Pertama kali aku bertemu Kak Touko adalah setahun yang lalu.
Musim dingin yang panjang akhirnya berakhir. Aku akhirnya bisa merasakan hangatnya udara. Itu adalah
siang di bulan April.
Ketika orang tidak peduli lagi dengan Inoue Miu, akhirnya aku bisa melepaskan beban berat sebagai 'Penulis Bishoujo yang jenius'.Stres yang tiba-tiba, benar-benar membuat lemah tubuhku.Selain itu, luka yang aku terima dari kecelakaan diatappun belum sembuh.
Meskipun aku masuk SMA, aku tidak aktif dalam berteman; Aku juga tidak ingin bergabung dengan klub apapun. Saat istirahat makan siang atau sepulang sekolah, aku akan berdiri di tengah halaman dan melihat tanaman yang berdiri disana. Aku akan mengulangi aktivitas membosankan yang sama setiap hari.
Suatu hari sepulang sekolah, saat aku berjalan-jalan di halaman, aku melihat seorang perempuan sedang duduk
Di bawah pohon manglietia putih. Kepang Prancisnya sampai ke pinggang. Dia bersandar dibawah pohon dan sedang membaca sesuatu.
Alisnya sangat panjang, dan kulitnya sama seperti bunga manglietia putih. Rasanya, Udara di sekelilingnya sejuk dan bersih.
(Aku jarang sekali melihat orang-orang dengan kepang yang panjang seperti ini. Dia tampak seperti seorang perempuan dari periode kuno .. Tapi dia terlihat sangat dewasa, dia mungkin lebih tua dariku ...)
Ketika aku sibuk mengamatinya dan mencoba mencari semacam kesimpulan? Wanita itu merobek salah satu halaman.
(Eh?)
Saat aku berdiri tertegun, dia memasukkan salah satu potongan kertas itu ke dalam mulutnya.
(Ehehe?)
Lalu murid perempuan itu mulai mengunyah robekan kertas itu.Semuanya terasa seperti sebuah mimpi, aku hanya berdiri di sana dan menatapnya, juga tertegun tak bergerak. Tiba-tiba perempuan itu
mengangkat kepalanya dan melihatku
(!)
Saat mata kami bertemu, jantungku berdegup kencang.
Murid perempuan itu tersipu malu dan berkata malu-malu,
"Kau melihatnya ..."
"I-itu ... Tidak!"
"Siapa namamu? Kelas berapa kau?
"Inoue Konoha. Kelas 2 tahun pertama "
.Lalu gadis itu mulai tertawa. Tiba-tiba ekspresinya berubah dari senang menjadi seperti sedang menyalahkanku.
"Jadi kau pelajar tahun pertama! Kalau begitu, kau bergabung dengan Klub Sastra. "
"Apa? Klub ... Sastra? "
Aku membuka mataku lebar-lebar dan melihat kepang Perancis yang panjang, kulitnya yang cantik, putih dan jernih, perempuan yang merobek halaman dari buku dan kemudian memakannya. Dia melanjutkan,
"Aku tidak bisa membiarkan rahasiaku bocor, jadi aku harus membuatmu tetap berada di sisiku sehingga aku bisa mengawasimu.
Mulai hari ini, kau adalah anggota klub Sastra. "
"Apa???? T-tunggu sebentar-aku tidak ingin bergabung dengan klub manapun.Lagipula siapa kau? "
"Aku adalah Amano Touko dari kelas 8 ditahun kedua. Seperti yang kau lihat, aku adalah 'Gadis Sastra.'"
Begitulah cara kami bertemu.
Setelah kita bertemu, selama sebulan penuh, setiap sepulang sekolah, Kak Touko akan mendatangiku kekelas dan mencariku
"Konoha, saatnya aktivitas klub."
Dia seperti seolah-olah seperti seorang ketua kelas yang menyuruh teman sekelasnya untuk datang kesana setiap pulang sekolah, menyeret tanganku dan membawaku ke ruang klub Sastra yang terletak di lantai 3 dibagian barat
.
Ketika sampai di ruang klub, dia menyerahkan setumpuk halaman kertas dan berkata,
"Pernahkah kau mendengar latihan menulis '3 topik dalam 1 cerita'? Yang mana
Orang yang bijak akan berimprovisasi dengan sebuah cerita berdasarkan 3 topik yang diberikan pendengar kepadanya. Aku akan memberimu 3
kata-kata, dan kau harus menulis sesuatu dengan menggunakan 3 kata ini sebagai topik. Itu tidak masalah
apakah itu puisi, cerita pendek, atau dongeng, cukup tulis sesuatu. Uhnnn ... Kalau begitu ayo mulai dengan, 'salju', 'Teh Hijau', 'Arinkokororin' kau punya 50
menit untuk menyelesaikannya kalau begitu, mulai dari sekarang! "
"Apa itu Arinkokororin ?!"
"Hei, mulailah menulis, atau aku akan menimpakan nasib malang padamu."
Begitulah, aku mulai menulis cerita setiap harinya.
"Aku makan cerita karena bagiku itu sama seperti roti atau nasi. Biasanya aku makan buku, tapi yang sebenarnya aku suka makan adalah
Cerita yang ditulis tangan diatas kertas. Cerita cinta itu manis dan enak, jadi aku lebih suka itu
lebih dari pada yang lain. Itulah mengapa kau harus menulis beberapa cerita yang manis! "
Kebiasaan bisa menjadi hal yang menyeramkan. Tidak butuh waktu lama hingga aku harus bisa menulis cerita tanpa perlawanan.
Sebagian besar, itu karena dia selalu mengkritik karyaku tepat di depanku dengan "Hmmm ...
itu sepertinya kehilangan rasa tertentu "atau" Mmmm ... strukturnya terlalu lemah ", dan pada saat yang sama, dia memakan
semua yang kutulis ke dalam perutnya. Melihatnya seperti ini, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerah.
Tanpa aku sadari, aku selalu pergi ke ruang klub setiap sepulang sekolah, tanpa
Butuh Kak Touko datang ke kelas untuk menjemputku.
"Kakak, kau tampak bahagia akhir-akhir ini. Apakah ada sesuatu yang baik terjadi di sekolah? "
"Tidak, tidak ada yang terjadi.semuanya seperti biasanya."
Aku menghabiskan hari-hariku dengan sebuah buku yang disobek, dan kemudian dimakan oleh kakak kelasku--- dapatkah ini benar-benar digambarkan sebagai
normal? Meskipun pertanyaan ini tetap ada di hatiku, tapi ini sangat luar biasa, kapan pun aku tinggal
kelas, dengan dinding yang diterangi matahari dan debu kecil menari di dalamnya, aku akan merasa bahagia . Terkadang saat aku tidak bisa tahan dengan kata atau tindakan Kak Touko dan membalasnya, ini juga
membuatku merasa bahagia. Hanya di depan Kak Touko aku tidak perlu memaksakan diriku untuk tersenyum.
Hari demi hari, aku kembali ke Klub Sastra.
"Selamat siang, Konoha."
"Aku lapar ~~~, Konoha."
"Wah, kertas hari ini sangat manis dan lezat ~~~. Konoha kau luar biasa! "
"Gosh, Konoha! Kau sama sekali tidak menghormati kakak kelasmu! "
"Jangan panggil aku monster ~~~! Aku hanya seorang 'Gadis Sastra' biasa. "
Hari demi hari aku akan mengobrol dengan Kak Touko; aku akan menulis makanan ringan untuknya. Melihat Kak Touko tersenyum, aku mulai berhenti memikirkan Miu untuk selama-lamanya.
Itu sebabnya aku pasti akan dihukum.
Maaf, Miu, aku minta maaf.
Aku belum melupakanmu.Hanya saja bila aku mengingatmu rasanya sangat menyakitkan.
Cerita yang kau tulis, semuanya sangat hangat dan manis. Itu, seperti bintang yang berkedip
bagi mereka yang membacanya.Kau, yang berbagi impianmu denganku, sangat memesona hingga aku jatuh cinta padamu.
Tapi kenapa, kenapa kau pada hari itu, menerjunkan dirimu dari atap? Aku masih belum tahu kenapa kau melakukannya
.
Aku tidak bisa menulis lagi.
Karena semuanya palsu. Karena aku hanyalah cangkang.
Penulis Inoue Miu tidak ada lagi.
Dia tidak akan pernah menulis lagi. Dia tidak bisa menulis, juga tidak ingin menulis.
Saat aku membuka mata, seseorang dengan lembut memegang tanganku.
Langit-langit putih.
Dindingnya putih dan Seprai yang berbau obat.
"Apakah ini ... rumah sakit?"
"Tidak. Ini diUKS. "
Kak Touko menjawab.
"Konoha, kau pingsan di atas atap.Kak Manabe membawamu keUKS.aku sebenarnya
ingin membawamu, tapi ketika aku mencoba mengangkat bahumu, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh kelantai. Aku orang khusus seni, Kau tahu, aku tidak bisa melakukan pekerjaan fisik dengan baik ... "
Kak Touko sedang duduk di kursi di samping tempat tidur, dan dengan lembut memegang tanganku.
Di antara tirai, sinar oranye menerangi melewati celahnya.
"Aku ... berapa lama aku tidak sadarkan diri?"
"Sekitar 2 jam. Kau berkeringat banyak sekali ... sepertinya kau mengalami mimpi buruk. "
Kau memegang tanganku sepanjang waktu, bukan?
"Bagaimana dengan Kak Soeda dan yang lainnya?"
"Kak Soeda dan Kak Rihoko pulang bersama. Aku pikir cinta dan kebencian mereka terhadap Kak Shuuji akan terus berlanjut selama sisa hidup mereka .... mereka memutuskan untuk menghukum diri mereka sendiri. "
Kak Soeda menangis dan meratapi bahwa ini seperti neraka.
Dua orang itu, mereka akan tetap bersama sebagai keluarga, bukan?
Kak Touko dengan lembut membelai punggung tanganku. Lembut, pelan ... seolah dia menghiburku.
"Kak Manabe dan Takeda juga sudah pulang. Takeda ... Konoha, dia ingin aku memberitahumu
'Maaf telah menyeretmu kedalam masalah ini.'"
"Alasan mengapa Takeda membawaku ke klub memanah adalah membiarkan para alumni melihatku. Aku terlihat sama seperti Shuuji Kataoka, itu sebabnya dia berusaha mendekatiku. "
"Mungkin…"
Kata Kak Touko dengan putus asa.
Rasa panas mengalir didadaku. Tenggorokanku mulai bergetar.
Takeda hanya memanfaatkanku.
Semua surat yang aku tulis, semuanya sampah.
Takeda, Kak Soeda, Kak Rihoko, Kak Shuuji--- semuanya berbohong.
Mereka menyembunyikan kebenaran.
Jika itu yang terjadi, maka seharusnya mereka memegang kebenaran itu sampai akhir. Mengapa mereka mengatakan yang sebenarnya sekarang, dimana keadannya sudah jauh berbeda?
Kenyataan yang kejam menikamku dengan keras.
Karena ini, hatiku, yang telah aku letakkan di bawah lapisan perlindungan untuk mencegahnya
terluka lagi, menjadi terbuka kembali. Kesedihan, rasa sakit, kasihan, penyesalan, semua emosi ini
menyerangku pada saat bersamaan.
Semua emosi yang berbeda bercampur menjadi satu, aku tidak tahu bagaimana menghadapi mereka. Aku sudah
tidak berdaya. Tenggorokanku terasa sakit, seluruh tubuhku terasa panas, dan bagian dalam tubuhku terasa seperti menderita luka bakar, mereka sangat menyakitkan.Aku menarik tanganku dari Kak Touko, dan menggunakannya untuk menutupi wajahku.
Jika aku tidak melakukannya, dia akan melihat wajah menangisku.
"Aku sudah tidak tahan ... Jangan menunjukkan lagi kegelapan dan kenyataan yang pahit. Aku hanya ingin
jadi orang normal dan hidup normal. Aku tidak ingin mengalami kekacauan, petualangan, atau
drama detektif.Tidak ada lagi rasa sakit, dukacita atau kepahitan.Tapi kenapa? Meski semua orang mengerti kedua belah pihak akan terluka, mereka tetap mengungkap rahasia
dalam hati mereka kepada orang lain? Apakah mereka benar-benar ingin mengatakannya sebanyak-banyaknya? Apakah mereka benar-benar begitu naif? Apakah mereka benar-benar ingin orang lain diselimuti oleh emosi seperti dukacita, rasa sakit,
dan kebencian? Apakah mereka mencari pembunuhan? Apakah mereka mencari kematian?
Apa yang dirasakan Kak Shuuji, apa yang Kak Rihoko rasakan, apa yang Kak Soeda rasakan, apa yang dirasakan oleh Takeda, aku tidak
mengerti apa-apa.
Semua orang--- tidak normal. Mereka terlalu aneh. Aku membenci Dazai Osamu. "
Air mata meluncur di wajahku. Kaus bajuku, dan seprai tidur dibasahi
air mata.
Leherku menjadi dingin.
Aku tidak mengerti.
Aku benar-benar tidak mengerti apapun.
Kak Shuuji dan Miu sama-sama tidak ingin hidup. Mereka berdua memilih untuk terjun dari atap gedung.
".*Hiks*.. Mengapa hal-hal kejam seperti ini terjadi lagi dan lagi ... Yang mana yang tidak normal,
Mana yang normal? ... *Hiks* ... aku, aku tidak mengerti, Kak Touko. "
Di ruang berbau desinfektan[Catatan : Sejenis obat], aku terisak-isak.
Kak Touko tidak mengatakan penghiburan apa pun.
Dia hanya sedih dan berkata,
"Kau harus menemukan jawabannya sendiri. Bahkan jika itu menyakitkan ... bahkan jika itu menyedihkan ... bahkan jika
itu pahit ... Kau harus menggunakan kakimu sendiri untuk menemukan jawabannya. "
"Kalau begitu ... * hiks *, tidak masalah jika aku tidak tahu jawabannya ... aku bisa hidup meski aku tidak tahu
jawabannya ... "
Ketika aku mengatakan ini, ekspresi seperti apa yang dimiliki Kak Touko?
Aku terlalu naif untuk bertanya kepada Kak Touko , yang merupakan manusia normal sepertiku.
Kak Touko bukanlah peramal, juga bukan anggota dewan atau psikiater.
Bahkan jika dia adalah monster yang menelan cerita yang ditulis di selembar kertas, dalam setiap aspek lainnya,
dia sama sepertiku. Dia hanya seorang siswi SMA. Dia hanya seorang Gadis Sastra.
Kak Touko tidak mengatakan apa-apa.
Matahari akhirnya terbenam. UKS semakin gelap dan dingin, dia diam-diam tetap berada di sampingku sampai aku berhenti
menangis.
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...
No comments:
Post a Comment