Kak Touko adalah
Pencicip makanan
"Cerita gallico sama seperti halnya musim dingin, itu seperti salju yang membeku dan mencair dilidahmu.itu seperti perasaan disaat kau menjalin
sebuah hubungan--- membersihkan hati dari semua kotoran.sangat indah.tapi juga sangat menyedihkan"
Kak Touko menghela nafas setelah dia melihat rangkaian cerita pendek Gallico.
Inilah klub kami, Klub Sastra, bertempat dilantai keempat.Dibagian barat dari tiga bangunan.Sesekali aku dapat melihat matahari tenggelam dari sini, cahayanya berwarna keemasan menembus jendela dan membuat ruangan ini seperti tuangan madu.Disudut ruangan ada sebuah kotak tua yang kami gunakan untuk menyimpan barang-barang bekas.Ditengah ruangan ada sebuah meja tua yang terbuat dari kayu.Ditambah dua rak buku dan lacinya.Dan semuanya dipenuhi oleh buku.Buku-buku itu tak punya tempat untuk diletakkan sehingga menumpuk dipojok ruangan.Bila terjadi gempa, kumpulan buku itu pasti akan runtuh.Jika itu terjadi maka kau pasti akan terjebak dibawah reruntuhan buku dan mati lemas.Aku duduk diruangan ini, berisi bau pengap dari buku tua dan lapuk, juga Kak Touko.
Dengan lututnya yang ditekuk, dan kakinya diatas kursi, sesekali aku hampir bisa melihat celana dalamnya.Ditambah lagi, kadang dia menggeser posisinya dan aku dapat melihatnya.Sikap badanya sangat tidak pantas.Kak Touko memasang muka pucatnya disaat menekuk lututnya, dan dengan lenganya yang melingkar dikakinya.Dia sangat berhati-hati saat mengganti halaman buku yang sedang dia baca dengan menggunakan tanganya yang kecil.Poni hitamnya yang menguntai didahinya.Kepangan panjang yang menggantung dari bahu sampai pinggang.Kulitnya yang putih terang, rambut hitamnya, alis mata, dan bola mata yang terlihat berkilauan.Ketika Kak Touko terdiam, dia terlihat anggun bagaikan boneka.Tapi...
Tangan Kak Touko perlahan menyobek bagian dari sebuah halaman kertas dan kemudian meletakkan sobekan itu dimulutnya.
Dia mulai mengunyah potongan kertas itu dimulutnya.Dan seperti kambing yang mengunyah rumput, dia mulai mengunyahnya.
Astaga ! dia memakan kertasnya...dia memakannya.
Pemandangan ini terlihat nyata sekali untukku walau aku sudah melihatnya beberapa kali.Kemudian dia menelanya.
Saat dia menelan kertasnya, kerongkongannya mengeluarkan sedikit suara tegukan.Setelah dia selesai dengan potongan itu, dia merubah ekspresi tidak acuhnya menjadi ekspresi bahagia.Matanya melirik kearahku dan wajahnya tersenyum manis.
"Cerita Gallico memang enak~~~ahh, Gallico ! Dia lahir di New york.Film yang diadaptasi dari bukunya berjudul 'Petualangan Posseidon' dan dia adalah anak dari nyonya Harri yang terkenal.Bagaimanapun juga, menurutku karya terbaiknya adalah 'The Snow Goose'!.Karakternya, Rhayader, yang hidup sendirian di sebuah mercusuar dekat rawa, dan seorang gadis, Fritha, datang membawa seekor angsa putih yang terluka.Ketika dia bertemu Rhayader -- mereka menyampaikan perasaan mereka dalam kesunyian yang sangat menyedihkan !.mereka berdua memiliki kasih sayang dan rasa peduli yang tak terbatas, namun sang karakter malah sebaliknya.Haaah, itu cinta yang tulus ! Kau tahu? Konoha, tidak semuanya bisa terungkap hanya dengan kata-kata.Coba pikir, harus menyimpan isi hati mereka sampai dia mati.hanya dengan menahan diri untuk berbicara, kita bisa menggagumi keindahan dari penyesalanya!.Setiap aku mencapai endingnya, aku selalu saja menangis.Cerita Gallico dapat mendinginkan hati yang memanas.Sama seperti betapa tingginya suhu untuk mendinginkan agar-agar yang digunakan untuk menyembuhkan trauma seseorang.Itu sensasi yang sangat enak ditenggorokan, benar-benar luar biasa.oh, kau harus membaca 'Jennie' dan 'Snoflake' juga! Aku merekomendasikannya"kata Kak Touko.
Aku mengambil lima halaman kertas kosong dan meletakannya diatas meja dengan tak beraturan.
Dan dengan sebuah pensil merek 2B.Aku mempersiapkan diriku untuk menulis cerita pendek.Ada tiga topik hari ini.
Topiknya adalah 'Cinta pertama','Kotak Strawbery', dan 'Gedung Parlemen' -- Topik ini terlihat tidak masuk akal untukku.
Kemudian aku menurunkan kepalaku dan mulai menulis, aku dengan tenang menjawab pertanyaan Kak Touko dengan santai.
"Karena Kak Touko adalah seorang monster, tidak ada yang lebih enak selain kata dari sebuah buku, kau tidak tahu betapa enaknya agar-agar jeli, lalu bagaimana bisa kau samakan itu? "
Setelah aku mengatakan itu, Kak Touko menjadi jengkel dan menggembungkan pipinya.
"Baiklah aku bisa, aku bisa menggunakan imajinasiku untuk menjawab pernyataanmu yang salah itu.Ahh~~~rasa agar-agar jeli pasti seperti ini.Dan Konoha, kau memanggilku monster.ini benar-benar salah.Aku hanya ingin memakan semua cerita didunia ini dan meletakannya didalam diperutku.Aku hanya murid SMA yang sudah jatuh cinta dengan kesastraan.Dan aku hanya gadis sastra biasa"kata Kak Touko.
"Aku tidak pernah berpikir ada seorang gadis SMA normal yang menyobek kata dari sebuah buku dan kemudian menelan sobekan itu, dan menurutnya hanya itulah yang paling enak didunia ini.Seumur hidupku selama 16 tahun ini, aku tidak pernah mendengar orang yang lebih aneh dari Kak Touko."
Kak Touko menjadi semakin jengkel, dan menggembungkan pipinya lebih besar lagi, kemudian dia berteriak --
"Kejam! Kau memanggil gadis aneh yang tepat berada didepanmu, kau sangat kejam! Aku tersakiti.Konoha, walaupun kau mempunyai wajah yang lemah lembut dan memberikan kesan seperti 'Bunga Mawar Dirumahmu', 'Nancy' atau 'Betty' atau sesuatu yang seperti itu, kau telah mengejek kakak kelasmu sendiri"
Kak Touko menjadi tidak puas dan cemberut.
"Gosh! sheesh~~~",
Tapi dia akhirnya menjadi tenang.
Dia turun dari kursinya dengan sedikit hentakan, dan dia berjalan kearahku.
"Baikalah, aku ini orang yang pemaaf.Bahkan maafku melebihi Galaksi Andromeda.Aku tidak mau membuang-buang waktuku hanya untuk mendengar perkataan kasar dari adik kelas.sekarang, kau harus buatkan aku cemilan segera, siap?"kata Kak Touko.
Dia benar-benar orang yang blak-blakan, ketika dia bertanya tentang cemilannya, seketika suaranya menjadi bersemangat.
Bila disini ada seekor kucing, mungkin, ketika dia mendengarnya.Dia akan meneguk air liurnya hingga kekerongkongannya saat itu juga.
Murid kelas tiga 'Amano Touko' adalah ketua klub sastra.Dia terlihat seperti monster saat dia mulai memakan sebuah cerita.Dia melihat halaman dan kata dibuku bagaikan roti dan air, kemudian menelannya bersamaan.
Satu tahun lalu, orang ini menyeret dan memasukanku ke klub sastra.
Dan oleh karena itu, setiap kali aku keluar dari kelas, dia selalu mengomeliku.
"Aku lapar, cepat dan tulis sesuatu, ayolah..."
Dan saat itu juga aku mulai menulis sebuah essay atau cerita.
Sekarang adalah tahun keduaku selama diSMA.Sampai saat ini, Klub Sastra hanya beranggotakan Kak Touko dan aku saja.Itu karena, tidak ada satupun kelas satu yang mau bergabung kedalam klub ini.Beberapa hari lalu, dia akhirnya kehilangan kesabarannya.Dia merekomendasikanku dalam sebuah brosur yang dibuatnya.
Di dalam brosur itu tertulis
"Konoha sebagai Ketua klub.Aku akan mempercayakan ini padamu".
Dengan rasa jengkel dan wajahku yang memerah karena marah, itu semua bercampur menjadi satu.Aku akhirnya mengganti semua brosur yang ditempel di sekolah.
Setelah itu, tidak ada satupun siswa baru yang bergabung.
Apa mungkin, aku dan Kak Touko memang sudah ditakdirkan untuk membangun klub ini ?
Padahal aku sudah tidak ingin menulis lagi, tapi kenapa aku bergabung dengan Klub Sastra ?
Menulis membuatku menjadi gatal-gatal.
Inilah alasanku menulis cemilan untuk Kakak kelasku yang luar biasa ini.Kemudian, tugas ini akan menjadi membosankan -- dan ini semua akan menjadi bagian dari hidupku...
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...
No comments:
Post a Comment