"Yummm."
Kemudian dia mengunyah potongan kertas itu lagi, lagi, dan lagi ...
Dengan sangat hati-hati, dia merobek sedikit kertas berisi tulisan tangan dari sebuah pulpen mekanik didalamnya, dan kemudian meletakannya dimulutnya. Dia mengunyahnya dengan sebuah suara tegukan dikerongkongannya sebelum kemudian menelannya dengan pelan.
"Aku sangat bersemangat ... Ini sangat manis," gumamnya penuh semangat, wajah kecilnya terkulai ke depan. Tapi tiba-tiba dia meringis, dan kebingungan memenuhi matanya yang bulat dan hitam.Wajahnya perlahan memerah. Keringat terlihat di dahinya, dan saat potongan terakhir telah melewati kerongkongannya, Kak Touko melompat dari kursi lipat logamnya.
"PEDAAASSSS !!"
Rambutnya yang panjang dan tipis melayang di udara seperti ekor dari kucing hitam, air matanya berlinang dan mengalir dari matanya, dia berpegangan pada sandaran kursi saat dia berkata dengan nada mencela , “I-ini sangat pedas. Lidahku terasa seperti dicabut. Bola mataku seperti akan menembakkan api. Hidungku seperti akan jatuh dari wajahku. Konoha! Kisah ini memiliki bumbu yang terlalu banyak di dalamnya.”
Aku menutup buku catatanku dan menyimpan pensilku. Dan dengan tenang aku menjawab, “Jangan salahkan aku. Hari ini Aku mendapat topik 'kebun apel', 'ayunan bunga', tetapi kemudian 'mesin cuci otomatis'? Itu sudah pasti bentrok. "
Kak Touko lebih menyukai kisah improvisasi, yang mana merupakan cerita dari tiga topik cerita untuk cemilannya.
Setiap kali aku pergi ke ruang klub sepulang sekolah, Kak Touko sudah menungguku dengan stopwatch perak di tangannya.
“Oke, Konoha, topik hari ini adalah 'Pesta Crowsmas', 'Menara' dan 'Bocah Virgo.' Jadikan itu cerita yang sangat manis, oke? Kau memiliki waktu lima puluh menit.Mulai!"
Wajahnya berseri-seri, tidak ada setitik kekhawatiran pun terlihat saat dia menekan stopwatch peraknya.
Setelah selesai, Kak Touko akan merobek cerita yang telah aku tulis menjadi potongan-potongan kecil dan meletakannya dimulutnya. Kemudian dia mulai mengoreksi segalanya, mengunyah dan melahap semuanya.
"Nyam - nyam ... Bagian tengahnya tampak agak hambar. Mungkin kau harus mencoba menggunakan kalimat yang lebih pendek dan melihat apakah konfliknya sedang meningkat atau tidak. Oh! Adegan terakhir begitu enak dan lezat — rasanya seperti puding mangga. ”
Gadis ini satu kelas di atasku, Monster kelas tiga yang suka makan cerita. Dia akan memakan setiap kata-kata yang tertulis dengan senang hati, baik itu tulisan tangan atau dicetak dalam sebuah buku, sama seperti halnya kau dan aku makan roti atau minum air. Kemudian dia akan dengan senang hati melepaskan pengetahuannya yang luas tentang apa yang baru saja dia makan.
Bahkan, jika aku memanggilnya "Monster," dia akan cemberut dan marah.
“Jangan panggil aku monster! Aku hanya seorang gadis sastra biasa yang sangat mencintai semua buku didunia dan menaruh semuanya diperutku. "
Rambutnya yang panjang dan tipis menjuntai sampai ke pinggangnya; mata hitam jernih dan berkilaunya; kulit putihnya; sosoknya yang ramping, lekukan tubuhnya --jika dinilai dengan ketat berdasarkan fitur permukaan, Kak Touko bisa jadi adalah seorang gadis sastra yang cantik: seorang wanita muda yang sangat sempurna dengan warna ungunya.
Tapi nyatanya, dia itu adalah ketua klub yang sangat merepotkan -- pelahap cerita yang banyak bicara, serba ingin tahu, dan ingin sekali menancapkan hidungnya ke segala hal (Note : Ingin mencoba segala hal yang ia temui).
"Hhhh ... lidahku masih kesemutan. Aku mengharapkan kisah cinta pahit yang akan membuat hatiku sakit. Tetapi kau malah menulis sebuah kisah di mana seorang anak lelaki masuk ke mesin cuci otomatis dan terbang menuju kebun apel di ujung bumi, dan kemudian setiap kali dia mengayunkan ayunan bunganya, apel berbentuk wajah manusia di atasnya mulai menjerit dan jatuh ke tanah.Bwah! Aku melahapnya karena aku berpikir rasanya akan seperti pai apel dan krim tart, tapi bukannya apel, itu malah diisi dengan sebuah mie dengan kuah warna merah cerah, dan bukannya kayu manis yang ditaburkan di atasnya, rasanya malah seperti taburan cabai bubukkk! ”
Dampak dari kepala apel yang berjatuhan itu ternyata cukup kuat hingga hidungnya masih memerah dan dia meringis.
"Yang aku lakukan hanya menulis apa yang Kau suruh. Jadi jangan salahkan aku."
"Kau benar-benar berhati dingin, Konoha! Kau mungkin terlihat seperti Tuan Muda Fauntleroy, tetapi di dalam dirimu sebenarnya adalah Nona Minchin dari A Little Princess! "
“Perbandingan macam apa itu? Aku tidak memiliki rambut pirang ataupun mata besar, dan Aku juga tidak pernah memakai kemeja seperti itu juga. "
Kak Touko menghela nafas. "Mungkin beberapa cerita pendek dari Aiken cukup untuk menghilangkan rasa yang mengerikan ini. 'A Necklace of Raindrop 'mungkin bagus atau' There's Some Sky In This Pie 'atau mungkin' The Three Traveler ’! Itu pasti akan sangat, sangat, sangat lezat! ”
Dia menyelipkan kedua kakinya di antara kursi lipatnya dan mengayun-ayunkannya, memeluknya sambil bersandar dengan dadanya .Apa yang sedang kau lakukan Kak Touko, Aku pikir, kau saat ini seperti anak kecil yang membuat ulah di toko karena Kau menginginkan sebuah mainan.
Ya ampun, Aku menawarkan kepadanya,
“Aku punya 'The Three Traveller'. Itu tentang tiga petugas di stasiun kereta di padang pasir yang mogok, dan kemudian masing-masing dari mereka melakukan perjalanan, kan?"
Itu membuat wajah Kak Touko bersinar. Dia mulai berbicara dengan penuh semangat.
"Yap betul sekali. Joan Aiken adalah seorang penulis cerita anak-anak Inggris yang lahir pada tahun 1924. Serialnya The Wolf of Willoughby Chase adalah roller coaster yang sangat menarik dan sangat tajam seperti kue jahe buatan ibu bagi anak-anak. Aku merekomendasikannya, cerpennya sangat segar dan enak juga! 'The Three Travellers' sama seperti halnya buah segar. Jus Jeruk yang penuh dengan warna keemasan, jeruknya yang menyegarkan, dan berkilau. Ini seperti kau meminum jus yang dingin nan menyegarkan yang tumpah dilidahmu! "
Bulu matanya yang panjang terkulai ketika matanya tertutup, dan lehernya memanjang, bergumam dalam khayalannya. Ketika dia berbicara tentang makanannya, Kak Touko terdengar sangat bahagia.
Ruang klub kami terletak di sudut barat lantai tiga disekolah. Dulunya tempat ini adalah sebuah ruang penyimpanan, dan ada gundukan buku-buku tua tertumpuk di sepanjang dinding. Di ruang kecil ini yang tersisa hanya sebuah meja kayu tua dengan permukaannya yang sudah lapuk.
Sinar matahari menyinari ruangan dari barat saat matahari terbenam. Aku akan duduk di kursi dan meja tua di ruangan yang berdebu ini, warnanya keemasan seperti halnya tuangan madu, dan juga ada beberapa lembar kertas dengan pensil mekanik ku.
Sementara itu, Kak Touko menekuk kakinya di atas kursi lipatnya, lututnya terangkat ke dadanya— menunjukkan sedikit sekali kepeduliannya terhadap tata krama — dia membalik halaman-halaman buku dengan ekspresi khayalannya diwajahnya. Kadang, dia diam-diam akan memandang ke arahku sesekali untuk memeriksa perkembangan cemilannya, lalu tersenyum bahagia dan kemudian kembali membaca.
Hanya ada dua anggota di Klub Sastra, yaitu Aku dan Kak Touko, dan aku telah menulis cemilan Kak Touko selama lebih dari satu tahun.
Kak Touko menghela nafas. “Sekarang aku hanya ingin makan Aiken. Oh Aku tahu!"
Mata Kak Touko tersentak terbuka, muncul dari fantasi yang telah dibangunnya, dan kemudian dia bersandar maju dengan seringai.
"Mungkin ada surat rasa sirup yang menunggu kita di kotak surat di halaman sekolah."
Dia berbicara tentang kotak surat yang telah dia letakan tanpa izin sama sekali, yang mana bertuliskan “Kami akan membantu tentang hal percintaanmu. Bagi siapapun yang berminat, silakan kirimkan surat kepada kami. Dari, Klub Sastra. ” Itu tidak lain adalah sebuah masalah.Kak Touko tidak bisa mengendalikan diri ketika mendatangi makanan favoritnya — tulisan tangan adalah satu-satunya cerita kisah cinta manis yang lebih disukainya. Untuk mendapatkan rasa manis itu, dia menawarkan untuk memberikan cinta kepada siapa pun yang datang kepadanya untuk meminta bantuan dan kemudian dia akan meminta laporan yang merinci tentang perasaan murni si klien sebagai bayarannya. Dia adalah
tipe orang yang tidak mempunyai upaya terlalu besar dalam mengejar makanan manisnya itu.
Aku hanya berharap dia akan berhenti melibatkanku dalam segala masalahnya.
"Aku tidak mau menulis surat cinta lagi, paham?" Peringatku tegas, tapi dia tidak memperhatikan.
"Tentu saja."
Dia berdiri dari kursi lipatnya dan tanpa bicara apapun, dia berlari untuk memeriksa kotak surat dengan langkah yang ceria.
Ya ampun ...
Ditinggal sendirian di ruangan ini, aku menghela nafas. Angin bertiup masuk melalui jendela yang terbuka, mengepakkan kertas di atas meja kayu yang tua.
Musim panas tahun ini lebih dingin daripada sebelumnya dan jauh lebih cepat berlalu. Aku bersyukur, itu karena ruang klub tidak memiliki AC. Semoga Kak Touko tidak akan menyeretku, dan membuatku berkeringat karena kerja keras dimusim panas.
Aku menatap awan putih yang melayang melewati tirai, mengepul dan membengkak karena angin, sampai kemudian Kak Touko akhirnya kembali, dia berlari kearahku.
“Ini berita buruk! Baca ini, Konoha! ” Dia meledak, menyebarkan kertas-kertas yang dipegangnya di seluruh bagian meja berwarna teh.
Kak Touko telah kembali dengan membawa secarik kertas kecil yang dirobek dari buku catatan perguruan tinggi. Bentuk mereka semua berbeda dan ujung-ujungnya yang kasar. Ada tulisan pensil yang dicoretkan pada kertas-kertas itu.
'benci--bantu aku-- hantu itu --aku takut-- lenyap'
Aku melihat potongan catatan-catatan kecil kertas yang kasar itu, dan mataku melebar. Aku sangat terkejut.
Ada beberapa lembar kertas yang hanya berisikan deretan angka.
4-5
25-27-3-28-4-5-10-28-25-4-28-2-5-12-21
13-24-5-28-17-3-28-25
25-28-20-5-4-27-10-28-4-21-21-20-28-24-21-17-12-21-4
"Aku ingin tahu apa arti angka-angka ini," kata Kak Touko dengan tatapan seriusnya, dia mengerutkan wajahnya.
“Empat melambangkan kematian, jadi jelas‘ 4-5 'berarti 4 (kematian), 5 (menemukanmu). Seseorang telah mengeluarkan tantangan kepada kita."
Sejenak aku dibiarkan kagum pada proses penalarannya. Kemudian Aku sadar.
"Tahan. Tidakkah Kau pikir Kau melewatkan sesuatu? Mungkin, ini hanya lelucon atau sesuatu yang berlebihan seperti tantangan? Dan berhentilah mengatakan 'kita.'
"Apa yang kau katakan, Konoha? Bahkan jika itu hanya lelucon, kita tidak bisa mengabaikan penjahat yang membuang sesuatu yang tidak menggugah selera — maksudku, pengecut dan tidak bersemangat seperti ini — ke dalam kotak camilan berhargaku — eh, kotak surat suci milik klub Sastra! Ini adalah pertempuran untuk keberlanjutan keberadaan Klub Sastra.Apakah Kau akan tahan dengan dipilihnya hanya karena ada kita berdua? Kita harus mengajari mereka bahwa klub Sastra mungkin sedikit jumlahnya tetapi kaya akan semangat! "
"Ketika kau mengatakan pertempuran ... apakah kau berencana untuk melawan mereka?"
"Yap benar sekali. Dan jika itu yang terjadi, Aku akan mengalahkan dan membunyikan genderang kekalahan mereka. "
Uwooh. Dia terbawa suasana lagi, seperti biasa. Aku tahu fantasi itu semakin kuat dipikiran Kak Touko sekarang. Ketika dia menjadi seperti ini, Gadis Sastra yang satu ini tidak akan bisa membantu.
"Sebentar lagi aku ada ujian tengah semester, jadi Aku akan pulang saja."
Aku dengan cepat mengumpulkan barang-barangku dan mulai pergi, tetapi Kak Touko menjepit kedua tangan di lenganku seperti hendak mengunci pergerakannku.
"Tidak mungkin. Kita harus mengawasi halaman sekolah mulai sekarang. Ini adalah pesanan langsung dari Ketua, Konoha. "
Dada Kak Touko menempel di lenganku. Dia begitu datar, sehingga aku sangat sedih, dan itu membuatku bertanya-tanya apakah dia benar-benar berada di tahun terakhir sekolah menengahnya. Pada saat itulah dia memenangkan rasa ibaku, dan Aku menghentikan diriku dari genggamannya. Itu adalah situs kekalahanku.
Aku akhirnya menghabiskan beberapa hari berharga yang tersisa sebelum ujian tengah semester dengan Kak Touko di halaman sekolah.
Lalu…
"Hei! Mereka menaruh satu lagi di sini! "
Saat itu pukul tujuh pagi. Halaman sekolah basah oleh hujan dimalam sebelumnya.
Mengintip disamping pohon tua di satu sudut, setengah terkubur oleh semak-semak, ada kotak surat monster—rasakan itu, kotak surat saran cinta.
Kak Touko mengerang. “Urgggh. Kami di sini satu jam lebih awal dari siapapun. Dan kami tetap tinggal sampai jam enam sore dari kemarin.
"Mungkin dia meletakannya di malam hari."
Aku pikir catatan menyeramkan itu hanya sekali terjadi saja, tetapi sangat mengejutkan mereka datang setiap hari setelah itu.
Mereka bertuliskan hal yang hampir sama: benci, bantu aku, hantu itu. Kata-kata seperti itulah yang muncul. Dan beberapa deretan angka yang sama sekalu tak bisa dipahami ...
"Angka-angka ini sering muncul: 25, 28, 20, 5, 4, 27, 10, 28, 4, 21, 21, 20, 28, 24, 21, 17, 12, 21, 4. Aku ingin tahu apa artinya ini? "
Kak Touko mengerutkan alisnya, dengan saksama dan tenang dia menjawab,
"Yang ini berarti, 25 (untuk menemukanmu), 28 (untuk memakanmu), 20 (aku pergi), 5 (menemukanmu), 4 (untuk), 27 (untuk mengirimimu), 10 (lalu), 28 (memakanmu), 4 (memaksa), 21(untuk membiarkan Aku menang), 21 (lagi), 20 (banyak), 28 (Aku akan memakanmu), 24 (dan kemudian memaksamu), 21 (untuk membiarkan Aku menang),17 (tidak akan mengirimimu), 12 (bukan kalian berdua), 21 (untuk membiarkan Aku menang), 4 (selamanya). Lihat?"
"Aku tidak mengerti."
“Kamu perlu sedikit lebih banyak belajar membaca, Konoha. Intinya, kata-katanya, ‘Aku akan mengirimimu catatan-catatan ini dan kemudian menemukanmu dan memakanmu sehingga Aku bisa menang selamanya! '"
“Sekarang Aku lebih mengerti sedikit. Kau yakin membacanya bukan? "
"Apa maksudmu? Apa Kau meragukan Ketuamu? Aku ini seorang gadis sastra kau tahu! Aku sudah membaca setiap kata dari Christie dan Queen dan juga Jiro Akutagawa. "
Aku tidak yakin kalau cerita Jiro Akutagawa begitu serius ... Tidak, Aku sama sekali tidak peduli terhadap itu.
"Kalau begitu cepatlah simpulkan siapa yang melakukan kejahatan ini. Ada ujian tengah semester minggu depan, Kau tahu. Aku ingin cepat-cepat pulang dan segera belajar. "
“Konoha, ada hal-hal yang lebih penting untuk dipelajari saat kau masih di sekolah daripada rumus matematika ataupun simbol kimia. "
"Dasar sesat."
Kami mengawasi sambil berjongkok di semak-semak halaman sekolah saat fajar menyingsing, kepala kami menunduk dan saling berbisik, benar-benar tidak jelas dan bodoh.
"Tidak! Ini Sangat tidak benar!"
Saat itu jam makan siang, dan aku bergegas membawa Kak Touko meskipun dia menentangku. Kami berkunjung ke aula musik sekolah. Sebuah Bangunan mewah, yang terdiri dari auditorium besar yang bahkan bisa dihadiri seribu orang dan beberapa aula yang lebih kecil, Bangunan ini milik Klub orkestra sekolah. Klub Orkestra memiliki banyak anggota dan bahkan telah memenangkan banyak kompetisi, dan itu sangat berbeda jauh dengan klub sastra — yang mana hanya bertemu di sebuah ruang penyimpanan dan nyaris tidak aktif sama sekali.
Ketua klub orkestra sekolah adalah seorang gadis dirijen bernama Maki Himekura, yang selalu tertawa terbahak-bahak saat dia mendengarkan cerita kami.
“Wow, apa benar itu yang terjadi? Dan sudah berapa lama Kau berjaga-jaga di pagi hari dan setelah pulang sekolah? Kau tentunya pasti sangat berdedikasi. "
Ada jendela-jendela yang dipasang di atap kubah bangunan, dan sinar matahari musim panas menembus dan menyinari ruangan hingga membuatnya tampak terang benderang. Ada beberapa sketsa dan lukisan cat cair tergantung di dinding, dan di tengah ruangan ada kanvas yang disangga di atas kayu tiga kaki.
Kak Maki duduk, menyilangkan kakinya dengan anggun sambil masih memegang kuasnya. Dia sedikit berbentuk, rambut panjangnya yang menyebar seperti gelombang emas dalam cahaya, sosoknya yang melengkung persis seperti wanita pads umumnya — tidak seperti Kak Touko — cara bicaranya hampir tidak seperti kebanyakan orang. Rupanya ibunya berasal dari negara lain, dan Kak Maki bisa dikatakan bahwa dia adalah Blasteran.
Dia sebenarnya ingin bergabung dengan klub seni, jadi dia menghabiskan sebagian besar waktu istirahat dan sore harinya hanya dengan menggambar sendirian di ruang kerjanya yang ada didalam gedung musik. Dia adalah cucu dari Kepala sekolah — Itulah alasan mengapa dia mendapat perlakuan khusus — dan karena, dia juga memiliki kontak dan koneksi di mana-mana, dia adalah orang yang tahu akan semua informasi.
"Kau seharusnya datang padaku segera. Aku akan memeriksanya. Jangan berpura-pura jadi orang asing, Touko. "
Ketika tatapan mengejek Kak Maki melihat kearahnya, Kak Touko menggigit bibirnya dengan sedih. Sebelum dia bisa mengatakan apa-apa, aku tersenyum sopan dengan wajah lelaki terbaikku pada Kak Maki.
"Kami tahu kami bisa mengandalkanmu, Kak Maki."
Kak Touko memelototiku dengan tidak setuju. Aku yakin dia pasti berpikir wajahku memberitahukan kalau Aku tidak bisa mengandalkannya.
Di sisi lain, senyum Maki sedikit melembut.
"Yap, itu karena aku sumber informasi yang sangat diperlukan oleh semua alumni dan juga mereka teman-temanku. "
"Lalu jika kau bisa—"
Aku mencondongkan tubuh ke depan, tetapi Kak Maki membalas dengan nada manis,
"Tapi Aku punya satu syarat sebelum Aku memberi tahu siapa yang menaruh catatan-catatan ini. Aku rasa Kau sudah tahu apa itu, Touko? ”
Wajah Kak Touko memerah merah padam saat itu juga sampai ke telinganya. Dia menggelengkan kepang panjangnya dan berteriak,
"Kau ingin aku berpose telanjang untukmu, kan? Aku menolak!"
Ya, Kak Maki mengatakan bahwa dia sudah memperhatikan Kak Touko sejak mereka mulai sekolah di sini, tapi aku pikir dia akan jauh lebih baik melihat ke cermin dan menggambar diri telanjangnya daripada berjuang keras untuk menggambar dada rata Kak Touko. Aku rasa orang benar-benar mempunyai kekurangannya masing-masing.
Kak Touko mengepalkan tangannya dengan ganas, dia marah.
“Inilah kenapa Aku tidak ingin datang menemuinya. Yang dia lakukan hanyalah bertindak seperti bos yang semena-mena, membuatku mabuk, kemudian melecehkanku di sebuah pesta dan mencoba untuk membuatku melepas pakaianku. Aku seorang gadis sastra yang sangat cantik dan lugu. Aku sangat sederhana, tidak seperti Maki. Aku ini lily putih malu-malu. Hanya karena kita berdua perempuan tidak berarti aku akan melepas pakaianku untuknya. "
Apakah bunga lili putih duduk dengan kaki ditarik ke atas di atas kursi lipatnya, atau mengangkang dan mengayunkan kakinya kembali, ataupun mengunyah buku di depan orang?
"Kalau begitu.Aku tidak dapat membantumu. Sayang sekali, ”jawab Maki tanpa perasaan.
Aku menjadi egois. "Eh, mungkin kita bisa menyelesaikannya dengan cara lain?"
“Konoha! Jangan tunduk padanya! Kau memiliki kakak kelas yang menarik dan bisa Kau andalkan di sini! ”
Kak Touko meraih lenganku dan mulai berjalan, Ayo pergi! tak terucapkan.
Ugh, apakah kita harus melakukan pengintaian lain? Ujinan tengah Semester minggu depan.
"Maaf sudah mengganggumu," kata Kak Touko dengan gugup ketika dia mencapai pintu.
Maki tersenyum nakal dan berkata, “Kau tahu, bisa jadi itu adalah hantu asli yang telah menulis catatan-catatan misterius itu. Ada hantu yang berkeliaran di halaman sekolah setiap malam, menuliskan sebuah angka. Itulah apa yang Aku dengar dari para alumni. "
"Kau tidak boleh percaya terhadap apa yang dia katakan kepada kita, Konoha. Yang namanya hantu itu tidak ada. "
Setelah sepulang sekolah — sebenarnya, di malam hari — bintang-bintang berkedip di langit.
"Yosh baiklah. Bisakah Aku pulang sekarang, Kak Touko? Sekarang sudah pukul sembilan. "
"Tidak, kita tidak boleh bergerak satu langkahpun malam ini sampai pelakunya menunjukkan diri."
Mata Kak Touko tertuju pada kotak surat saat dia berjongkok rendah di atas trotoar yang dipenuhi semak-semak di bawah bayangan.
"Kita akan menangkapnya dan membuktikan pada Maki bahwa hantu itu tidak ada."
Kak Maki telah memberi tahu kami bahwa lebih dari sepuluh tahun yang lalu ada kisah hantu yang menulis angka di dinding laboratorium biologi atau meja di ruang geografi.
"Mereka ditulis dalam tinta cair, jadi mereka hilang dan Kau tidak bisa melihatnya lagi,".dia berkata. “Tapi ini adalah cerita hantu terkenal yang mereka ceritakan di sekolah ini untuk waktu yang cukup lama. Bukankah para alaumnimu pernah menceritakannya padamu? Oh maafkan Aku. Aku lupa, Klub Sastra kan tidak punya alumni. "
Kak Touko sangat menyukai Klub Sastra, dan komentar itu tampaknya telah melukai harga dirinya.
"Kita harus terus berjaga-jaga sepanjang malam, Konoha!" Dia menyatakan itu dengan segera setelah kami meninggalkan ruangan musik. Itu menakutkanku, tetapi dia benar-benar tampak sangat bersemangat untuk mengintai tempat itu sampai pagi.
"Ada Moster yang suka makan cerita, jadi, itu berarti hantu juga ada kan? Anggap saja itu hantu dan ayo pergi dari sini. "
Aku ingin pulang sesegera mungkin, tetapi ketika Aku memberikan isyarat ini, dan bagaimana caraku agar segera pergi, Kak Touko menatapku dengan keganasan yang luar biasa.
"Aku bukan Monster! Aku hanya seorang gadis Sastra biasa yang baru saja makan bukunya sendiri. Bahkan jika aku memberitahumu aku seorang Monster — yang bukan Aku — Aku tidak ingin disatukan dengan hal-hal seperti hantu. Sangat murahan ketika ternyata itu semua hanyalah mimpi atau karena hantu. Itu semua salah. Aku tidak percaya dengan adanya hantu. "
Apakah Kak Touko memiliki sesuatu terhadap hantu? Tiba-tiba Aku ingat bagaimana dia menekankan suatu hal jika Aku bertemu hantu, Aku harus menaburkan garam di sekitarku.Bagaimanapun keadaannya, sepertinya Aku tidak bisa pulang dalam waktu yang dekat. Hancur sudah ujianku ...
Ibuku mengira aku sedang belajar di rumah seorang teman. Setelah aku selesai membersihkan sekolah, Aku meneleponnya di telepon umum di sekolah dan menjelaskan, “Aku akan pergi belajar untuk ujian di rumah teman sekelasku. Apa? Namanya? Seorang pria bernama Akutagawa. Jadi aku mungkin akan terlambat pulang. "
"Jadi, kamu punya teman yang dekat denganmu? Aku senang."
Dia sangat bahagia.
Sejak mulai SMA, Aku tidak pernah bergaul dengan teman-temanku, jadi dia mungkin mengkhawatirkanku. Dadaku sakit karena rasa bersalah. Selain itu, Aku berbohong tentang belajar, sebenarnya yang aku lakukan hanya bermain detektif-detektifan dengan Ketua Monster Klub Sastraku.
Maaf, Bu. Dalam upaya untuk belajar, setidaknya sedikit, Aku pasti akan membuka buku PR- matematikaku dan mulai mengerjakan, masalahnya adalah disini hanya ada cahaya bulan dan lampu jalan.
"Kau terlihat sangat serius, Konoha."
"Bukankah kau seharusnya mengikuti ujian kuliahmu tahun ini?"
"Aku belajar dengan sangat baik di kelas. Aku pasti akan baik-baik saja," katanya dengan angkuh, dan mendekatkan wajahnya yang kecil kearahku, dia mengintip buku PR-ku. Rambutnya yang panjang menjuntai di bahunya yang tipis, dan aroma violet yang samar menggelitik hidungku.
"Jika ada pertanyaan, tanyakan saja padaku."
Dia berbicara dengan nada ramah seperti seorang tutor yang sukarelawan untuk membantu, mengangkat dagunya sedikit, matanya bersinar terang. Tapi begitu dia melihat rumus yang Aku tulis di buku, dia tersedak.
"... Ya ampun, kau sedang mengerjakan masalah sesulit ini? Apakah kau di kelas lanjutan atau sesuatu yang lain, Konoha? Apakah kau diam-diam mencoba untuk masuk ke Universitas? "
"kita sama sekali tidak punya kelas lanjutan di sekolah kita. Selain itu, ini adalah hal yang mudah. Kau telah mempelajari semua ini tahun lalu, kan?"
“Um ... benarkah? Soalnya Saat pelajaran Matematika dan Ilmu pengetahuan teknologi Aku tidak benar-benar begitu memperhatikan. "
Kak Touko membuang muka dengan tiba-tiba dan gelisah. Tiba-tiba terlintas di benakku.
"Hei, kau bisa mengerjakannya ... Bisakah kau makan angka?"
"Secara teknis aku bisa ... Tapi aku harus melihat kata-kata pertama dan merasakannya di hatiku, lalu aku akan memakannya. Angka hanyalah angka. Jika Aku tidak bisa mendapatkan arti dari mereka, bahkan jika Aku menaruhnya dimulutku dan mengunyahnya, mereka hanya akan terasa seperti makaroni mentah. "
Baiklah…
Kak Touko mengatakan kepadaku bahwa dia bisa makan roti atau nasi seperti yang aku dan orang lain makan, tetapi rasanya hambar.Itu pasti hal yang sama.
"Bagaimana dengan alfabet?"
"Itu juga sama. Jika Aku tidak mengerti artinya, itu hanya akan jadi alfabet biasa, sama seperti makaroni yang mentah, "bisiknya sedih. Lalu senyum kecil menyebar di bibirnya, seolah-olah ada warna ungu yang meledak. "Tapi tentu saja, Aku ingin mencoba membaca cerita dalam bahasa asing dengan yang aslinya. Sedih sekali, cerita-cerita luar biasa yang membuat hatiku berkibar hanyalah seutas surat bagiku. Jadi Aku belajar bahasa Inggris dengan sangat keras.Bahkan Prancis, Italia, Jerman, dan Cina.Sangat menyedihkan untuk membaca hal-hal dalam baris demi baris sementara Aku mencari hal-hal lainnya, tetapi itu membuatku memperlakukan setiap kata dengan hati-hati dan membuat mereka bermakna, dan ketika Aku menemukan sebuah kata berkilauan di antara yang lain, itu memberiku sensasi luar biasa. Kata-kata yang Aku buru keluar begitu saja seperti itu, rasanya benar-benar lezat ketika kata-kata itu ada mulutku, "katanya penuh semangat, suaranya lembut dan mendayu-dayu.
Cahaya bulan yang jernih menyinari wajah pucat Kak Touko.
Dia terlihat sangat cerah dan setidaknya tiga kali lebih cantik dari biasanya, jadi Aku memutuskan bahwa itu saja kewajibanku untuk pergi bersamanya dengan tingkahnya sesekali.
“Jika kau bekerja keras dalam matematika dan kemudian kau menemukan masalahnya, mungkin mereka akan memiliki rasa mereka sendiri. "
"Eh, itu ... sepertinya itu tidak mungkin."
Melihatnya memerah dan bergumam, aku hampir tertawa.
"Ayolah, pasti ada sesuatu yang kamu kuasai juga Selain itu."
"Itu benar. Aku kira kadang-kadang Aku sedikit tertarik dengan pelajaran sejarah. ”
“Itu salah satu pelajaran terbaikku. Aku akan membantumu! Cepat, keluarkan bukumu. Apa saja yang akan diujikan? "
Dia mengguncang lenganku, dan bergegas Aku sangat gembira, tiba-tiba kami mendengar bel sekolah berdering.
"Hiii!"
Terkejut, Kak Touko menjerit. Aku mengangkat kepalaku.
Tidak ada alasan untuk bel berbunyi setelah sepulang sekolah, tapi kami mendengarnya dengan sangat jelas.
Aku melirik jam tanganku dan melihat jamku, dan jamnya mendekati jam sepuluh.
"Masih terlalu dini untuk jam keluarnya para penyihir."
"Jangan katakan hal semacam itu, Konoha! Hiii! ”
Kak Touko menjerit lagi.
Lampu telah menyala di semua jendela gedung sekolah dan dengan cepat lampu-lampu berkedip.
Selain itu, ada suara yang tajam, seolah-olah dua tangan saling bertepuk — bertepuk tangan! Ya tepukan!—Dan di atas semua itu, kami mendengar suara isak tangis seorang gadis yang berbaur dengannya
"Buka ... Taruh di dalamnya ..."
Aku menangkap suara suara serak, dan semua bulu kudukku berdiri.Kulitku merinding dan indraku menajam. Leher dan anggota tubuhku menegang, dan tubuhku menjadi sedingin es, meskipun udaranya lembap, tapi rasanya seperti sebaliknya.
"Ternyata itu benar-benar hantu, Kak Touko."
"T-tidak! Tidak! Kita hanya mendengar beberapa hal-hal. Dan lampu-lampu itu berkedip pasti karena mereka sudah tua. Mereka mulai berkedip karena mereka akan konslet, kan? "
"Bukan seperti itu, kau hanya menyangkalnya."
Lampu-lampu masih berkelap-kelip, yang membuat kepalaku berputar, dan suara tepukan tangan terus berlanjut ditelingaku.
Namun, lebih dari semua itu, kesedihan tanpa cela dari tangisan gadis itu membuat kami masuk ke dalam lubang teror.
“H-h-hantu i-i-itu tidak nyata. Mereka itu tidak ada, "kata Kak Touko, bibirnya bergetar. Dia telah memeluk lenganku dalam genggamannya yang kencang.
"Ya, hantu itu tidak—"
Saat itu sesosok manusia muncul di halaman sekolah.
Kak Touko menarik napas.
Gadis itu…
Muncul dari bayang-bayang, gadis itu membawa tas sekolah hitam di satu tangan dan mengenakan pakaian seragam sekolah. Tapi itu bukan kemeja gaya pelaut modern yang dipotong dan rok lipit seperti yang Kak Touko pakai. Seragamnya adalah gaun yang lebih suram dengan gaya pelaut — aku melihatnya dalam foto-foto lama yang tertempel di gedung sekolah. Itu adalah seragam lama dari sebelum mereka mengubah gayanya! Dan meskipun begitu, sekarang ini kan musim panas, tapi dia mengenakan seragam musim dingin!
Dia berjalan ke kotak surat dengan langkah-langkah lembut dan lapang, dan menapak tanah. Setelah itu, ia mengambil buku catatan dan alat tulis dari tasnya, menulis sesuatu di buku catatannya, lalu menyobek halamannya dan mulai menyelipkannya ke kotak surat.
Di beberapa titik, kerlap-kerlip lampu sudah mereda dan suara tepuk tangan telah menghilang.Diam dan sunyi; bahkan anginpun tidak terdengar.
Tapi dia masih di sana. Bermandikan di bawah sinar bulan, diam saat dia terus menulis di buku catatannya dan merobek halaman menjadi serpihan-serpihan kecil, pemandangannya begitu tidak biasa sehingga Aku tidak bisa melihatnya dari jauh.
Lengannya terlalu tipis dan membuatnya tampak seperti patung manequen tak bernyawa. Tapi tidak — itu bukan hanya lengannya. Pinggulnya yang tipis, bahu yang lemah, punggung kecil, rambut cokelatnya yang tembus cahaya, ditambah kulit putihnya seperti orang yang sakit-sakitan, tengkuknya melayang keluar dari kegelapan ... Setiap bagian tubuhnya kurus, tidak alami, dan pucat. Dia tidak terlihat seperti seseorang yang masih menarik napas.
Benjolan pahit menyelinap ke tenggorokanku. Mulutku terasa kering, dan tanganku licin karena keringat.
Apa yang dia lakukan di sana? Apakah dia yang meninggalkan catatan-catatan itu?
"Err... hantu itu tidak nyata."
Masih menempel di bajuku, Kak Touko mulai berjalan ke arah gadis itu. Aku takut.
"Kenapa kau membawaku bersamamu ?!"
"Kamu juga anggota klub Sastra. Pergi dan tanyakan gadis itu apa yang sedang dia lakukan. "
"Kenapa aku ?!"
"Itu perintah."
Ketika kami mulai berkelahi, gadis itu berbalik.
Kak Touko berhenti di jalurnya dengan sentakan. Nafasku juga ikut tercekat.
Wajah gadis itu layaknya boneka Barat, tetapi kulitnya pucat dan ekspresinya yang sepi seperti gua, tidak menunjukkan sedikit pun emosi.
“A-siapa kau? Apa yang sedang kau lakukan?"
Baru kemudian kesadaran berkedip hidup di matanya yang kosong.
Aku menyaksikan dengan takjub ketika warna kemerahan melintas di pipinya dan senyum arogan menarik bibirnya.
Apa-apaan Gadis ini?
Dia menjawab dengan suara angkuh dan manis. “Aku Kayano Kujo. Apa yang Aku lakukan dan di mana Aku memilih untuk melakukannya itu adalah urusanku. Aku akan melakukan apa pun yang Aku suka, dan kapan pun Aku mau. "
Aku terpana dengan perubahan pada gadis itu, tetapi Kak Touko mengambil langkah maju sambil menarik bajuku.
"Aku Touko Amano, ketua klub sastra. Apakah Kau yang meninggalkan catatan-catatan aneh di kotak surat setiap malam? "
"Benar. Aku yang menulis surat-surat itu. Di istana, Paman Hironobu dan yang lainnya selalu menonton dan mengkritik semua yang Aku lakukan. "
“Apakah surat-surat itu untuk kami? Atau untuk orang lain? "
Gadis itu menjorokkan dagunya yang ramping dan berbalik dengan angkuh pada pertanyaan itu.
"Aku tidak akan memberitahumu itu. Aku akan pulang. Kau telah menggangguku, dan itu tidak menyenangkan lagi. "
Dia memasukkan buku catatan dan alat tulisnya ke dalam tas sekolahnya, menutup bagian atas, lalu berdiri dan berjalan cepat tanpa menyapu rumput yang menempel di roknya.
Wow, dia benar-benar akan pergi ...
"Tahan! Apa maksud dari angka-angka ini? "
Kak Touko mengambil catatan dari sakunya dan memperlihatkannya ke arah gadis itu.
Dia berbalik dan menyipitkan matanya tidak sopan. "Itu rahasia, hanya dia dan aku yang tahu."
Aku merasa seolah-olah matanya yang manis dan sensual telah menembus hatiku, dan aku bergidik.
Gadis itu terlihat seumuran dengan kami, tapi matanya sangat dewasa dan menakutkan.
Seperti seseorang yang belum meninggal dan telah hidup dalam waktu yang sangat, sangat lama.
"Tunggu!"
Kak Touko meraih lengan gadis itu dan menahannya. Begitu dia menyentuhnya, Kak Touko tampaknya dikejutkan oleh sesuatu. Mata gelapnya melebar karena ketakutan, dan dia membeku setelahnya.
"L-lihat ... Jika kamu melakukan ini karena ada sesuatu yang mengganggumu, kamu dapat berbicara denganku tentang hal itu. Aku akan mendengarkan"
Gadis itu mulai tertawa. "Heh-heh-heh, heh, hee-hee ..." Kekesalannya terdengar semilir, tapi itu sangat nyaring dan tidak biasa. Kak Touko akhirnya menjadi takut. Cengkeramannya mengendur.
Gadis itu menyelinap keluar dari genggamannya dan kemudian mulutnya membentuk menjadi senyum yang indah.
"Heh-heh. Tidak ada gunanya. Lagipula aku sudah mati. "
Rasa dingin menusuk tulang belakangku.
Mata Kak Touko membelalak, dan dia mundur.
Masih tertawa, gadis itu berlari ke gerbang sekolah. Rambut kastanya berayun di bawah bahunya, dan ujung roknya mencambuk seolah-olah dalam tarian. Betis pucatnya menjauh melalui cahaya bulan. Aku melihatnya pergi, dan aku tak bisa mengatakan sepatah kata pun.
Tubuhnya yang kurus meliuk-liuk seperti fatamorgana sebelum akhirnya melebur ke dalam kegelapan.
"Kak Touko!"
Aku bergegas menghampirinya. Dia meraih bajuku dan kemudian berkata dengan suara gemetar, "G-gadis itu ... dia, lengannya sangat tipis. Rasanya seperti lengan wanita tua, seperti usianya lebih dari seratus tahun. Seperti hanya ada tulang dan kulit. "
"Apakah kamu pikir dia nyata?"
"Tidak mungkin ..."
Dia mencoba berdiri kembali, tetapi kakinya bergetar dengan lemah di bawahnya. Bahu Kak Touko turun, dan dia menatapku dengan ekspresi menyedihkan ketika dia mengaku, "Apa yang harus aku lakukan, Konoha? Aku ketakutan. "
No comments:
Post a Comment