Tuesday, 3 April 2018

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 13

     Satu minggu telah berlalu sejak kami menyelamatkan Takeda di atas atap.
Itu adalah hari di bulan Juni. Hujan musim semi yang berkabut telah membasahi tanaman, dan sepulang sekolah.
Takeda membawa laporan yang sudah diselesaikannya dan datang ke ruang Klub Sastra.
"Masuklah. Aku telah menunggumu."
Kak Touko pergi ke perpustakaan, jadi aku menerima laporan itu di tempatnya.
"Wah, ini sangat tebal. Kau pasti sudah berusaha keras. "
"Ehehe, mulai sekarang aku banyak menulis. Kau tahu, Kak Konoha, di ruang bawah tanah tempat penyimpanan buku, kau mengatakan kepadaku
menulis tidak akan mengubah apapun, kan? "
Takeda menatapku dengan gembira.
"Itulah yang kupikirkan juga. Tapi sejak aku menulis laporan ini, aku merasa tulisan ini sangat membantu. Sangat memiliki efek terhadapku! "
"Yeah, mungkin."
Cerita yang ditulis Miu--- semuanya membuatku merasa sangat hangat dan segar.
Ketika dia memasukan tulisannya yang lengkap ke dalam amplop, Miu juga memiliki ekspresi bahagia di wajahnya.
Hari-hari itu tidak pernah bisa kulupakan.
Jadi, seperti kata Takeda, mungkin tulisan memang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.
"Oh, ya, Kak Konoha, kau bilang dulu kau adalah perempuan ?"
"Ehhh, itu-itu-"
"Saat di atap bukankah kau bilang kau dulu adalah seorang bishoujo yang misterius. Jangan katakan bahwa kau memiliki gangguan jenis kelamin atau transgender? Atau apakah kau seorang ratu? "
"Uwaaaaaaah, itu, itu-"
"Kak Touko juga mengatakan bahwa dia memakan buku-buku perpustakaan. Aku sangat penasaran, apa maksudnya itu? "

"It-It-It-It-Itu hanya akibat dia gugup dan mengoceh tanpa berpikir.Aku mohon padamu! Tolong lupakan itu semua ya! "
Wajahku menjadi merah padam, dan aku mulai panik. Takeda menatapku, lalu wajahnya berubah menjadi ekspresi seolah dia mengerti. Senyuman muncul di wajahnya.
Ini mungkin ini adalah ekspresi sebenarnya Takeda, dia tidak pernah menunjukkan ekspresi ini sebelumnya.
"Baiklah, aku mengerti. Setiap orang memiliki sesuatu yang memalukan sehingga mereka tidak ingin orang lain tahu kan. Aku akan menyimpan rahasia ini di dalam hatiku. "
"Terima kasih."
Aku lega. Rahasiaku akhirnya tidak terbongkar, akan sangat buruk jika orang lain mengetahui tentang rahasia Kak Touko.Wartawan TV dan pakar monster tak dikenal pasti ingin mendapat jawaban yang lebih tentang dia.
"Kak Konoha, bisakah aku menyimpan surat cinta yang kau tulis untukku?"
"Eh? Kau masih memilikinya? "
Takeda tertawa polos seperti yang selalu dilakukannya.
"Ya. Aku menyimpan semua surat itu di kotak penyimpanan favoritku, dan menjaganya dengan sangat baiku. "
Wah, aku merasa sedikit malu. Tapi karena Takeda setuju menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri, aku tidak punya pilihan selain setuju
"Tapi kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan pernah menunjukkannya kepada orang lain."
"Eheh, aku akan memperlakukan mereka sebagai harta paling berharga untukku."
Dia menitipkan salam untuk Kak Touko; Setelah dia bilang dia akan kembali kesini lagi untuk bertemu dengan kami berdua, dia pergi.
Aku duduk di kursi dan mulai membaca laporan dari Takeda.
Suara hujan yang lembut disertai suara halaman kertas yang berpindah.
Suara yang nyaman, seperti lagu pengantar tidur di rahim seorang ibu, berbunyi dengan lembut.
Hujan telah berhenti tanpa aku sadari. Matahari terbenam telah mewarnai ruang klub seperti emas yang bersinar.

Sudah berapa lama berlalu?
Aku tertunduk dari membaca laporan. Tiba-tiba aku merasakan gatal di punggung dan leherku seolah ada sesuatu yang menyerupai ekor kucing yang sedang bergelayut. Dengan tidak sadar aku meraihnya
dengan tanganku
(?)
Benda yang bergelayut bukan ekor kucing; Ini adalah salah satu kepangan Kak Touko.
Aku melihat ke sisiku. Entah kapan, tapi  Kak Touko sudah kembali dari perpustakaan. Dia, Rupanya memindahkan kursi ke belakang tempat dudukku, dia duduk di atasnya, menyandarkan tubuh bagian atasnya ke depan, dan membaca laporan itu denganku dari balik bahuku
(Wah!)
Kak Touko mungkin sedang sangat memperhatikan pada laporan itu. Jari telunjuk kanannya menyentuh
bibirnya. Dia melihat buku itu dengan ekspresi melamun. Bahkan saat aku mencengkeram
kepangannya dia bahkan tidak menyadarinya.
Tidak hanya itu,  Kak Touko mencondongkan tubuh ke depan terlalu dekat. Pipinya nyaris menyentuhku. Alis matanya yang berkedip-kedip dengan cahaya emas. Jarak kami begitu dekat sehingga jika aku bersandar sedikit saja, aku bisa menciumnya.
"Ka, Ka, Ka, Ka- Ka- Ka- Ka- Kak Touko"
"Cepat Balik ke halaman berikutnya, Konoha."
Apa itu,
Mata Kak Touko terpaku pada laporan itu saat dia berkata dengan lembut di telingaku.
"Itu, tapi, ini-"
"Cepat ..."
Dia benar-benar terserap olehnya. Sekarang setelah dia berada dalam keadaan seperti lupa daratan, apapun yang aku katakan akan dia abaikan.
Telinga gadis sastra ini tidak mendengar kata-kataku lagi.
"Y-Ya."
Aku menyerah juga; Aku kembali membaca laporan itu.

Saat aku menikmati aroma harum warna ungu dari  Kak Touko, aku merasakan kehangatan tubuhnya, aku membiarkannya lembut.
Kepangannya menempel di leherku, bersama dengannya di ruangan ini, ditambah dengan menjelang matahari terbenam, kita membaca Laporan Takeda bersama.
Saat matahari terbenam, warna keemasan samar berubah merah dan merah, akhirnya kami selesai membaca.
Kak Touko dengan ringan mendesah.
Lalu dia menyadari bahwa wajahku merah dan tubuhku membeku kaku, dia dengan cepat mundur
dariku.
"Ya, kya! Maaf!"
Dengan refleks dia tersentak mundur. Kursinya, tertekan oleh kekuatan mendadak, berbalik ke belakang. Sekarang
Dia kehilangan keseimbangannya, dia juga terjatuh ke belakang--- dia terjatuh dan menghadap langit-langit.
"A-"
"Hnnn, bokongku menabrak tanah ..."
Dengan roknya membalik ke belakang pahanya, mata  Kak Touko dipenuhi air mata.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Bokongku sakit ..."
Dia meluruskan roknya dan berubah menjadi posisi duduk.
Saat matanya bertemu denganku, dia mulai tersipu malu. Tapi tidak lama kemudian dia
berubah menjadi ekspresi lembut dan tersenyum padaku.
"Tapi ... Sepertinya Takeda sudah baikan sekarang. Ini bagus sekali. "
Aku tersenyum juga.
"Ya."
Aku menarik tangan Kak Touko dan membantunya berdiri.
Dengan hormat aku menyerahkan laporannya kepadanya.
"Kalau begitu, ini dia yang bisa kau nikmati, milady."

Kak Touko, diterangi matahari terbenam, dengan anggun berjalan ke kursinya. Dia duduk, lebih
sopan daripada biasanya, dan menerima laporan tersebut secara resmi.
"Selamat makan."
Sambil tersenyum ia melihat laporan itu, lalu mulai membaca halaman pertama.
Kapan pun dia menyelesaikan sebuah halaman, dia akan merobek halaman itu, dan mengunyahnya bagian ujung catatannya.
"…Pahit,"
Dengan sedikit cemberut, dia bergumam. Meskipun demikian tetap saja, gigitan demi gigitan, dikunyahnya perhalaman dan kemudian menelan mereka.
"Pahit sekali…"
Laporan ini mungkin jauh dari kata cemilan manis dan manis yang dia harapkan.
Kulitnya yang cantik, seragam, dan kepangnya, semuanya dipenuhi dengan warna matahari senja.
Bahkan jika matahari terbenam di bawah cakrawala, saat malam berlalu, matahari akan kembali terbit. Pada saat diatap, Kak Touko mengatakan ini pada Takeda.
'Tidak masalah betapa menyakitkan atau sedihnya pengalaman itu, besok pasti akan berubah secara drastis.'
Sama seperti ini, saat kami menyambut kedatangan setiap hari baru; Mungkin kami bisa berangsur-angsur berubah.
Bahkan luka-luka yang kami pikir mungkin tidak akan pernah sembuh; Mungkin mereka akhirnya akan sembuh.
Pada hari itu, Miu terjun dari atap. Bukankah akan bagus jika dia bisa berada di suatu tempat, dan tertawa juga.
Bahkan jika kami tidak pernah bisa bertemu lagi, selama dia, di bawah langit matahari terbenam ini, bisa tersenyum ditempat lain ...
Itu mungkin hanya angan-anganku.
Aku membuka tumpukan kertas yang terikat dan mulai menulis.
Kak Touko, yang terus memakan laporan itu, bertanya kepadaku-
"Apa yang kau tulis?"
"Ini sebuah rahasia."
"Hei, Konoha ... cobalah menulis novel suatu hari nanti. Novelmu..., kau harus membiarkan aku membacanya. "

Kak Touko tiba-tiba mengatakan itu. Jantungku berdegup kencang.
Aku mengangkat kepalaku, dan melihat senyum hangat  Kak Touko.
Dia tidak tahu tentang masa laluku yang memalukan, bukan?
Jadi, itu mungkin salah satu komentarnya sendiri.
Kak Touko mengalihkan pandangannya kembali ke makanannya.
Aku juga terus menulis di tumpukan kertas.
Apakah akan ada hari, ketika aku akan memegang pena lagi untuk sebuah novel? Apa yang akan aku tulis??? Saat ini,  aku tidak tahu.
Tapi untuk hari ini, aku akan menulis cerita yang manis untuk Kak Touko.
Ini akan menjadi makanan penutupnya setelah dia menyelesaikan memakan cerita pahit itu.

Monday, 2 April 2018

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 13 Prolog

Kau tidak boleh mati!--- Dia berkata kepadaku.
Aku akan membantumu memikirkannya juga, aku akan membantu membawa bebanmu bersamaku! Paling tidak itulah yang bisa kulakukan!
Jadi tolong jangan bunuh diri dengan terburu-buru!
Kau tidak boleh mati!--- Dia berkata kepadaku.
Dia bilang akan memalukan jika aku hanya membaca 'Ningen Shikkaku' sebelum aku mati.
Dazai menulis banyak kisah indah; kau tidak boleh mati sampai kau membaca semuanya.
Kedua orang ini erat memegang tanganku, dan dengan putus asa berusaha meyakinkanku.
Aku menangis.
Aku menangis sambil tertawa.
Apa yang harus ditangisi, apa yang harus ditertawakan, apa yang harus disesali, apa yang membahagiakan?
Aku masih belum mengerti, tapi air mataku tidak akan keluar lagi. Aku berpikir bahwa saat ini, ekspresiku pasti mirip monyet di kebun binatang, atau seperti bayi yang baru lahir,
Keduanya terlihat sangat konyol!
Aku melepaskan tanganku yang lembab, dan cangkir yang diberi Shizuka terselip diujung jariku.
Bagiku, cangkir itu mengingatkanku akan kejahatan yang aku lakukan terhadap Shizuka; maka dari itu aku
selalu memabawanya bersamaku.
Tapi ketika aku melepaskannya dari tanganku dan gelas itu menabrak tanah, tiba-tiba aku merasa lega.
Hatiku menjadi terasa lebih ringan, dan aku merasa telah dibebaskan.
Mungkin itu hasil dari kelalaianku.

Mungkin aku masih bertahan sebagai monster yang tidak memiliki hati!
Mungkin seharusnya aku meninggal dihari itu.
Tapi, aku malah mengulurkan tanganku sendiri dan memegang kedua tangan orang itu.
Wajah mereka berdua memerah. Mereka menasihatiku saat mereka mencoba menarikku.
Selama waktu itu, para guru dan petugas pemadam kebakaran juga sampai di atap dan membantuku kembali ke sisi lain pagar pembatas.
Kenapa kau melakukan itu? Setelah diselamatkan, para guru dan orang tuaku bertanya secara rinci.
Apa yang sedang terjadi? Apakah kau diintimidasi?
Tidak ada apa-apa. Kupikir akan sangat menyenangkan memanjat pagar pengaman, dan tanpa sengaja aku tergelincir, Begitu menakutkan, kupikir aku akan mati!
Jawabku sambil terlihat ngeri. Lalu aku dimarahi karena bermain-main di pagar pembatas.
Desas-desus tentangku dengan segera menyebar ke seluruh sekolahku. Berkat itu aku menjadi terkenal dalam sehari.
Beberapa orang bergosip tentangku di belakangku; beberapa orang juga mengejekku tepat didepan wajahku;
beberapa orang menatapku penuh simpati.
Tentu saja, ada orang yang memperlakukanku dengan baik.
Beberapa orang acuh tak acuh dan sikap mereka terhadapku tetap tidak berubah.
'Apakah kau benar-benar mencoba bunuh diri? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?'
Yang lain memintaku untuk tidak mempedulikannya.
Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda.
Keberadaan orang baik hati berarti akan ada orang yang mengerikan juga.
Di atas segalanya ada beberapa yang acuh tak acuh terhadap segala hal.
Tidak peduli apakah itu sekolah atau masyarakat, peraturan ini mungkin akan tetap berlaku.
Dalam keadaan seperti ini, aku akan bertindak ceroboh seperti gadis yang mudah sekali dipengaruhi, dan aku menjawab dengan tertawa- 'ya, tapi gagal. aku jadi merasa sedikit malu.'

Sulit bagi seseorang untuk berubah.
Mulai sekarang aku masih akan memakai topeng badut dan hidup dengan berbohong kepada dunia.
Tapi aku tidak merasa malu lagi.
Aku putus dengan Hiro.
"Itu bukan karena kau berada dalam sorotan semua orang kenapa aku putus denganmu ..." Katanya
dan mengalihkan pandangannya.
Aku juga berpikir bahwa kita harus menempatkan jarak antara kita.
Aku mengatakannya dengan suara yang jauh lebih dingin daripada yang biasa aku gunakan. Terkejut dengan hal itu, Hiro melihatku seolah-olah aku adalah orang asing, dan menjawab dengan suara rendah "Aku mengerti."
Aku tahu bahwa ketua Klub Bola Basket Hanamura diam-diam menyukai Hiro.
Karena, waktu itu dia berbicara dengan rendah hati kepadaku; aku pikir Hanamura akan mencoba dan
menghiburnya.
Akhir-akhir ini, berita yang ditulis dari kejadian ini tidak sampai seserius dulu.
Sampai sekarang, ketika aku mencoba menulis tentang diriku yang dangkal dan mengerikan, aku sering berhenti
dan mengalihkan pandangan dari notebook.
Kata-kata hitam itu tampak seperti kutukan, dan membuatku sangat takut.
Tapi sekarang, semakin aku menulis, semakin aku merasa bahwa aku telah mengeluarkan nanah yang telah membusuk
di dalam hatiku. Ketika aku lebih banyak menulis, aku merasa hatiku menjadi lebih bersih, dan hatiku menjadi
lebih tenang dan lebih tenang lagi. Sekarang aku merasa seolah-olah bisa melihat masa depanku yang jauh.
Aku masih agak menyesal bahwa aku tidak mati hari itu.
Tapi pada saat bersamaan, kepada Kakak kelas dari Klub Sastra, aku juga bersyukur. ya, aku masih hidup.Itu benar.
Dimasa depan, jika seseorang bisa melihatku melalui topeng badutku, aku berencana membuka hatiku,
dan menjawab dengan tawa- "Ya, kau memang benar. Kau memiliki mata yang tajam! "

Jika kebetulan aku bertemu dengan orang lain seperti Shizuka, aku tidak akan berbohong padanya lagi.

Sunday, 1 April 2018

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 12B

Di buku catatan Takeda, di mana dia menuliskan pengakuannya, di halaman terakhirnya dia menulis---



Kak Konoha telah memberiku jawabannya.
Lalu, ayo naik ke atap!



Lantai kedua
Lantai tiga
Lantai empat
Aku merasa tangga yang membentang ke atas menjadi tak terhingga. Kegugupan dan ketakutan tidak akan pernah
mencapai Takeda membengkak dalam pikiranku.
Ketika aku selesai menaiki tangga, apa yang menantiku di sana? Apakah akan menjadi seperti tragedi yang lalu
.Sama seperti waktu dengan Miu? Akankah aku berdiri di sana, tidak bergerak, hanya diam disana untuk menyaksikanTakeda menjatuhkan dirinya dari atap gedung?
Hatiku rasanya ingin menangis. Aku merasa sangat pusing sehingga hampir roboh.
Tidak lagi.
Ini persis seperti waktu itu, aku tidak akan berhasil.
Demi diriku sendiri, aku tidak boleh pergi! Jika aku pergi, aku akan melihat hal-hal yang tidak ingin aku lihat--- ini hanya akan meningkatkan rasa sakitku.
Aku tidak bisa pergi.
Bibir dan ujung jariku terasa mati rasa. Aku terengah-engah seperti binatang buas. Penglihatanku mulai kabur.
Sebenarnya, gejala-gejala ini hilang setelah aku masuk SMA; Namun saat Soeda menyeretku
Keatap, jadi, aku tidak bisa bernafas dengan baik.
Persis seperti waktu itu, rasa lapar dan kegelisahan yang luar biasa melonjak ke arahku. Tubuhku menjadi sedingin es.
Suara yang menyakitkan dikeluarkan oleh tenggorokanku. Aku mencondongkan tubuh ke depan dengan lemah dan aku harus tetap menstabilkan
diriku dengan memegang pembatas.
Ini sangat menyakitkan.
Aku akan mati.
Ah, aku tidak akan berhasil. Sudah terlambat. Bahkan jika aku mencapai atap, itu sudah tidak ada gunanya. Tidak berguna. Setiap orang
hanya bisa hidup dengan cara yang menyedihkan. Tidak ada cara untuk mengubah ini. Sudah terlambat untuk mengatakan apapun.
--Tidak, itu tidak benar.
Saat aku jatuh ke dalam jurang yang dikenal dengan keputusasaan, sebuah tangan tak terlihat menarikku ke atas

Mungkin itu tangan Kak Touko.
Dialah yang menarik tangan lemasku dan tanpa menyerah, dia menarikku sampai ke sini.
Kak Touko tak pernah meninggalkanku.
Aku hanyalah orang yang selalu menangis karena tidak ingin bekerja untuk apapun lagi, atau menangis karena ketidak tahuan terhadap apapun lagi--- dia dengan lembut mengatakan bahwa aku harus menemukan jawabannya pada diriku sendiri.
Betapa menyakitkannya, betapa tragisnya dan betapa mengerikannya perasaanku, aku harus tetap berdiri di atas kakiku sendiri dan
Menemukan jawabanku sendiri.
Seperti Merosu yang tidak ingin melepaskan janjinya dengan temannya, aku berdiri dan berlari seolah-olah tidak ada hal lain yang ada dalam pikiranku.
Aku tidak merasakan sakit dan duka lagi; aku mengabaikan rasa sakit yang merobek-robek hatiku, dan juga, aku tidak akan membiarkanku sesak nafas dan penglihatan yang buram menggangguku lagi. Aku menaruh semua perhatianku untuk mencapai
atap secepat mungkin.
Pintu yang berat muncul di ujung tangga yang tak terbatas. Aku mendorongnya untuk membuka pintu.
Warna langit berwarna biru seperti biasanya.
Takeda ada disana, berdiri di luar pagar pembatas.
Badanya kecilnya tampak sangat lemas dan lesu.
"Jangan! Takeda! "
Saat aku berteriak, aku berlari ke arahnya. Dia juga menatapku dengan terkejut. Aku melihat dia memegang mug bebek itu.Ah, saat aku melihat dia benar-benar berniat membunuh dirinya sendiri, itu membuat dadaku seperti berhenti.
"Jangan, Takeda. Kau tidak boleh mati. Jangan biarkan ini menjadi akhir dari segalanya! Kau bukan Kak Shuuji! Kau adalah Chia Takeda! Kau berbeda dari Kak Shuuji! Hanya karena dia bunuh diri tidak berarti Kau juga harus melakukan hal yang sama! "
Sebuah ekspresi menyedihkan muncul di wajah Takeda.
Aku meraih pagar pembatas dan meraih pergelangan tangan Takeda.
Aku membungkuk ke depan untuk mengambil napas, dan kata demi kata kukatakan---
"Kau harus menemukan jalan lain yang berbeda dari Kak Shuuji!"
Ketika dia melihat buku catatan kusut di tanganku, dia tersenyum sedih.

"Kak Konoha ... Buku catatan itu ... kau sudah membacanya. Itu seharusnya ... ditemukan sepuluh tahun lagi ... Itu adalah pesan dariku untuk sepuluh tahun dari sekarang, sama seperti bagaimana cara Kak Shuuji meninggalkan surat-suratnyanya untukku. Surat itu harusnya ditinggalkan ... "
"Apa yang kau bicarakan ?! Kau tidak harus memilih jalan yang sama dengan Kak Shuuji!
Kembali kesini."
Tetesan air mata yang jernih meluncur di wajahnya seolah-olah itu adalah kesedihannya tentang bagaimana tidak ada yang pernah bisa mengerti dia.
"Tapi, Kak Konoha, Aku tidak bisa lagi menahan rasa malu dan rasa sakit karena sudah hidup di dunia ini ."
Suara tertekannya, direndam dengan dukacita, dimasukkan ke dadaku dan membuatku terdiam.

'Konoha, kau tidak akan pernah mengerti.'

Ah, apakah kejadian dengan Miu akan terulang lagi?
"Hei, Kak Konoha , apakah kau sadar bahwa Kak Shuuji tidak memilih bunuh diri untuk melarikan diri dari rasa bersalah kerena telah membunuh Sakiko? Itu karena Sakiko sempat ditabrak mobil.
Di depannya, dan dia masih belum bisa merasakan apapun dari itu. Itu adalah sikap apatis yang membuat dia putus asa
tentang dirinya sendiri.
Ini sama denganku.
Aku membunuh Shizuka.
Jika aku tidak tersandung dijalanan, maka Shizuka tidak akan kembali dan tertabrak mobil. Ini sama dengan aku membunuhnya.
Tapi, meski Shizuka kekurangan darah sampai mati di depanku, aku masih tak bisa merasakan apapun.
Bahkan di pemakamannya aku tidak meneteskan satu air mata pun.
Aku membuat diriku linglung.
Keluarga dan teman-temanku, ditambah orang tua Shizuka, berbisik-bisik di sekelilingku yang mengatakan bahwa seharuanya jika aku melihat sahabatku yang sekarat di hadapanku pasti sudah membuatku trauma
. 'Aku merasa sangat kasihan padanya, biarkan dia sendiri untuk sesaat.'
Itu tidak benar!
Aku sama sekali tidak sedih! Tidak peduli bagaimana aku mencoba mengingat ingatanku dengan Shizuka untuk membuat diriku menangis, aku tetap tidak bisa melakukannya. Aku bahkan tidak bisa mengucurkan satu ons pun kesedihan. Shizuka sudah meninggal, dan aku masih belum bisa merasakan apa pun.
Ini--- ini terlalu aneh! Seseorang telah meninggal! Dan dia adalah sahabatku! Mengapa aku tidak merasa sedih sama sekali?, ini benar-benar tidak normal! "
Takeda menjadi semakin histeris; Mata basahnya juga menjadi semakin putus asa.
Aku tidak bisa memaksa diri untuk mengatakan 'Tidak, itu normal.'
Dengan akal sehatku, aku tahu apa yang dia katakan itu menyimpang, jadi aku tidak bisa melawan.
Aku tahu betul ketakutan yang terkait dengan kehidupan sehari-hari; tapi aku hanya anak yang lemah lembut yang tinggal di bawah orang tuaku yang peduli, aku tidak menjalani apapun yang bisa membuat aku mengerti
keputusasaan yang mengikat hati Takeda yang sedang tersiksa saat ini.
"Aku tidak bunuh diri untuk melarikan diri dari rasa bersalah membunuh Shizuka--- Aku bunuh diri karena
dari sikap apatisku terhadap kematian Shizuka. Aku terlalu malu dan takut pada diriku sendiri, aku tidak bisa hidup seperti itu.
Dazai mengatakannya juga, bahkan jika seseorang terus hidup, dosa-dosanya yang kotor hanya akan meningkat jumlahnya,
dan masalahnya hanya akan bertambah pula! Dia juga mengatakan 'Jika kau mencari kematian maka yang kau temukan adalah mati. Hidup adalah benih dari
rasa bersalah! ' aku tidak dapat meneruskan diriku hidup seperti ini lagi! Kak Konoha, apa menurutmu
orang sepertiku bisa terus hidup? Apakah kau masih menyuruhku untuk menjalani hidupku? Apakah menurutmu kematianku adalah salah? Aku tidak bisa tenang dengan kesengsaraanku? "
Tangan Takeda  yang sedang kupegang perlahan semakin longar.
Kak Rihoko ingin melepaskan Kak Shuuji yang tersiksa dari rasa sakitnya, jadi dia memenuhi keinginan Kak Shuuji.
Tapi? Tapi aku? Tanganku yang kendor, sekali lagi aku mengencangkan peganganku dan lebih kencang lagi.
Takeda membuka matanya lebar-lebar.
"Aku tidak tahu ... Aku tidak tahu! Mungkin aku keliru, mungkin aku mengatakan beberapa hal yang sangat sulit dilakukan
olehmu, tapi aku masih tidak bisa membiarkanmu mati. Meskipun sekarang aku tidak bisa mengatakan mengapa kau tidak pantas untuk mati, tapi aku akan membantumu memikirkan alasan yang layak untuk hidup! Jadi tolong jangan bunuh diri! Coba dan teruslah
hidup! Aku akan membantumu memikirkannya juga, aku akan membantu membawa bebanmu bersamaku! Paling tidak itulah yang bisa kulakukan!"

Takeda masih menangis.
"Bahkan jika ... Kau mengatakan ini padaku ..."
"Kumohon, Takeda . kembalilah ke sini. "
"Tidak ... Aku sudah ..."
Takeda melepaskan pegangan tanganku. Tindakannya menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan dia kehilangan pijakannya.
"Takeda!"
Buku catatan bergambar bebek itu jatuh ke lantai; Angin kencang dengan cepat membalikkan
halamannya.
Seluruh tubuhku ada di lantai, dengan tanganku menarik salah satu tangan Takeda.
Dan tangan yang lainnya dia gunakan untuk memegang cangkir, Kakinya yang berbahaya menjuntai seperti layang-layang yang tersangkut oleh kabel listrik.
"Lepaskan aku ... biarkan aku mati seperti ini ..."
Takeda memohon kepadaku dengan lemah.
"... aku tidak mau ! "
Lenganku rasanya mau hancur. Ah, seandainya saja aku tidak mengunci diri di rumahku sepanjang waktu, kalau begitu mungkin aku sekarang lebih kuat.
"Lepaskan! Kak Konoha  ... "
"Tidak, Tidak akan!"
Tidak mungkin aku membiarkanmu pergi. Membiarkan kau pergi sama saja seperti Saat Miu jatuh tepat di depanku, yang hanya bisa kulakukan hanya
berdiri tak bergerak.
Bahkan jika aku tidak mengerti apa yang Miu rasakan, bahkan jika aku tidak bisa mengatakan apapun yang bisa dilakukan
untuk merubah pikirannya, setidaknya aku harus lari menghampirinya dan memeluknya erat-erat.
Aku bisa mengulurkan tangan dan menghentikannya.
Inilah sebabnya, kali ini aku tidak akan melepaskannya!

"Kau tidak boleh mati! Walaupun hidupmu mengalami penghinaan! Bahkan, aku punya identitas rahasia sebagai bishoujo misterius dua tahun lalu. Aku sangat malu sehingga aku menolak untuk pergi ke sekolah dan mengunci diri di rumah. Aku tidak punya masa depan, dan lihat! Aku hidup dengan baik sekarang! "
Tanpa berpikir aku meneriakkannya, dan ini membuat Takeda membuka matanya karena terkejut.
"Bi-Bisho ... ..?"
Pada saat ini, karena keringat kami, tangan Takeda menjadi licin dan meluncur.
Tapi dengan segera, tangan itu tertangkap oleh sepasang lengan lain yang datang dari sisiku.
"Betul. Setiap orang memiliki sesuatu yang memalukan yang mana mereka tidak ingin memberitahukannya kepada orang lain.Demikian juga denganku. Aku bahkan makan salinan 'The Great Gatsby' yang aku pinjam dari perpustakaan beberapa waktu yang lalu. "
Kak Touko terbaring di tanah dengan dada ratanya di lantai beton. Wajahnya
mengerutkan kening dengan rasa sakit. Kedua tangannya berada di antara pagar pembatas dan sekarang dengan erat mencengkeram
Tangan Takeda.
Dengan cepat aku juga menggunakan kedua tanganku untuk memegang tangan Takeda juga.
"... Kak Touko, kenapa kau ada di sini?"
"... awalnya aku pergi ke perpustakaan, dan seorang asisten perpustakaan mengatakan kepadaku bahwa Kau baru saja berlari keluar
 ... jadi aku datang untuk menemukanmu ... "
Bagi seseorang seperti Kak Touko, yang selalu tinggal di rumahnya bahkan melebihiku, itu mungkin sulit
baginya untuk mempertahankan posisi ini.
Takeda dengan bingung berkata---
"Memakan salinan ...'The Great Gatsby '... Apa ... yang"
 Wajah pucat Kak Touko sedang meneteskan keringat sekarang. Dia dengan berat menjawab---
"... baiklah ... di dunia ini ada banyak hal yang tidak dapat dijelaskan! Untuk menemukan kebenaran di balik kejadian ini
adalah salah satu kesenangan dalam hidup! "
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari bawah.Mungkin seseorang di lapangan akhirnya memperhatikan kita dan orang-orang mulai panik.
Takeda menunduk dan menghela napas. Mungkin dia berpikir bahwa jika menarik dirinya seperti ini, dia tidak akan bisa mencapai tujuannya, Takeda sepertinya akan melepaskan tangan kita.Kak Touko teriak-

"Selain 'Ningen Shikkaku ', sudahkah kau membaca cerita lain dari Dazai Osamu?"
"Eh?"
Pertanyaan ini mengejutkan Takeda dan dia berhenti.
Kak Touko terus menarik tangan Takeda, dan dengan tegas berteriak-
"Beberapa orang hanya membaca 'Ningen Shikkaku' dan berpikir bahwa semua karya Dazai Osamu penuh dengan kesedihan dan ketidak warasan. Kesimpulan ini adalah salah. Jika kau
hanya membaca 'Ningen Shikkaku', kau belum cukup membaca untuk mengomentari tema umum
Karya Dazai Osamu. Di kelas Etnis, bukankah 'Hashire Merosu' adalah bacaan yang wajib? Jangan kau pikir bahwa Merosu, yang hanya pergi ke pasar untuk membeli hadiah ulang tahun untuk saudaranya, tapi itu sebaliknya,
Dia malah jadi dipenuhi oleh kemarahan saat dia menyadari kekejaman tirani sang raja. Dia masuk kerajaan istana melalui pintu depan supaya dia bisa membunuh raja. Merosu yang ceroboh itu,
didorong oleh pikiran yang lurus dan tidak bersalah, tidakkah kau pikir dia menawan? Jangan pernah
merasa senang dengan persahabatannya yang tulus dengan tukang batu? Merosu begitu terdorong oleh keyakinannya dan dia
lari kembali ke tukang batu dalam keadaan telanjang ! "
Ah, apa yang kau bicarakan, Kak Touko.
Aku ingin menutupi kepalaku dengan tanganku.
Tapi Kak Touko , dengan keringat yang menetes dari wajahnya, terus dalam keseriusan-
"Coba dan bayangkan! Meski ceritanya diatur dalam periode waktu yang berbeda, pasti sangat
memalukan untuk berlari di jalanan dengan telanjang. Tapi Merosu mengabaikan semua ini dan berlari ke temannya, meskipun ia tidak memiliki kain ditubuhnya. Tindakan lurusnya bahkan membuat
raja tirani dan kejam kalah!
Di akhir cerita tukang batu itu berkata 'Merosu, kau tidak mengenakan pakaian apapun.' Dari apa yang aku
ingat, buku teks kelas etnik mengeluarkan baris ini dari cerita; kau harus memeriksa
naskah aslinya! Ini layak dilakukan hanya untuk membaca baris ini!
Tidak hanya Merosu, ia memiliki banyak karya fantastis lainnya yang berpusat pada cinta dan kepercayaan! Kamu harus membaca
'Hazakura ke Mateki.' Dalam ceritanya, seorang kakak perempuan sangat memperhatikan adik perempuannya--- sangat menyentuh! Dan itu berakhir tidak semata-mata terdiri dari kesedihan; Ini juga memiliki sedikit aura lembut dan
berkilau harapan.Dalam 'Yuki no Yoru no Hanashi', adik perempuan yang menginginkan kakak perempuannya untuk melihat pemandangan salju yang indah; dan 'Hifu ke Kokoro', istri yang mencintai suaminya
Seperti layaknya seorang gadis kecil yang baru jatuh cinta---semuanya sangat lembut, dan sangat lucu. Kelima bersaudara di 'Romawi
Dourou ', bersama-sama mereka menulis novel dan mempublikasikannya. Semua orang hidup bersama dalam harmoni--- itu juga seperti
acara keluarga si Karakter wanita utama 'Jyoseito' sangat lucu, kau tidak bisa membantunya tapi kau ingin memeluknya.
Cerita 'Haji' adalah dasar dari surat-surat yang dikirim olah pembaca wanitanya, dan cerita terakhir Dazai
'Guddo Bai', dan cerita tentang pria yang suka berpakaian sembrono 'Oshare Douji' --- itu semuanya cerita humor yang bersinar pada berbagai aspek kehidupan. Dalam catatan penulis untuk 'Nyozegamon',
Kau bahkan bisa melihat Dazai dengan lucu meniru mereka yang mencoba memprovokasi Naoya Shiga. jika kau mau membaca sesuatu yang bisa menyentuh hatimu, kau bisa baca 'Chikuken Dan' atau 'Kahei'! Mereka semua adalah karya bagus yang dapat menunjukkan kepercayaan dan kelembutan yang dimiliki Dazai untuk orang lain! Mereka semua adalah karya fantastis yang akan mencapai bagian terdalam dari hatimu! Sayang sekali jika kau mati sebelum kau dapat membaca
mereka!"
Persuasi macam apa ini!
Apakah seseorang benar-benar mengatakan hal ini kepada seseorang yang akan bunuh diri?
Tapi Kak Touko benar-benar serius.
Benar-benar serius, mencoba yang terbaik, melakukan yang paling sulit, dan bahkan mempertaruhkan hidupnya.
Wajah Takeda, yang sedang menatap Kak Touko, berangsur-angsur berubah menjadi ketidakpercayaan
. Matanya menjadi lebih aneh dan aneh, dan tidak lama sebelum dia menangis dia mulai jatuh lagi.
Dia pasti mengira ini terlalu aneh, terlalu bodoh, namun pada saat bersamaan dia tidak bisa ditolong dan dipaksa tunduk oleh pidato Kak Touko yang kurang masuk akal. Sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa
lagi.
Kak Touko, tubuhnya terbungkus keringat dan matanya menjadi merah, berjuang untuk melanjutkan---
"Setelah perang usai, sebuah karya sastra yang sangat hebat dipublikasikan, kau
juga harus membaca 'Otogi Soushi', sebuah cerita komedi yang didasarkan pada sebuah cerita kuno. 'Kachikachi Yama'
ditulis dalam kondisi yang sama pula.Aku bisa menjamin bahwa rahangmu akan turun saat kau membacanya!
Lihat! Aku bilang Dazai tidak hanya menulis 'Ningen Shikkaku'! Memang benar dia bunuh diri setelah menyelesaikan buku itu; dia juga menulis banyak karya yang membuat
pembacanya murung dan tertekan. Mungkin 'Ningen Shikkaku' benar-benar jawaban yang Dazai temui.
Tapi itu bukan segalanya!
Dalam karya Dazai, ada banyak karakter baik dan empati. Banyak karakternya lemah lembut dan biasa, namun melalui tekad dan usaha mereka, akhirnya sebagian besar dari mereka menjadi kuat.
Dia, terinspirasi oleh buku harian kekasihnya Shzuko Ooda tentang keluarganya yang mulia, dan menulis cerita 'Shayou'. Dalam ceritanya, heroin utama Kazuko kehilangan keluarga bangsawannya yang dicintanya, tapi
dia masih memilih untuk hidup sendiri dan hidup dengan berani. Pada bab terakhir, dengan
Pagi yang tenang sebagai latar belakang, Dazai berusaha menjelaskan bagaimana matahari dengan sinarnya yang mempesona, perlahan naik ke langit--- tidakkah kau setuju bahwa pemandangannya sangat menginspirasi! Terlepas dari kenyataan, matahari selalu terbenam di bawah cakrawala; setelah malam akhirnya berlalu, matahari
pasti akan terbit kembali!
Pemandangan indah dan ceritanya di 'Ougon Fuukei', kau tidak boleh mati tanpa pernah mengalaminya. Paling tidak, sebelum kau membaca semua karya Dazai Osamu dari depan sampai akhir seratus kali, sebelum kau menulis ribuan laporan dan analisis tentang karyanya, kau tidak boleh mati!"
Air mata yang mengalir dari wajah Takeda jatuh ke dalam cangkir bebek yang dipegangnya.
Jemarinya menyerah.
Cangkir itu jatuh ke tanah dan hancur berkeping-keping.
Takeda, dengan tangannya yang sekarang bebas, meraih tangan Kak Touko dan tanganku.

Saturday, 31 March 2018

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 12A

Aku telah hidup dalam rasa malu.
   Pertamakali aku memberitahu kelakuan memyimpangku adalah pada nenekku, orang yang sangat berharga bagiku, dia sudah meninggal dunia.
     Aku ingat, setelah nenekku mempunyai penyakit jantung, dia selalu terbaring dikasurnya setiap saat.Bagaimanapun juga, aku selalu datang dan menjenguknya, dia selalu memegang kepalaku dengan lembut dan berkata "Kau memang anak yang baik".Dia terlihat senang.Matanya akan terpejam diantara dua garis matanya saat dia  tersenyum.Tapi, aku tidak tahu kenapa nenekku berpikir seperti itu padaku.Seorang anak yang patuh dan tegas.Tangannya kurus, wajahnya yang keriput, rambut putih yang acak-acakan, dan bau busuk dari obat tercium dari tubuhnya, itu semua mengejutkan dan sangat menjijikan yang tiada akhir untukku.
     "Kau memang anak yang baik".Setiap kali, dia menggunakan suara seraknya untuk membisikannya ditelingaku, aku merasa dia meletakan kemalangan padaku.Leherku akan merasa kaku, tubuhku akan terasa sangat mengerikan.Bila nenekku tahu kalau aku bukanlah anak yang baik ; bila dia tahu semua itu, dia pasti akan sangat membencinya -- Tidak diragukan lagi, dia akan bangun dari kasurnya.Rambutnya akan ikut berdiri juga seperti Yashya, Api merah akan keluar dari bola matanya, dan dia akan memakan kehidupanku.Aku pasti akan sangat ketakutan jika itu semua terjadi.Itu akan sangat menakutkan bahkan hingga aku berbaring dikasurku saat malam, mata terbuka lebar, dan keringat dingin akan muncul dan mengalir dipunggungku
      Saat aku bertambah dewasa, aku menjadi lebih tahu perbedaan dan pemisah antara apa yang aku pikirkan dengan apa yang orang lain pikirkan.
     Hal-hal yang membuat orang lain sedih atau senang, aku tak dapat merasakan itu semua.Tidak pernah sedikitpun bergema diperasaanku.Kenapa yang lain merasa senang ? Kenapa yang lain merasa sedih ?
     Pada waktu balapan dan pertandingan dilapangan atau semacam permainan sepak bola, semua orang dengan gembira tersenyum lebar pada tim mereka ; atau ada seorang teman sekelas yang pindah sekolah, kemudian semua orang berkata selamat tinggal dengan perasaan sedih.
     Aku merasa seperti orang asing yang berdiri diantara yang lain, kegelisahan mulai muncul diseluruh tubuhku.Aku akan menyembunyikan diriku.Perutku akan mulai merasa terbelit-belit.Orang lain akan bicara tiada henti, tapi sampai saat ini aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Kenapa ? Kenapa semua orang menangis ? Ah, aku benar-benar tidak mengerti.Tapi, bila hanya aku yang terlihat tanpa emosi saat semua orang menangis, orang lain akan menganggapku aneh.Jadi, aku harus membuat diriku menangis.Tapi, bagi wajahku yang kaku ini, itu terlihat tidak mungkin.Wajahku mulai memerah lagi.Bila orang lain mengetahui bahwa aku pura-pura sedih, apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak bisa menaikkan kepalaku sekarang.Jadi, aku menundukkan kepalaku lebih bawah lagi dan memasang ekspresi sedih.
       Ah, ini waktunya semua orang tertawa bersama.Tapi apa yang lucu ? Aku benar-benar tidak tahu.Tapi, bila aku tidak menunjukkan reaksi yang sama dengan orang lain, mereka akan menganggapku aneh, dan aku tidak akan punya teman.
     Sekarang adalah waktunya tertawa, aku harus tertawa dan tertawa.Tidak, ayo menangis dan menangis.Tidak, Reaksi untuk ini seharusnya adalah gelak tawa .
      Didepan orang tuaku, guruku, dan teman sekelasku aku berusaha untuk berpura-pura dan bersikap sopan.Aku hanya harus berpura-pura, dan membuat semua orang menyukaiku.Ah, aku benar-benar berharap tidak ada satu orangpun yang akan mengetahui diriku.Yang sebenarnya adalah monster yang tidak memiliki hati manusia.Aku harap, aku dapat menyamar sebagai seorang badut bodoh, yang akan membuat orang lain tertawa terhadapku, menyayangiku, dan memaafkanku.Dan ini tidak akan pernah berkahir sampai kapanpun juga.
      Dan sampai sekarang, aku masih memakai topeng dan bermain layaknya seorang badut. .
Sampai aku masuk SMA, sampai aku bertemu S, aku tidak pernah menyadari bahwa Aku hanyalah badut.


Saat aku terengah-engah di lorong, aku menaiki tangga yang mengarah ke atap.
Catatan tangan ketiga tidak ditulis oleh Shuuji Kataoka; itu ditulis oleh Takeda.

Bagaimana aku bisa begitu bodoh?

Aku selalu menggunakan akal sehatku yang dangkal dan naif untuk melihat perempuan bernama Takeda.
Mengapa Takeda begitu bertekad untuk menemukan S?
Mengapa Takeda terobsesi dengan kematian Shuuji Kataoka?
Imajinasiku terlalu kurang.
Takeda, wajahnya yang bundar, matanya yang bersinar, tingkah lakunya yang seperti anak kecil, senyumnya yang ceria, dia hampir seperti anak anjing, kenaifannya, kepribadiannya yang dia tunjukkan--- yang kulihat hanyalah permukaannya saja.
Aku tidak pernah menduga bahwa itu semua adalah kelakuan yang dibuat oleh Takeda!


Mari kita bicara tentang S!
S adalah orang yang paling memahamiku. Dia adalah musuh bebuyutanku dan teman baikku.
Dia adalah separuh dari diriku yang menentang.
Dengan kecerdasannya yang menakutkan, dia melihat semuanya.
Semua trik badut yang aku lakukan untuk membuat orang lain berpikir bahwa aku sempurna, itu semua tidak berpengaruh kepada S.
Jadi, aku sangat takut padanya.
Karena aku takut padanya, aku tidak bisa lepas darinya.
Di kelas, di klub, aku selalu berada di pihak S.
Aku merasa mata S adalah penilaian dari sang ilahi. Rasa takut dan malu terus-menerus membuatku gemetar dan keringat dingin.
Dunia ini neraka.
Dan aku adalah budak S .
Pada hari ulang tahunku yang ke 14, S memberiku sebuah mug, yang bergambar bebek disekitarnya.

S mengatakan bahwa bebek itu tampak sepertiku.
Ketika aku menjawab dengan 'hehehe', S menatap  ke arahku dan bertanya apakah aku benar-benar ingin melanjutkan hidup yang seperti ini.
Aku menjadi takut.
Aku hanya monster yang menyamar sebagai bebek; ini sangat menyinggung S.
Aku mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain. Aku memakai ekspresi berlebihan dan mengatakan
sedikit lelucon.
Tapi S tidak tertawa; dia dengan marah berkata- 'Baiklah, kalau begitu, jadilah bebek bodoh seumur hidupmu' dan
bergegas pergi.
Aku mengejar S.
Jika S meninggalkanku, Dia akan memberitahu semua orang bahwa aku adalah monster!
Jika aku tidak bisa membuat S terhibur ...
Jika aku tidak menarik S kembali ...
Jika aku membiarkan S pergi seperti itu, aku mungkin juga akan mati---!
Ketika sampai pada kesimpulan ini, aku sengaja tersandung di jalan.
Karena kaget, S menoleh ke arahku. Dia mengerutkan kening seolah-olah dia sudah menyerah, dan berlari ke arahku.
Saat aku berdiri, sebuah mobil muncul entah dari mana; dan menabrak tubuh S yang rapuh dan terpental. Tubuhnya terbanting ke tanah, dan tetap di sana, tak bergerak.
Perempuan bernama Shizuka Saitou telah meninggal oleh tangan monster yang dikenal sebagai Chia Takeda.
Dihari itu, aku menyaksikan sebuah tubuh hancur, dan dari itu bau amis dari darah tersebar dijalan beraspal.Aku, dengan hatiku yang berlubang, berada ditempat kejadian.Aku.Telah membunuh seseorang.


'Aku benar-benar tidak mengerti'

'Meskipun sudah membaca 'Ningen Shikkaku ', aku masih belum bisa memahami ceritanya.'

'Aku benar-benar tidak mengerti, dan aku tidak terlalu pintar, aku memang tidak berguna. Dazai Osamu dan Kak Shuuji menginginkan kematian, bahkan jika aku menghabiskan hidupku untuk berpikir kenapa, aku masih belum mengerti. Aku membaca
'Ningen Shikkaku' dari awal sampai ke akhir hingga 5 kali, namun aku masih belum mengerti ... jadi pada akhirnya, yang hanya bisa kulakukan adalah menangis.Apa perasaan Takeda saat dia bilang dia tidak bisa mengerti 'Ningen
Shikkaku'?

'Jadi pada akhirnya, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis.'

Emosi apa yang melintas di kepala Takeda saat dia menangis?

'Ini terlalu aneh. Dia terlalu banyak mengeluh. Tidak ada gunanya hidup dengan sangat menyakitkan seperti itu.'
Sebenarnya apa yang ada dalam hatinya saat dia mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu?


Aku berkata kepada anak laki-laki itu, ya kita bisa mencoba jalan bersama.
Anak laki-laki itu, sama seperti anak anjing , menunjukkan senyumannya yang tidak berdosa.
Dia memiliki kepercayaan penuh pada diriku. Dia mempercayakan segalanya kepadaku.
Dia orang yang naif, alami, baik hati, positif, kambing putih yang diberkati dan dicintai oleh tuhan.
Seorang anak laki-laki seperti dia, membuatku dipenuhi oleh rasa cemburu dan benci. Pada saat yang sama, Aku juga tidak bisa berhenti
merindukan akan kealamianya.
Mungkin, hanya mungkin, anak ini, bisa mengubah diriku.

Orang-orang sering mengatakan bahwa cinta bisa mengubah seseorang.
Mungkin anak ini bisa menyelamatkanku dari kehancuran.
Mungkin mulai sekarang, aku tidak akan lagi menjadi monster tanpa rasa kasih sayang dan tak acuh. Aku akan menjadi manusia seutuhnya.
Ah, aku benar-benar ingin menjadi seseorang seperti itu.
Rasa panas membakar muncul di dadaku; aku sungguh-sungguh berdoa untuk itu.
Jatuh cinta pada anak itu.
Meski awalnya cinta itu palsu, mungkin itu akan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya suatu hari nanti.


Kata-kata yang Takeda katakan kepadaku, sekarang aku melihat mereka dalam konteks lain, itu sesuatu yang sama sekali berbeda.
Pada hari saat hujan itu, saat dia memelukku di dekat gedung sekolah; atau saat aku menanyai Takeda tentang keberadaan Kak Shuuji, saat aku menanyakan kedua pertanyaan itu, Takeda selalu menampakkan ekspresi sedihnya.
Aku benar-benar salah mengerti alasan di balik wajah sedih itu.



Aku tersenyum setiap kali aku berada di depannya; aku terus mengulanginya, dengan suaraku yang manis,
bahwa aku mencintainya.
Hari demi hari dia jatuh cinta padaku sedikit demi sedikit; hari demi hari pula aku menjadi lebih sedih dan sedih.
Bahkan jika aku masih memakai topeng badut itu sebagai penyamaranku, hatiku terasa lemah dan lelah seperti orang sekarat. Kadang aku bahkan merasa tubuhku seperti terpisah.
Pada saat hujan itu, di samping gedung sekolah, saat bibir anak laki-laki itu menyentuh bibirku,
sesuatu di hatiku sepertinya meledak. Itu bukan kebahagiaan; itu sangat menjijikkan,
begitu menjijikkan sehingga semua rambut di tubuhku berdiri.
'Ahh, kau mengejutkanku ~~!' Aku tertawa dan lari seolah aku merasa malu.

Semuanya terasa berputar. Aku ingin memuntahkan sesuatu yang panas dan padat
di dalam tenggorokanku.Sering kali aku menutup mulut dengan tangan. Begitu air hujan masuk kemulutku.
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku tidak bisa menerima ini lagi. Aku benci segalanya.
Kenapa aku masih hidup setelah aku membunuh S?
Bukankah harusnya sebaliknya?
Bukankah aku yang seharusnya terbunuh oleh S?

Bukankah karena memang itu yang kuinginkan, aku meringkuk di samping kaki S seperti seorang budak, dan
mengikutinya.
Aku benci dan takut pada S; tapi jauh di lubuk hatiku, aku menanti untuk dihancurkan oleh S.
Hanya S, itu adalah S, yang seharusnya orang yang membunuhku!
Tapi dia tidak ada lagi.
Aku, yang tercela dan rapuh, tidak dapat menghadapi kekecewaan orang lain, kecaman
dan diskriminasi. Aku hanya bisa hidup sebagai badut di dunia ini selama sisa hidupku.
Dibandingkan dengan saat aku bersama S, neraka yang aku alami saat ini jauh lebih kejam dan tidak memiliki
penebusan.



'Aku pikir menjalani kehidupan normal tidaklah buruk! Paling tidak untuk diriku sendiri, aku mendukungmu agar hidup yang sama.'
'Benarkah…'
Mengapa aku mengatakan sesuatu yang tidak sensitif seperti ini?
Aku tidak tahu tentang ini. Aku tidak tahu apa-apa.
Ketika aku mengatakan 'menjalani kehidupan normal tidaklah buruk' Takeda pasti merasakan jumlah rasa sakit dan putus asa yang tak terlukiskan.


Aku membaca sebuah surat yang ditulis oleh orang lain sepertiku.
Ini seperti melihat yang lain. Dadaku terus bergetar, tanpa jeda, air mataku terus mengalir diwajahku.
Ah, akhirnya aku bertemu orang lain yang merasakan hal yang sama sepertiku.

Hanya saja dia bisa mengerti penderitaan di hatiku.
Surat ini juga ditulis dengan meniru suratnya.
Semakin aku menulis, semakin dekat aku merasakan kehadirannya.


Takeda membaca surat Shuuji Kataoka dan menjadi sangat tertarik padanya, begitulah alasannya sehingga dia
tanpa henti mencoba mengungkap kebenaran di balik kematiannya. Dia tidak tertarik karena kualitas tulisannya.
Dia tidak tertarik padanya karena kepribadian mereka berlawanan.
Dia hanya tertarik padanya karena orang ini memiliki jiwa yang sama seperti dia; dia
ingin membuktikan bahwa orang ini pernah ada.


Siapa itu S?
Apa yang harus aku lakukan untuk menemukan kelemahan S?
Jika aku bisa menggerakkan hati S, aku akan bisa menggali semua rahasia S.
Ya, hanya S yang tahu penyebab kematiannya.
Bagaimana dia meninggal? Apakah dia memilih untuk bunuh diri, atau apakah dia dibunuh oleh S? Akhirnya, Saat ini, apa yang dia katakan? Ekspresi macam apa yang dia miliki saat dia meninggal?
Sebagai orang yang memiliki jiwa yang sama dengannya, jawaban macam apa yang sebenarnya aku cari?
Di sinilah jalanku akan menuju.
Apa alasanmu hidup? Apa alasanmu untuk mati?
Ah, aku ingin tahu. Tidak peduli apa yang terjadi, aku ingin tahu. Aku harus tahu ini.
Sepanjang waktu saat terbangun dan tidur, pikiranku tidak bisa berhenti merencanakan ini. Akhirnya, dari sebuah kejadian tak terduga, aku mendapat kunci penghancuran S.



Dengan rasa sakit yang luar biasa, seolah dadaku terbakar oleh besi yang mencair, akhirnya aku
paham.
Takeda dan Shuuji Kataoka adalah tipe orang yang sama.
Mereka berdua ingin dihancurkan oleh S--- seseorang yang paling mengerti mereka, seseorang
yang pada saat bersamaan adalah musuh terburuk mereka. Dan mereka berdua kehilangan orang terdekat mereka karena
perbuatan mereka.
Mereka sangat menyalahkan diri mereka sendiri karenanya, dan perlahan, pikiran mereka berhenti.
Setelah Takeda kehilangan teman dekatnya, Takeda diliputi rasa sakit karena kesalahannya
dan hati nuraninya. Surat dari Shuuji Kataoka berfungsi sebagai kompas yang memimpinnya untuk menemukan jalan keluar dari siksaan ini.
Jadi Takeda mulai beraksi.
Dia membiarkanku, yang terlihat seperti Shuuji, mendekati alumni Klub Memanah untuk menyimpulkan siapa S itu.
Dari juga, dia telah mengirim semua suratku padanya.


 Sedikit demi sedikit, aku perlahan-lahan menyuntikkan racun ke S ---S menjadi semakin gila. Semua ini
lambat laun terjadi di bawah mataku yang sayu.
Aku tahu sikap S tidak begitu tenang seperti dulu.
S akan terus melihat-lihat; Suara S akan bergetar.
Saat S sendirian, akan ada desahan tanpa henti. Terkadang S bahkan akan meraih rambutnya,
dan kemudian S , seolah ketakutan akan sesuatu, berbalik dan melihat ke belakang.



Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dikatakan Shuuji sebelum dia meninggal--- apakah sama seperti yang dia bayangkan?

Bagaimana dia meninggal?
Apakah itu pembunuhan? Atau bunuh diri?
Apakah seseorang membunuhnya, atau apakah dia memilih kematian itu sendiri?
Takeda ingin tahu.
Tidak peduli apapun caranya, tapi dia harus tahu.



Waktunya sudah dekat
.
Semuanya sudah siap
.
Yang tersisa adalah membuka pintu dengan kuncinya.

Wednesday, 28 March 2018

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 11

Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian tersebut.
Sejak kejadian di atap, Aku belum pernah berbicara atau melihat Takeda lagi.
Kemarin, Kotobuki bertanya kepadaku "Pacarmu belum datang ke kelas akhir-akhir ini, apakah kalian berdua putus?".Wajah Kotobuki berwarna merah. Dia menundukkan kepalanya dan mulai
untuk menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dia terdengar seperti sangat khawatir.
"Kita tidak akan pergi bersama lagi! Dan juga, dia tidak perlu berkonsultasi denganku lagi,
jadi dia mungkin tidak akan pernah datang lagi. "
"Bukan itu masalahnya; itu hanya ... selama beberapa minggu terakhir ini ... Aku mungkin telah mengatakan banyak hal ... itu ... jadi ... "
Dia mengangkat wajahnya; Saat matanya bertemu denganku, dia kembali tersipu.
"T-tidak ada apa-apa."
Dia tiba-tiba berbalik dan berjalan pelan-pelan.
Tapi saat dia berjalan pergi, dia tiba-tiba berhenti dan berlari kembali menuju kearahu.
"Jadi ... itu ... maksudku ... tidak ada apa-apa!"
Dia berteriak panik, lalu buru-buru pergi.
mungkin dia berencana untuk meminta maaf kepadaku. Meskipun dia mungkin mengatakan sesuatu yang buruk dari waktu ke waktu, dia mungkin bukan orang jahat.
Aku  masih pergi ke Klub Sastra setiap hari. Aku dengan ketidak mengertian mendengarkan pidato Kak Touko tentang prinsip kehidupan acak atau ulasan buku, dan menuliskan 3 topik sebagai makanan ringan Kak Touko.
"Topik untuk hari ini adalah' stapler ','taman hiburan ', dan'Panci kambing panas' Batas waktu adalah 50
menit, dimulai dari sekarang! "
*Mulai*

Kak Touko meletakkan tangannya di sandaran kursi dan mengangkat tubuh bagian atasnya ke depan. Dia
menekan tombol pada jam peraknya untuk memulai timer. Sepatunya terlepas dan dia duduk dengan lutut ditekuk diatas kursi. Postur tubuhnya sekali lagi sama sekali tidak tepat.
"Apa itu 'Panci kambing panas'?"
"Kau tidak pernah mendengarnya? Kambing itu--- masakan yang terbuat dari daging kambing yang dimasak diatas sebuah panci. Pada malam terakhir ini, ada acara TV tentang laporan berita, bagian berita bisnis lokal berbicara tentang restoran di Ginko. Mereka mengiris
daging domba menjadi tipis ~~~~~~~~  dan dengan cepat memasukannya kedalam panci sup mendidih.
Mereka sama sekali tidak memiliki selera daging kambing yang lucu. Dan mereka begitu lembut sehingga jika kau memakannya setengah
mentah, mereka akan meleleh di lidahmu.Setelah dimakan, itu sama seperti puding anggur, itu tampak sangat
enak.Setelah makan makanan panas, jika kau ingin makan sesuatu yang sejuk dan manis, itulah yang terbaik.
Jadi tolong tulis sesuatu yang akan meleleh di mulut seperti panci kambing panas, sejuk dan manis
seperti pudingnya. "
"Bisakah kau berhenti membuat perbandingan yang membingungkan? Gosh ... kau terlalu mudah terpengaruh oleh TV
dan majalah. Selanjutnya, bagaimana kau menghubungkan hal-hal acak seperti 'stapler', 'taman hiburan',
dan 'Kambing panci panas' bersama-sama? "

"Itulah dimana seorang koki bisa memamerkan keahliannya! Hoho, aku sangat menantikannya. "
"Kalau begitu Kau bisa menulisnya sendiri dari waktu ke waktu."
Menanggapi itu  Kak Touko mengangkat jari telunjuknya dan dengan serius berkata,
"Konoha, sebagai kakak kelasmu, aku sedang mengajarimu cara hidup."
"Apa itu?"
"Makanan yang disiapkan oleh orang lain terasa sepuluh kali lebih baik daripada makanan yang kau buat sendiri."
"Omong kosong."
"Dan Juga, juga, makanan yang disiapkan seseorang dengan sepenuh hati yang berdedikasi itu seratus kali lebih baik! Itu benar!"
Dia secara tidak langsung mengatakan 'jadi tulislah dengan segenap hatimu'. Dia meletakkan dagunya di sandaran, dan
menatapku dengan gembira.
Itu dia. Aku memutuskan untuk menulis cerita tentang seekor anak domba yang seperti landak, memiliki banyak stapler
menggantung dipunggungnya  tersesat di taman hiburan, ditipu oleh penyihir, dan berakhir di
Sebagai makanan hotdog si penyihir.
Pulpenku mulai menulis di 50 halaman kertas, Kak Touko menatapku.
"Aku tidak bisa menulis jika kau terus menatapku. Silahkan kau baca buku saja. "

"Oke, Mr. Chef."
Sama seperti yang dia katakan, dia berbalik. Saat mengayunkan kakinya, dia mulai membaca buku-buku lama di dalamnya
ruangan ini.
Pada saat ini, hanya suara goresan pena yang menggosok kertas, dan suara berderit.Suara dari balikan halaman buku bisa didengar di ruang tertutup dan berdebu ini.
Setelah beberapa saat,  Kak Touko, bersandar ke arahku, berkata,
"Hei Konoha, menurutmu apa yang sedang dilakukan Takeda sekarang?"
Tanganku berhenti sejenak.
Namun aku tidak ingin dia tahu bahwa aku juga bingung, jadi aku dengan segera menulis lagi.
"Siapa yang tahu ... itu bukan urusanku lagi."
"Tapi dia belum memberi laporannya kepadaku!"
 Kak Touko menoleh dan menatapku.
"Konoha, bisakah kau pergi ke Takeda dan mengambil laporannya untukku?"
Aku terdiam.
"Apa yang kau bicarakan?! Aku tidak mau. "
"Tapi, tapi, tapi kita sudah berjanji. Ketika bantuan itu berakhir, dia harus memberiku laporannya. "
"Kau pasti akan sakit perut memakan hal itu! Aku tidak akan pergi! bagaimanapun, aku tetap tak mau pergi! Jika kau
Benar-benar ingin makan makanan yang tercemar itu,  Kak Touko, kau bisa pergi dan mendapatkannya sendiri. "
Kak Touko tampak sedih lagi.
Terkutuk. Aku mungkin telah mengatakannya terlalu berlebihan.
"... Konoha, Takeda memang berbohong padamu, tapi tidak semuanya adalah kebohongan; beberapa dari mereka benar,
Kan?
Kau tidak pernah meminta alasan di balik tindakan Takeda. Apakah kau benar-benar ingin ini berakhir seperti
ini? Saat kau menulis surat cinta, apakah kau dengan sepenuh hati ingin membantunya? "
"..."
Aku tetap diam dan terus melanjutkan dengan menulis.

"Aku sudah selesai."
Aku merobek 3 halaman draft notepad dan menyerahkannya kepada  Kak Touko.
"Silakan kau habiskan mereka."

'stapler membawa domba kesebuah taman hiburan dan menjadikannya bahan untuk sebuah hotdog' cerita itu pasti terasa cukup aneh.
 Kak Touko, dengan air mata di matanya, mencoba memasukkan 3 halaman ke tenggorokannya.
"Uu ... Buruk ... uun. Inilah yang sejujurnya sudah kukira, Ap--- apa rasa yang kompleks ini. Ini benar-benar,
benar-benar buruk ... uun ... lezat ... enak ... benar-benar ... .uu ... kalau aku meyakinkan diriku sendiri ini enak, pasti akan
menjadi lezat ... uu .... "
Aku tidak bisa menangani orang ini.
Semua cerita absurd yang aku tulis dan tidak masuk akal, dia benar-benar menelannya.
Aku pikir itu sama dengan musim semi tahun lalu, ketika aku pertama kali bergabung dengan klub sastra.
Aku sengaja menulis sebuah cerita yang sangat buruk. Dari awal sampai akhir tidak ada tanda baca tunggal, atau
bahkan cerita yang konsisten. Dia juga setengah menolak ketika menelan ceritanya.
"Terima kasih untuk makanannya. Mari kita lihat ... . pemberian tanda baca adalah simbol tanda baca yang dimasukkan ke dalam
fase untuk memberi pembaca kesempatan untuk beristirahat di sela bacaan. Jika terlalu banyak tanda baca akan memecah laju ceritanya, mungkin lebih baik menulis kelebihan dari dari awal. Mungkin juga lebih baik mengurangi sajak. "
Sama seperti ini, dia dengan idiot memberiku ulasan yang serius.
Tidak peduli berapa kali aku menulis cerita secara tidak masuk akal,  Kak Touko masih akan memakannya. Lalu, Keesokan harinya, dia akan datang ke kelasku dan berkata,
"Ini waktunya untuk klub, Konoha."
Dia akan menyapaku sambil tersenyum.
Mungkin dia menyadari bahwa saat itu aku mengunci diri dalam kamar dan menghindari interaksi dengan orang lain
, dan karenanya dia tidak bisa mengabaikanku.
Dia mungkin tampak sangat letih dan yakin pada dirinya sendiri; seorang gadis sastra yang berada didunianya sendiri dan orang yang mengabaikan hal-hal yang mengelilinginya. Sebenarnya Kak Touko adalah pemarah selama Aku bersamanya selama satu tahun; Mungkin pengaruhnya memiliki efek yang lebih besar padaku melebihi yang aku
pikirkan.
Keesokan harinya sepulang sekolah, aku datang ke perpustakaan untuk mencari Takeda.
"Apapun alasan yang membuat Takeda karena telah menipuku aku tidak peduli lagi.Aku datang ke sini hanya karena
 Kak Touko tidak akan berhenti membicarakan tentang laporan Takeda, jadi aku tidak punya pilihan selain meberitahunya cepat-cepat. "
Saat aku bergumam pada diriku sendiri, aku menuruni tangga spiral berkarat yang terhubung dengan
ruang penyimpanan buku di bawah tanah.
Langkahku secara bertahap terdengar oleh kesunyian diruang bawah tanah.
Aku berjalan menuruni tangga terakhir dan mengetuk pintu. Suara yang waspada menjawabku,
"Y-Ya."
"... aku Inoue dari Klub Sastra."
"Kak Konoha! T-tolong tunggu sebentar! "
Dari dalam ruangan aku mendengar suara-suara buku jatuh, ada sesuatu yang bergerak, bunyi tikus,
dan "Shu, pergi" (untuk menyingkirkan tikus). Setelah beberapa saat terdiam, Takeda akhirnya
membuka pintu.Dia menundukkan kepalanya dengan ragu-ragu.
"Itu ...  masuklah. Aku sudah mengusir tikus itu. Seharusnya ... Sudah tidak ada sekarang. "
"…Terima kasih."
Aku menerima tawarannya dan masuk.
Ruang penyimpanannya sama seperti saat aku masuk sebelumnya. Bau kertas tua meresap diruangan. Ruangan ini gelap dan berdebu.
Lampu di atas meja itu seperti lampu jalan di jalan yang panjang dan sepi. Menyala dengan redup.
Di atas meja ada botol air berwarna jingga dan merah dan sebuah cangkir dengan bebek tercetak disekelilingnya. Di sampingnya ada sebuah kotak biskuit logam.
"...  Kak Touko memintaku untuk menanyakan laporannya"
Takeda menurunkan kepalanya.

"Aku sangat minta maaf. Aku mencoba menulisnya, tapi ketika aku membaca semuanya ... itu tidak akan ... Aku benar-benar kurang berbakat dalam menulis."
Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan sebagai tanggapan, jadi aku tetap diam. Takeda menahan kepalanya; -nya
tubuh tampak menyusut saat ia melanjutkan-
"Aku telah berbohong kepada Kak Konoha dan Kak Touko, aku sangat menyesal. Aku ... Aku ingin menjadi seorang detektif. Setiap
hari dalam hidupku sangat sederhana dan membosankan ... Aku berpikir bahwa jika aku menemukan seseorang yang aku sukai, aku mungkin bisa berubah. Jika aku pergi dengan anak laki-laki, dan memaksa diri untuk menyukainya, maka hidupku akan sedikit
lebih baik ... tapi aku tetaplah bebek jelek ... aku tidak bisa menjadi seorang putri. Awalnya aku
merasa cukup bahagia; Tapi aku sudah terbiasa dengan ini, ah, ini sama saja ...
Pada saat itulah aku menemukan surat Shuuji di sini.
Setelah aku membacanya, dadaku terasa mengerikan, aku bahkan menangis saat membacanya.
Aku ingin tahu lebih banyak tentang orang ini.
Aku ingin lebih dekat dengan orang ini.
Jika aku bisa melakukan itu, maka mungkin aku bisa mengubah diriku menjadi seseorang yang berbeda. Bahkan orang sepertiku mungkin memiliki kesempatan untuk mengalami kejadian yang membuat detak jantungku berdebar-debar, berkibar,
cerita menarik
Ini ... inilah yang aku pikirkan. "

"... kaulah yang memotong potret dari buku tahun itu, bukan?"
"Ya. Ketika aku menyelidiki dan belajar lebih banyak tentang  Kak Shuuji, aku menjadi lebih terpaku pada pencarian
Kebenaran di balik bunuh diri  Kak Shuuji.
Setiap hari sepulang sekolah aku akan mengunci diri di ruangan ini, dan membayangkan skenario yang akan terjadi. Melakukan hal itu membuatku sangat ceria--- hampir terasa seolah-olah aku telah menjadi seorang
detektif sejati.Aku begitu kaget ...
Ketika aku melihat  Kak Konoha membagikan selebaran kepada siswa baru---kau terlihat sama seperti Kak Shuuji dan membuatku tercengang.
Dan kemudian, aku punya ide.
Jika aku bisa mengatur pertemuan antara Kak Konoha dan alumni klub memanah, aku akan bisa mencari tahu siapa S; dan dari situ aku akan menemukan kebenaran tentang
Kematian Kak Shuuji. "

Mungkin karena ini, Takeda menggunakan kotak surat saran cinta  Kak Touko untuk mendekatiku, dan menyelesaikan
tujuannya

'Kak Shuuji itu nyata! Itu benar!'

Takeda berulang kali menegaskan hal itu.
Bagi Takeda, Shuuji Kataoka bukanlah seorang khayalan yang hanya ada dalam suratnya;
Dia adalah orang sungguhan dengan darah dan daging.
Takeda sangat percaya itu.
Selanjutnya, Kak Shuuji adalah sosok yang sangat penting di hati Takeda.
Tapi sekarang, Takeda terlihat sangat kesepian.
"Ini adalah perilaku bodohku yang membuat Kak Konoha menjadi punya banyak masalah. Aku sangat minta maaf. Lain
daripada kepahitan yang baru aku temukan, tidak ada yang berubah dariku. "
Takeda dengan lembut mengangkat cangkir bebeknya.
"Sahabatku, yang memberiku cangkir ini, dia meninggal karena kecelakaan dua tahun lalu. Dia seperti Sakiko, dia ditabrak mobil ... "
Itu sebabnya!
Alasan mengapa Takeda begitu terobsesi dengan  Kak Shuuji.Barangkali karena, sama seperti Kak Shuuji, dia juga punya seseorang yang meninggal karena kecelakaan mobil.Mengikuti garis tersebut.
Dan aku rasa, aku bisa mengerti sedikit dari perasaan Takeda; dadaku menjadi sedikit terisi.
"... Perempuam itu sangat kuat, sangat optimis disegala hal. Dia juga sangat cerdas, seorang ketua
dari kelasku. Mungkin, jika dia tidak bersamaku dia harusnya sudah menjalani kehidupan yang indah ... "
Suara Takeda meluncur ke gumaman yang hampir tak terdengar.
Matanya yang menatap mug itu, sekarang tercampur dengan duka.
"Takeda ... Menurutku, menjalani kehidupan normal tidaklah buruk! Setidaknya untuk diriku sendiri, aku mendukungmu untuk menjalani hidup yang sama. "
"Benarkah…"
Takeda tersenyum kosong.
Lalu, dia menyentakkan kepalanya ke atas, dan dengan nada tiba-tiba, dia dengan cepat berkata-

"Kau tahu? Hari ini adalah peringatan 10 tahun kematian Shuuji. Jadi aku akan ... membuat diriku sedikit mengenang
dari kenangan terakhirnya.Tapi, aku harus pergi sekarang. Hiro pasti sedang menungguku. "
Takeda mulai membersihkan barang-barang di mejanya.
Meskipun dia memiliki senyuman di wajahnya, sedikit air mata bisa terlihat di matanya. Untuk mencegah
Air mata yang keluar, dia mencoba membuka matanya selebar mungkin, jadi ekspresinya
tampak sangat tidak wajar.
Takeda mengambil barang-barang pribadinya, menoleh ke arahku, dan dengan nada tertawa berkataku-
"Aku akan pergi dulu. Aku sangat senang bisa berbicara dengan Kak Konoha hari ini. Terima kasih telah datang menemuiku"
"Takeda ... Lakukan yang terbaik, kau tidak usah memaksakan diri untuk menulis laporan. Ini tidak seperti pekerjaan yang menyenangkan.
Bahkan jika kau menulis itu, kau tidak akan berubah, aku pikir ... "
Dalam sekejap, wajah Takeda menjadi sedikit linglung. Dia berkedip beberapa kali dan mendongak. Sebuah
Seringai muncul di sisi mulutnya.
"Itu benar ... bahkan jika aku menulisnya ... itu akan dipenuhi dengan cerita tragis ... tidak akan ada yang berubah…"
Meskipun dia hanya mengulangi apa yang telah aku katakan, aku merasakan sakit menusuk dadaku saat aku
mendengar itu.
Ah, itu benar. Bahkan jika laporan itu ditulis, tidak ada yang akan berubah.
Menulis tidak bisa menyelamatkan siapapun.
Takeda berkata lembut, "Selamat tinggal."
Dan memberiku senyum terakhirnya.

Di ruang penyimpanan buku beraroma ini, saat dia menaiki tangga spiral, aku diam-diam mendengarkan
langkah kakinya yang menjauh.
Tiba-tiba aku teringat pemandangan hujan dimana Takeda menangis di dadaku.

Dan kemudian, aku teringat senyum yang Takeda lakukan saat sedang makan siang bersama pacarnya
di halaman.
Kak Soeda dan Kak Rihoko memilih untuk membawa beban Shuuji Kataoka disisa hidupnya.
Dan Takeda akhirnya bisa lulus dari masa lalu Kak Shuuji.
Setelah itu, dia dan Hiro akan bersama-sama menjalani hari-hari yang damai dan normal.
Dengan tulus aku berharap agar Takeda bisa hidup bahagia selamanya.
Tapi itu hanya angan-anganku.
Dazai, dalam 'Ningen Shikkaku'-nya, mengatakan bahwa berlalunya waktu adalah penyembuhan, atau penebusan, yang
diberikan kepada semua orang secara setara.

Pada saat itu aku merasa sedikit sedih, jadi aku memutuskan untuk berjalan di antara rak buku
dan dengan linglung aku melihat-lihat judul tumpukan buku itu.
Aku pernah membaca buku itu ... Aku tidak pernah membaca buku itu ... Aku hanya melirik buku itu ... Dalam keadaan remang-remang.
Diruangan ini, segala macam judul yang berbeda terlihat di penglihatanku.
"Ah…"
Saat melihat sebuah judul, aku berhenti.
"Ini 'Ningen Shikkaku'..."
Mungkin ini buku khusus yang berisi surat-surat Kak Shuuji.
Aku mengulurkan jari telunjukku dan mencoba mengeluarkan buku itu. Buku itu disimpan dalam kotak bersampul;
penutup kuning pudar dihiasi titik-titik warna teh.
"Uuh, bukunya macet."
Aku tidak bisa menarik buku itu.
"... Hm, apa yang menempel pada buku itu ...? Wah! "
Di bawah tarikan kuatku, buku dan benda seperti notebook terbang dan jatuh ke tanah.

Dengan refleks aku membungkuk untuk mengambil buku itu, dan ada sesuatu yang terlihat oleh mataku. Aku kaget.
Sepotong foto kecil ada di lantai. Foto itu, yang tampaknya telah dipotong oleh
sepasang gunting, punya seorang anak laki-laki di dalamnya. Anak laki-laki itu, wajahnya hampir identik denganku, dan dia menatapku kembali.
Tepat di samping foto ada buku catatan dengan gambar bebek yang tercetak di sampulnya.
Untuk alasan apapun, sepertinya seseorang sengaja menyembunyikan buku catatan ini di sini.
Apalagi disembunyikan di antara 'Ningen Shikkaku'.
Ini seperti aku tiba-tiba merasakan perasaan sesak di dadaku.
Aku mengambil buku catatan itu dari tanah, dan aku buru-buru membaca buku catatan berukuran kecil itu.
Ketika aku melihat baris pertama buku catatan itu, aku merasa seolah-olah aku jatuh kedalam jurang.
Aku memaksa diri untuk terus membacanya; Aku menahan diri sampai aku mencapai dan menyelesaikan halaman terakhir.
Dengan segera aku mengutuk kebodohanku sendiri, menutup buku catatannya, dan berlari keluar
pintu.

Tuesday, 27 March 2018

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 10

Pertama kali aku bertemu Kak Touko adalah setahun yang lalu.
Musim dingin yang panjang akhirnya berakhir. Aku akhirnya bisa merasakan hangatnya udara. Itu adalah
siang di bulan April.
Ketika orang tidak peduli lagi dengan Inoue Miu, akhirnya aku bisa melepaskan beban berat sebagai 'Penulis Bishoujo yang jenius'.Stres yang tiba-tiba, benar-benar membuat lemah tubuhku.Selain itu, luka yang aku terima dari kecelakaan diatappun belum sembuh.
Meskipun aku masuk SMA, aku tidak aktif dalam berteman; Aku juga tidak ingin bergabung dengan klub apapun. Saat istirahat makan siang atau sepulang sekolah, aku akan berdiri di tengah halaman dan melihat tanaman yang berdiri disana. Aku akan mengulangi aktivitas membosankan yang sama setiap hari.
Suatu hari sepulang sekolah, saat aku berjalan-jalan di halaman, aku melihat seorang perempuan sedang duduk
Di bawah pohon manglietia putih. Kepang Prancisnya sampai ke pinggang. Dia bersandar dibawah pohon dan sedang membaca sesuatu.
Alisnya sangat panjang, dan kulitnya sama seperti bunga manglietia putih. Rasanya, Udara di sekelilingnya sejuk dan bersih.
(Aku jarang sekali melihat orang-orang dengan kepang yang panjang seperti ini. Dia tampak seperti seorang perempuan dari periode kuno .. Tapi dia terlihat sangat dewasa, dia mungkin lebih tua dariku ...)
Ketika aku sibuk mengamatinya dan mencoba mencari semacam kesimpulan? Wanita itu merobek salah satu halaman.
(Eh?)
Saat aku berdiri tertegun, dia memasukkan salah satu potongan kertas itu ke dalam mulutnya.
(Ehehe?)
Lalu murid perempuan itu mulai mengunyah robekan kertas itu.Semuanya terasa seperti sebuah mimpi, aku hanya berdiri di sana dan menatapnya, juga tertegun tak bergerak. Tiba-tiba perempuan itu
mengangkat kepalanya dan melihatku
(!)
Saat mata kami bertemu, jantungku berdegup kencang.
Murid perempuan itu tersipu malu dan berkata malu-malu,
"Kau melihatnya ..."
"I-itu ... Tidak!"
"Siapa namamu? Kelas berapa kau?
"Inoue Konoha. Kelas 2 tahun pertama "
.Lalu gadis itu mulai tertawa. Tiba-tiba ekspresinya berubah dari senang menjadi seperti sedang menyalahkanku.
"Jadi kau pelajar tahun pertama! Kalau begitu, kau bergabung dengan Klub Sastra. "
"Apa? Klub ... Sastra? "
Aku membuka mataku lebar-lebar dan melihat kepang Perancis yang panjang, kulitnya yang cantik, putih dan jernih, perempuan yang merobek halaman dari buku dan kemudian memakannya. Dia melanjutkan,
"Aku tidak bisa membiarkan rahasiaku bocor, jadi aku harus membuatmu tetap berada di sisiku sehingga aku bisa mengawasimu.
Mulai hari ini, kau adalah anggota klub Sastra. "
"Apa???? T-tunggu sebentar-aku tidak ingin bergabung dengan klub manapun.Lagipula siapa kau? "
"Aku adalah Amano Touko dari kelas 8 ditahun kedua. Seperti yang kau lihat, aku adalah 'Gadis Sastra.'"
Begitulah cara kami bertemu.
Setelah kita bertemu, selama sebulan penuh, setiap sepulang sekolah, Kak Touko akan mendatangiku kekelas dan mencariku
"Konoha, saatnya aktivitas klub."

Dia seperti seolah-olah seperti seorang ketua kelas yang menyuruh teman sekelasnya untuk datang kesana setiap pulang sekolah, menyeret tanganku dan membawaku ke ruang klub Sastra yang terletak di lantai 3 dibagian barat
.
Ketika sampai di ruang klub, dia menyerahkan setumpuk halaman kertas dan berkata,
"Pernahkah kau mendengar latihan menulis '3 topik dalam 1 cerita'? Yang mana
Orang yang bijak akan berimprovisasi dengan sebuah cerita berdasarkan 3 topik yang diberikan pendengar kepadanya. Aku akan memberimu 3
kata-kata, dan kau harus menulis sesuatu dengan menggunakan 3 kata ini sebagai topik. Itu tidak masalah
apakah itu puisi, cerita pendek, atau dongeng, cukup tulis sesuatu. Uhnnn ... Kalau begitu ayo mulai dengan, 'salju', 'Teh Hijau', 'Arinkokororin' kau punya 50
menit untuk menyelesaikannya kalau begitu, mulai dari sekarang! "
"Apa itu Arinkokororin ?!"
"Hei, mulailah menulis, atau aku akan menimpakan nasib malang padamu."
Begitulah, aku mulai menulis cerita setiap harinya.
"Aku makan cerita karena bagiku itu sama seperti roti atau nasi. Biasanya aku makan buku, tapi yang sebenarnya aku suka makan adalah
Cerita yang ditulis tangan diatas kertas. Cerita cinta itu manis dan enak, jadi aku lebih suka itu
lebih dari pada yang lain. Itulah mengapa kau harus menulis beberapa cerita yang manis! "
Kebiasaan bisa menjadi hal yang menyeramkan. Tidak butuh waktu lama hingga aku harus bisa menulis cerita tanpa perlawanan.
Sebagian besar, itu karena dia selalu mengkritik karyaku tepat di depanku dengan "Hmmm ...
itu sepertinya kehilangan rasa tertentu "atau" Mmmm ... strukturnya terlalu lemah ", dan pada saat yang sama, dia memakan
semua yang kutulis ke dalam perutnya. Melihatnya seperti ini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerah.
Tanpa aku sadari, aku selalu pergi ke ruang klub setiap sepulang sekolah, tanpa
Butuh Kak Touko datang ke kelas untuk menjemputku.

"Kakak, kau tampak bahagia akhir-akhir ini. Apakah ada sesuatu yang baik terjadi di sekolah? "
"Tidak, tidak ada yang terjadi.semuanya seperti biasanya."
Aku menghabiskan hari-hariku dengan sebuah buku yang disobek, dan kemudian dimakan oleh kakak kelasku--- dapatkah ini benar-benar digambarkan sebagai
normal? Meskipun pertanyaan ini tetap ada di hatiku, tapi ini sangat luar biasa, kapan pun aku tinggal
kelas, dengan dinding yang diterangi matahari dan debu kecil menari di dalamnya, aku akan merasa bahagia . Terkadang saat aku tidak bisa tahan dengan kata atau tindakan Kak Touko dan membalasnya, ini juga
membuatku merasa bahagia. Hanya di depan Kak Touko aku tidak perlu memaksakan diriku untuk tersenyum.
Hari demi hari, aku kembali ke Klub Sastra.
"Selamat siang, Konoha."
"Aku lapar ~~~, Konoha."
"Wah, kertas hari ini sangat manis dan lezat ~~~. Konoha kau luar biasa! "
"Gosh, Konoha! Kau sama sekali tidak menghormati kakak kelasmu! "
"Jangan panggil aku monster ~~~! Aku hanya seorang 'Gadis Sastra' biasa. "
Hari demi hari aku akan mengobrol dengan Kak Touko; aku akan menulis makanan ringan untuknya. Melihat Kak Touko tersenyum, aku mulai berhenti memikirkan Miu untuk selama-lamanya.
Itu sebabnya aku pasti akan dihukum.
Maaf, Miu, aku minta maaf.
Aku belum melupakanmu.Hanya saja bila aku mengingatmu rasanya sangat menyakitkan.
Cerita yang kau tulis, semuanya sangat hangat dan manis. Itu, seperti bintang yang berkedip
bagi mereka yang membacanya.Kau, yang berbagi impianmu denganku, sangat memesona hingga aku jatuh cinta padamu.
Tapi kenapa, kenapa kau pada hari itu, menerjunkan dirimu dari atap? Aku masih belum tahu kenapa kau melakukannya
.
Aku tidak bisa menulis lagi.
Karena semuanya palsu. Karena aku hanyalah cangkang.
Penulis Inoue Miu tidak ada lagi.
Dia tidak akan pernah menulis lagi. Dia tidak bisa menulis, juga tidak ingin menulis.

Saat aku membuka mata, seseorang dengan lembut memegang tanganku.
Langit-langit putih.
Dindingnya putih dan Seprai yang berbau obat.
"Apakah ini ... rumah sakit?"
"Tidak. Ini diUKS. "
Kak Touko menjawab.
"Konoha, kau pingsan di atas atap.Kak Manabe membawamu keUKS.aku sebenarnya
ingin membawamu, tapi ketika aku mencoba mengangkat bahumu, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh kelantai. Aku orang khusus seni, Kau tahu, aku tidak bisa melakukan pekerjaan fisik dengan baik ... "
Kak Touko sedang duduk di kursi di samping tempat tidur, dan dengan lembut memegang tanganku.
Di antara tirai, sinar oranye menerangi melewati celahnya.
"Aku ... berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Sekitar 2 jam. Kau berkeringat banyak sekali ... sepertinya kau mengalami mimpi buruk. "
Kau memegang tanganku sepanjang waktu, bukan?
"Bagaimana dengan Kak Soeda dan yang lainnya?"
"Kak Soeda dan Kak Rihoko pulang bersama. Aku pikir cinta dan kebencian mereka terhadap Kak Shuuji akan terus berlanjut selama sisa hidup mereka .... mereka memutuskan untuk menghukum diri mereka sendiri. "
Kak Soeda menangis dan meratapi bahwa ini seperti neraka.
Dua orang itu, mereka akan tetap bersama sebagai keluarga, bukan?
Kak Touko dengan lembut membelai punggung tanganku. Lembut, pelan ... seolah dia menghiburku.
"Kak Manabe dan Takeda juga sudah pulang. Takeda ... Konoha, dia ingin aku memberitahumu
'Maaf telah menyeretmu kedalam masalah ini.'"
"Alasan mengapa Takeda membawaku ke klub memanah adalah membiarkan para alumni melihatku. Aku terlihat sama seperti Shuuji Kataoka, itu sebabnya dia berusaha mendekatiku. "
"Mungkin…"
Kata Kak Touko dengan putus asa.
Rasa panas mengalir didadaku. Tenggorokanku mulai bergetar.
Takeda hanya memanfaatkanku.

Semua surat yang aku tulis, semuanya sampah.
Takeda, Kak Soeda, Kak Rihoko, Kak Shuuji--- semuanya berbohong.
Mereka menyembunyikan kebenaran.
Jika itu yang terjadi, maka seharusnya mereka memegang kebenaran itu sampai akhir. Mengapa mereka mengatakan yang sebenarnya sekarang, dimana keadannya sudah jauh berbeda?
Kenyataan yang kejam menikamku dengan keras.
Karena ini, hatiku, yang telah aku letakkan di bawah lapisan perlindungan untuk mencegahnya
terluka lagi, menjadi terbuka kembali. Kesedihan, rasa sakit, kasihan, penyesalan, semua emosi ini
menyerangku pada saat bersamaan.
Semua emosi yang berbeda bercampur menjadi satu, aku tidak tahu bagaimana menghadapi mereka. Aku sudah
tidak berdaya. Tenggorokanku terasa sakit, seluruh tubuhku terasa panas, dan bagian dalam tubuhku terasa seperti menderita luka bakar, mereka sangat menyakitkan.Aku menarik tanganku dari Kak Touko, dan menggunakannya untuk menutupi wajahku.
Jika aku tidak melakukannya, dia akan melihat wajah menangisku.
"Aku sudah tidak tahan ... Jangan menunjukkan lagi kegelapan dan kenyataan yang pahit. Aku hanya ingin
jadi orang normal dan hidup normal. Aku tidak ingin mengalami kekacauan, petualangan, atau
drama detektif.Tidak ada lagi rasa sakit, dukacita atau kepahitan.Tapi kenapa? Meski semua orang mengerti kedua belah pihak akan terluka, mereka tetap mengungkap rahasia
dalam hati mereka kepada orang lain? Apakah mereka benar-benar ingin mengatakannya sebanyak-banyaknya? Apakah mereka benar-benar begitu naif? Apakah mereka benar-benar ingin orang lain diselimuti oleh emosi seperti dukacita, rasa sakit,
dan kebencian? Apakah mereka mencari pembunuhan? Apakah mereka mencari kematian?
Apa yang dirasakan Kak Shuuji, apa yang Kak Rihoko rasakan, apa yang Kak Soeda rasakan, apa yang dirasakan oleh Takeda, aku tidak
mengerti apa-apa.
Semua orang--- tidak normal. Mereka terlalu aneh. Aku membenci  Dazai Osamu. "
Air mata meluncur di wajahku. Kaus bajuku, dan seprai tidur dibasahi
air mata.
Leherku menjadi dingin.
Aku tidak mengerti.
Aku benar-benar tidak mengerti apapun.

Kak Shuuji dan Miu sama-sama tidak ingin hidup. Mereka berdua memilih untuk terjun dari atap gedung.
".*Hiks*.. Mengapa hal-hal kejam seperti ini terjadi lagi dan lagi ... Yang mana yang tidak normal,
Mana yang normal? ... *Hiks* ... aku, aku tidak mengerti, Kak Touko. "
Di ruang berbau desinfektan[Catatan : Sejenis obat], aku terisak-isak.
Kak Touko tidak mengatakan penghiburan apa pun.
Dia hanya sedih dan berkata,
"Kau harus menemukan jawabannya sendiri. Bahkan jika itu menyakitkan ... bahkan jika itu menyedihkan ... bahkan jika
itu pahit ... Kau harus menggunakan kakimu sendiri untuk menemukan jawabannya. "
"Kalau begitu ... * hiks *, tidak masalah jika aku tidak tahu jawabannya ... aku bisa hidup meski aku tidak tahu
jawabannya ... "
Ketika aku mengatakan ini, ekspresi seperti apa yang dimiliki Kak Touko?
Aku terlalu naif untuk bertanya kepada Kak Touko , yang merupakan manusia normal sepertiku.
Kak Touko bukanlah peramal, juga bukan anggota dewan atau psikiater.
Bahkan jika dia adalah monster yang menelan cerita yang ditulis di selembar kertas, dalam setiap aspek lainnya,
dia sama sepertiku. Dia hanya seorang siswi SMA. Dia hanya seorang Gadis Sastra.

Kak Touko tidak mengatakan apa-apa.
Matahari akhirnya terbenam. UKS semakin gelap dan dingin, dia diam-diam tetap berada di sampingku sampai aku berhenti
menangis.

Tuesday, 13 March 2018

Novel Aku Dan Gadis Sastra : Other Story Bagian 9B

Aah, ini suatu kesempatan yang serius. Apakah dia menyadari apa yang dia katakan?
Aku menjatuhkan dahiku ke lantai beton panas yang terbakar karena disinari oleh sinar matahari. Seluruh tubuhku
tertatih-tatih. Itu Kak Touko dia datang;Tidak peduli apa yang terjadi, dia akan selalu menjadi Kak Touko.

"Dan juga, kepada anak laki-laki yang terbaring di lantai, aku adalah Kakak kelas yang baik, paling baik, dan yang paling imut. "
Siapa yang akan memuji diri Sendiri seperti itu ... Kak Soeda dan Takeda sama-sama terdiam.
Kak Touko, dengan kepangnya yang berayun di belakang punggungnya, perlahan berjalan ke arah kami.
"Istri Kak Soeda dan teman-temannya datang ke Klub Sastra untuk menemuiku. Mereka datang
untuk menanyakan keberadaan Kak Soeda. "
Di belakang Kak Touko berdiri alumni Kak Manabe dan Kak Rihoko. Saat melihat mereka,
Kak Soeda menjadi bingung. Wajahnya menjadi pucat dan dia berteriak-
"Rihoko, Manabe! Kenapa kalian berdua ada di sini? "
Kak Rihoko hanya menutup matanya.
"Kau telah bersikap aneh akhir-akhir ini ... Seolah-olah Kau takut pada sesuatu, sesuatu
yang
Sepertinya menyibukkan dirimu. Dan kemudian, hari ini, saat Aku membersihkan kamarmu, Aku menemukan sepucuk surat.Aku
melihat bahwa pengirimnya adalah Kataoka, maka Aku membuka dan membacanya. Karena terkejut, Aku menelepon ke tempat kerjamu dan
mendengar bahwa Kau mengambil cuti sakit. Aku sangat khawatir, jadi aku ... "

"Rihoko menghubungiku lewat telepon. Dia bilang kau mungkin datang ke sekolah untuk menemui Konoha, Bukan, tapi untuk menemui Shuuji. Apakah kau benar-benar menusuk Shuuji .... Soeda? "
Suara Kak Manabe dipenuhi rasa bingung.
"Aku tahu kau menyukai Sakiko Kijima, aku juga merasa bahwa kau tidak begitu ramah terhadap Shuuji.
Tapi untuk membunuhnya? Jika itu benar maka aku ... "
Kak Manabe melihat Kak Rihoko, dan mengepalkan tangannya seolah sedang memegang sesuatu.
Kak Rihoko masih tertunduk. Kedua lengannya memegang erat perutnya.
Istri dan teman--- dia telah menghubungkan dosa-dosanya dengan orang-orang yang paling dekat dengannya. Kak Soeda sangat putus asa dan dengan gegabah berkata-
"Tidak ada jalan lain lagi. Hanya dengan membunuh Shuuji, aku bisa mendapatkan kembali kedamaian ... "
Pada saat itu, Kak Touko dengan tegas memotong percakapan tersebut.
"Tidak. Kak Soeda bukan orang yang membunuh Kak Shuuji. Dia bukan S. S adalah orang lain! "
"Mustahil! Tapi saat Kak Soeda melihat Kak Konoha, reaksinya yang paling aneh. Dan juga,
Surat yang aku tulis kepadanya juga membuat dia marah." Takeda membalas.

"Takeda , kau telah melewatkan satu hal terpenting. S adalah musuh Shuuji Senpai;
Pada saat bersamaan, S juga memahaminya denga baik. Karena kau hanya menunjukkan kita awalan pertama
Dari surat itu, kita hanya bisa menebak-nebak apa yang terjadi setelah itu. Tapi Kak Shuuji terus-menerus menyebutkannya
bahwa S benar-benar melihat dia yang asli. Trik badutnya selalu gagal di depan S.
Jadi, S bukanlah Kak Soeda.
Jika dia benar-benar mengerti Kak Shuuji, maka dia tidak akan waswas terhadap Kak Shuuji. Dan dia tidak akan memiliki rasa cemburu terhadapnya? "
Takeda panik dan bertanya-
"Lalu ... siapa S?"
"Aku bukanlah detektif terkenal, aku juga bukan wanita tua pintar yang bisa menyelesaikan kejahatan
sambil merajut di atas kursi goyangnya yang nyaman. Aku hanya seorang 'Gadis Sastra', jadi aku tidak
bisa menarik kesimpulan; Aku hanya bisa menggunakan khayalan sebagai dasar imajinasi aku, itu semua ...
Karena Shuuji Kataoka benar-benar memuja Osamu Dazai, jadi dia meninggalkan catatan kematiannya, yang menggambarkan hatinya yang sebenarnya ada dalam buku 'Ningen Shikkaku'. Dari surat-suratnya saja orang bisa melihat
bahwa Osamu Dazai memiliki pengaruh yang sangat besar terhadapnya. Seperti kalimat pembukanya 'Aku telah hidup dalam rasa malu ', dia menyalin seluruh baris. Shuuji Kataoka membaca 'Ningen Shikkaku', dan berpikir
bahwa karakter utama, yang 'gagal memahami rasa sakit yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya' dan 'memang begitu
takut pada manusia, namun dia menyangkal bahwa dia sendiri adalah manusia', yang sebagai hasilnya, dia berusaha untuk mendapatkan cinta
Orang lain dengan bermain sebagai badut. Dia beresonansi.
Dalam 'Ningen Shikkaku', dua karakter mengenali trik badut karakter utama. Kebetulan,
Mereka semua adalah karakter yang gagal. Salah satunya adalah teman sekelas pada waktu SMP dengan tokoh utama, temannya bernama Takeichi.Anak itu selalu memakai pakaian usang. Dia buruk didalam pelajaran sekolah
dan olahraga. Dia dipandang sebagai siswa yang rendah diri. Bocah yang tampaknya tidak berbahaya ini, bagaimanapun, menuduh
karakter utama berpura-pura . Dia mencela karakter utama telah berpura-pura di setiap kata dan setiap
tindakannya. Hal ini menimpa karakter utama begitu keras sehingga seolah-olah seluruh dunia telah hangus oleh
nyala api neraka.Setelah itu, ia menjadi teman baik dengan bocah itu. Dia harus terus berada disampinya dan terus mengawasinya.
Karakter yang lainnya adalah jaksa yang dikirim untuk menanyainya saat dia sendiri selamat
dari bunuh diri. Dalam buku tersebut, jaksa penuntut 'memiliki wajah tampan dan mulus, dia
sangat cerdas dan tenang.Ia langsung melihat semua kebohongan yang dibuat oleh tokoh utama.
Saat dia melihat karakter utama dengan penghinaannya, karakter utamanya
Dipenuhi oleh banyak rasa '3 kendi keringat dingin dan rasa malu'.

Di bawah latar belakang langit biru, dengan atap sekolah sebagai panggung, Kak Touko, dengan Kepang Perancisnya yang panjang menari tertiup angin, tanpa henti menyatakan kesimpulannya.Postur tubuhnya dan cara berbicaranya membuat tekanan yang tidak biasa pada pendengarnya--- tak satu pun dari kita
berani mengganggunya; Kami diam mendengarkan analisis Kak Touko.
"S bukan seseorang yang akan menyembah atau iri dengan Shuuji Kataoka. Orang itu selalu selalu berpikiran positif, paling netral saat melihat Shuuji Kataoka. Di lain waktu dia juga akan menonton Shuuji
dengan tujuan menghakimi.
Dia mungkin seseorang yang selalu tinggal di samping Shuuji. Dia menatap Shuuji, dan Dia menilai tindakannya. Terkadang orang itu mungkin juga telah memberikan pendapatnya kepada Shuuji.
Kak Rihoko. Nama saat kau muda adalah Sena, benarkan? "
Istri Kak Soeda--- Kak Rihoko tampak sedikit terkejut dan, dengan wajah kaku, mengangguk ringan.
"Ya"
"Sepuluh tahun yang lalu, kau adalah ketua klub memanah. Saat itu di klub, banyak perempuan yang menyukai Kak Shuuji, sering kali ada banyak gadis yang datang untuk melihat dia latihan. aku dengar, oleh karena itu, Kak Shuuji selalu dimarahi oleh ketua klub. Hanya di depanmu, Kak Shuuji, dia tidak akan bisa bicara apa-apa.
Kau adalah S, bukan? "
Kak Rihoko menarik napas kecil.
Lengannya, yang memeluk perutnya, bahkan semakin mengencangkannya. Dia mengangkat kepalanya dan,
Melihat Kak Touko, dengan nada tegas,
"Ya. Aku adalah S.Akulah yang membunuh Sakiko dan Kataoka. "
"Rihoko!"
"Apa yang kau bicarakan, Rihoko!"
Kak Manabe dan Kak Soeda berteriak pada saat bersamaan.
Kak Soeda lari ke Kak Rihoko dan berteriak.
"Berhenti bicara omong kosong! Aku menusuk Shuuji sampai mati! Dan Sakiko juga---itulah alasan Sakiko
tertabrak mobil.Aku melihatnya dengan mataku sendiri, terbaring di jalan, dan dipenuhi darah! "
"Tapi, Akulah yang membuat Kataoka tetap latihan, untuk memberimu kesempatan agar kau bisa berjalan pulang ke rumah Sakiko.Dan juga,
tidakkah kau ingat Aku mengambil keuntungan darimu saat kau berkonsultasi denganku; Aku sangat
mendesakmu untuk mengakui perasaanmu pada Sakiko. "
"Apa-"
Suara Kak Soeda tersedak.
"Aku berkata kepada Kataoka,   'Aku berani bertaruh bahwa Sakiko akan jatuh cinta pada Soeda'.Kataoka setuju untuk bertaruh
melawanku Inilah sebabnya mengapa dia memberi tahumu bahwa dia harus tinggal di sekolah untuk pekerjaan klub,
Dan ... memintamu untuk pulang dengan Sakiko. Saat itu, Kataoka dan aku mengikuti
kalian berdua."
"Apa! Lalu, saat Sakiko tertabrak mobil, kalian berdua- "
"Ya. Kami melihat semuanya. Bagaimana tubuh Sakiko terbanting dan terpental ke tanah.
Bagaimana kau panik dan melarikan diri. Kami menyaksikan semuanya. "
Kak Soeda benar-benar terdiam.
Kak Manabe bertanya kepada Kak Rihoko.
"Lalu kenapa kau melakukan semua itu, Rihoko? Tidakkah kau mengatakan bahwa Shuuji tidak bisa dipercaya dan kau
membencinya ? Dan saat itu juga, kita- "
"Ya, saat itu kita selalu bersama. Kau selalu sangat percaya diri, selalu jujur ​​kepada semua orang.Kau sangat atraktif, Aku sangat menyukaimu.
Sebaliknya, Kataoka adalah orang yang tidak dapat dipercaya yang selalu membuat lelucon remaja. Dia
tidak pernah menunjukkan wajah aslinya kepada siapapun, dan itu benar-benar membuatku jijik. Jadi, suatu hari, ketika akhirnya aku punya
cukup ide, aku berkata kepadanya 'Semua yang kau katakan adalah bohong. Kau hanya mencoba untuk mengelabui semua orang dengan tindakanmu.' Saat Kataoka mendengarnya, dia tampak ketakutan dan siap untuk menangis dan menangis.
Ekspresinya tampak begitu rapuh, sangat kosong; sehingga aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. "
Kak Manabe dan Kak Soeda terdiam.
Kak Touko dengan santai berkata,
"Setelah itu, kau menjadi orang yang paling mengerti Kak Shuuji , dan juga begitulah caranya
kau jatuh cinta padanya. "
"Ya. Sejak hari itu, didepanku, Kataoka menghentikan tindakannya. Dia memberitahuku, dan hanya kepadaku, tentang siksaan dan kesedihannya. Ketika seseorang seperti Kataoka memperlakukanmu seperti orang pada umumnya, dengan semua ketulusannya, apakah menurutmu seorang wanita bisa menolaknya? "
Kak Touko dengan sedih berkata,

"Tidak."
Kak Rihoko tersenyum dan berkata,
"... Kataoka sangat baik, dia seperti anak kecil. Tapi pada saat yang sama dia sangat
pengertian, selalu penuh perhatian.Dia adalah seseorang yang tidak hanya bisa membantu, tapi juga jatuh cinta. "
"Betapa kebetulannya ... Dalam buku harian Tomie Yamazaki, yang melakukan bunuh diri dengan Osamu
Dazai, dia juga menulis bahwa Dazai sangat licik, tapi dia tidak bisa tidak jatuh cinta padanya ...
Dazai adalah seseorang yang tidak bisa membantu tapi malah jatuh cinta dengannya ... "
"Ya. Kataoka sangat menyukai 'Ningen Shikkaku'. Dia sering membaca buku itu
saat dia sendirian walaupun buku itu sudah lapuk . Meskipun dia mengatakan pada Sakiko bahwa dia tidak suka membaca buku, dan
akan tertidur setiap kali dia membacanya.
Kataoka mungkin sudah pacaran dengan Sakiko, tapi Sakiko tidak tahu apa-apa tentang Kataoka. Karena alasan ini, beban pada Kataoka menjadi lebih berat dan berat. Itu sebabnya aku menghasut Soeda untuk
menjauhkan Sakiko dari Kataoka.
Tidak, mungkin aku hanya cemburu pada Sakiko.
Rencana bodohku mengakibatkan kematian Sakiko, jadi rasa bersalah Kataoka menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya. Dia sudah menjadi orang yang tidak waras secara mental, dan sekarang dia sudah tertidur untuk selamanya. Bunuh diri, bunuh diri, inilah yang dia inginkan.
Kataoka tidak menyalahkanku karena kematian Sakiko. Jika dia menyalahkanku atas kematiannya, aku benar-benar akan merasakan
sedikit lebih baik. Tapi sebaliknya dia diam saja dan menatapku. Kapan pun aku melihat wajahnya 'tolong bunuh aku', mendesakku.

Aku tidak bisa membunuh Kataoka.
Tapi dia mencari kematian.
Bahkan sebelum kecelakaan itu ia ingin bunuh diri; Sekarang yang dia inginkan hanyalah kematian. Dia benar-benar percaya bahwa kematian adalah satu-satunya cara untuk membebaskan dirinya dari rasa sakit yang tak ada habisnya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Untuk membantunya mewujudkan keinginannya ... itu adalah bukti aku mencintainya, kan?
Sebulan setelah kematian Sakiko, Kataoka menulis surat untukku dan memasukkannya ke laci mejaku. Dalam
Surat dia menulis bahwa dia perlu berbicara denganku, dan memintaku untuk naik ke atap. Aku tahu itu
saatnya membuat keputusan yang akan mengakhiri segalanya. Ketika aku menyadari hal ini, penglihatanku menjadi hitam.
Aku tidak ingin pergi.
Aku ingin menolak dan pulang ke rumah. Jika aku melakukan itu, mungkin Kataoka akan menyadari betapa bodohnya dia dan segera menghentikan apa yang dia rencanakan.Tapi, bagaimana kalau Kataoka memutuskan untuk mati sendirian? Jika ketidakhadiranku membuat dia putus asa, dan dia, merasa
pengkhianatan di dalam hatinya, lalu melompat dari atas gedung---
Ketika aku memikirkan hal itu, aku tidak dapat menahannya lagi ... pada akhirnya aku harus pergi. "
"Ketika Kak Rihoko sampai diatap gedung, Kak Shuuji masih hidup."
Kak Rihoko mengangguk.
"Dalam perjalanan ke atap, aku melihat wajah Soeda berlari menuruni tangga. Saat aku membuka pintu atap, aku menemukan Kataoka. Dia tertancap pisau di dadanya dan berbaring di
lantai. Dia menatapku seolah dia tertawa dan menangis pada saat bersamaan, lalu bergumam 'Hei,
Aku tidak bisa mati karena luka ini terlalu dangkal. Jantungku tak akan berhenti berdetak karena ini. '"
Takeda, yang terdiam, dengan kasar bertanya,
"Lalu--- apa yang terjadi?"
"Dia bilang ... 'bunuh aku' Seolah dia memohon kepadaku, dia menambahkan,'aku sudah lelah, tolong bunuh aku'"

Semua orang menahan napas.
Kak Rihoko, dengan suaranya dan kedua tangannya gemetar, berkata,
"Kataoka dengan susah payah berdiri dan bertanya kepadaku. ' bisakah aku meminjam saputanganmu?' aku menyerahkan sapu tanganku kepadanya, dan dia menggunakannya untuk menghapus sidik jari digagang pisau itu. Dia kemudian menyerahkan kembali
saputangan dan terhuyung-huyung ke arah pagar besi. "

Shuuji Kataoka perlahan-lahan berjalan menuju pembatas.Di sana, tubuhnya menjadi satu dengan Miu.
Aku mengerti--- aku juga telah menyaksikan kejadian keputusasaan ini.
Miu perlahan, berjalan menuju kematiannya.
Lalu, dengan seragamnya yang melambai tertiup angin, dia berbalik dan menatapku.

"Kataoka berbalik dan menatapku. Dia tidak memiliki apa-apa selain duka di matanya. "

Mata Miu sangat jelas, dan terlihat kosong.

"' Sena, hanya kau yang bisa membunuhku. Bahkan sampai saat ini pun, aku masih belum bisa mengerti hati seseorang
. Mengapa Soeda cemburu padaku? Mengapa dia sangat membenciku sehingga dia ingin menikamku hingga mati? Aku tidak mengerti. Saat Sakiko meninggal di depanku, meski aku melihatnya dengan mataku, aku tidak merasa sedih sama sekali.aku ingin mati. Yang ingin aku lakukan adalah mati. Sudah terlambat untuk menyelamatkan semuanya.
Tidak peduli apa yang sudah aku lakukan, tidak peduli apa yang sudah aku capai, semuanya sekarang tidak ada gunanya. Itu semua hanya menambah rasa malu didalam diriku.Hei ... apa yang Daizai rasakan saat dia menulis buku itu? Aku merasakan bahwa aku sangat dekat dengannya sekarang. Aku benar-benar bisa mengerti emosinya. Untuk orang sepertiku,
apakah aku masih memiliki nilai untuk tetap hidup? Sena, hanya kau yang bisa menjawab pertanyaan ini. Tolong beritahu aku
jawabannya '"

Miu berkata,
- "Konoha, kau tidak akan pernah mengerti ..."

"Sudah terlambat untuk menyelamatkan Kataoka.
Jika aku benar-benar mencintainya, setidaknya aku harus membantunya mewujudkan keinginan terakhirnya.
Jadi aku menjawab-
'Ya, kau adalah ningen shikkaku.' [Catatan : maskudnya Kau telah kehilangan hak untuk tetap hidup sebagai manusia]
Aku--- tidak bisa mengatakan apapun.
Aku hanya diam, bahkan suara kakiku yang berjalanpun tak terdengar."

Apa yang dikatakan Miu, aku sama sekali tidak mengerti.

"Senyum lembut muncul di wajah Kataoka,
seolah-olah dia berterima kasih kepadaku sebagai jawabannya.
Lalu dia berjalan dan terjun dari atap gedung.Ya, Aku dan Dazai lah  yang membunuh Kataoka."

Senyum sepi muncul di wajah Miu. Dan kemudian, dengan kepalanya terjatuh ke belakang, dia terjatuh dari atap.
Aku tidak bisa melakukan apapun.
Aku membiarkan dia bunuh diri---!
"Berhenti!"
Aku mendengar deru yang bahkan bisa menembus udara. Untuk sesaat aku mengira itu suaraku sendiri.
Tapi, ternyata itu suara Kak Soeda. Kak Soeda berlutut di lantai beton, dan
terisak dengan lengannya yang melingkar diatas kepalanya.

"Hentikan, aku tidak mau mendengarnya lagi. Akulah yang membunuh Shuuji. Dan sekarang kau mengatakan bahwa kau benar-benar cinta pada Shuuji? Lalu, aku ini apa? Rihoko, kenapa kau setuju untuk menikah denganku? "
Kak Rihoko dengan tenang menjawab,
"Karena kita adalah kaki tangan, jadi ... itulah alasanku tidak bersamamu Manabe."
Wajah Manabe tegang. Dia mencengkeram bibirnya dengan erat.
Kak Rihoko menundukkan badannya ke lantai. Dia memeluk Kak Soeda dan dengan ringan berkata,
"Hei, Soeda. Sampai hari ini kau masih membenci Kataoka, dan kau tidak bisa melepaskan pikiranmu darinya, bukan?
Kau masih mengingat Kataoka disisa hidupmu, bukan? Begitupun aku ... Aku juga tidak bisa menghilangkannya dari pikiranku, aku terus mengingatnya. Tidak peduli berapa banyak waktu yang telah berlalu, aku tidak bisa melupakannya. Aku
akan selalu mengingatnya.
Jangan menyerah, Soeda. Kau dan aku terikat oleh orang yang sama. Kita adalah kaki tangan yang melakukan kejahatan yang sama. "
Kata Kak Rihoko
"Bayinya ... bayinya akan segera lahir ... tapi ini ... bagaimana aku bisa tinggal bersamamu jika seperti ini? Ini akan seperti tinggal di neraka. "
Air mata muncul di antara kedua tangan yang menutupi wajahnya.Air matanya jatuh kelantai dan basah.
Takeda melihat semua ini dengan ekspresi lemah dan tak berdaya.
"Ya. Kita akan menghabiskan sisa hidup kita dengan tinggal di neraka. Tapi tidak apa-apa, selama kita mau menghadapi ini, kemanapun kita pergi, kita bisa terus hidup.
Dan juga, di dunia ini, aku tidak akan menyalahkanmu karena melakukan hal seperti ini pada Kataoka. Bukan karena aku menganggapmu sebagi pengecut, juga tidak menganggapmu memalukan atau tragis. Aku ingin menghargaimu bahkan
lebih daripada itu. Jika kau memikirkannya seperti ini, kau akan merasa sedikit lebih baik, bukan?
Hei, Yasuyuki. Mari kita terus mengingat Kataoka. Mari kita terus dipenjara olehnya,
dan kemudian kita akan menjalani kehidupan yang sama dan sepi. Kita akan melahirkan seorang anak, dan kemudian kita akan mengasuhnya sebagai orang tua. Kita akan hidup di neraka! Itulah satu-satunya cara kita bisa meminta maaf kepada Kataoka. "
Suara Kak Soeda terisak bisa terdengar di seluruh atap.
Kak Touko , Takeda, dan Kak Manabe semua tetap diam.
Lalu aku--- apa yang bisa aku lakukan untuk meminta maaf padanya?
Apa yang harus saya lakukan untuk menghiburnya? Dan untuk menyelamatkannya?
Miu ... Katakan padaku, Miu ...

"Konoha!"
Kak Touko memanggilku.
Lalu aku mendengar langkah kaki; kepangnya di wajahku. Aku merasakan seseorang memelukku erat-erat.Aku mencium aroma anggrek ungu? Itu adalah hal terakhir yang aku ingat.
Aku kehilangan kesadaran karena sangat tertekan.

Lari, Melos!

Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...