup mereka sehingga tidak pernah meragukan diri mereka??.
Jika itu masalahnya, penderitaan mereka seharusnya
mudah untuk mereka tanggung: mereka adalah manusia biasa, dan mungkin yang terbaik sehingga bisa diharapkan. Aku tak tahu .. Bila kau tidur nyenyak di malam hari, mungkin di pagi hari akan sangat mengasyikkan, itulah yang aku kira. Mimpi macam apa yang mereka punya? Apa yang mereka pikirkan ketika mereka berjalan disepanjang jalan? Uang? Mungkin tidak — Bisa jadi bukan hanya itu. Sepertinya aku pernah mendengar sebuah teori yang mengatakan
bahwa manusia hidup untuk saling menjaga dan memelihara, tetapi aku tidak pernah
mendengar ada yang mengatakan bahwa mereka hidup untuk mencari
uang. Tidak. Namun, dalam beberapa kasus. . . . Tidak aku bahkan tak tahu itu. . . . Semakin aku memikirkannya, semakin tak ku mengerti. Yang aku rasakan hanyalah pertentangan yang berkecambuk dan teror pada pemikiranku bahwa aku adalah satu-satunya orang yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Hampir mustahil bagiku untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Apa yang harus aku bicarakan, bagaimana aku harus mengatakannya? — aku benar-benar
tak tahu.
Inilah kenapa aku menjadikan diriku sebagai badut.
Itu adalah cara terakhir yang aku lakukan untuk menunjukkan rasa cintaku kepada manusia. Meskipun aku memiliki rasa takut kepada mahluk yang disebut manusia, aku terlihat tidak bisa diam jika berada di keramaian.Aku berhasil mempertahankan senyum palsu yang
tidak pernah meninggalkan bibirku; ini sangat membantu ketika aku bersama dengan orang lain, sesuatu yang paling berbahaya yang dilakukan olehku walau didalam diriku terasa sangat tersiksa.

No comments:
Post a Comment