Friday, 15 February 2019

Bukan Manusia Lagi : Bagian 1 B


Sebagai seorang anak, aku sama sekali tidak memikirkan orang lain, bahkan anggota keluargaku sendiri, mungkin saja seperti sebuah penderitaan atau apa saja yang mereka pikirkan. Aku sadar, itu hanya ketakutan dan rasa malu diriku yang tak terkatakan. Sebelum ada yang menyadarinya, aku telah menjadi seorang badut, seorang anak yang tidak pernah berbicara satu pun kata yang jujur.Aku
perhatikan bahwa dalam fotoku yang diambil waktu bersama keluargaku, semuanya memiliki wajah serius; hanya wajahku yang selalu disiksa dengan senyum aneh dan palsu. Ini adalah salah satu sifat kekanak-kanakanku, kejenakaan yang menyedihkan.

Lagi, aku tidak pernah menjawab apa pun yang dikatakan oleh keluargaku. Sedikit kata celaan menghantamku dengan kekuatan petir dan mendorongnya keluar dari kepalaku. Jawablah! Jauh dari itu, Aku merasa yakin bahwa teguran mereka adalah kebenaran yang berasal dari masa lalu; Aku terobsesi dengan kata-kata tersebut sejak saat itu.Aku tidak memiliki kekuatan untuk bertindak semaunya. Sebenarnya, aku mungkin sudah didiskualifikasi dari hidup di antara manusia. Keyakinan ini membuatku tidak mampu berargumen atau membenarkan diri. Kapan pun ada yang mengkritikku, aku merasa yakin bahwa aku telah melakukannya.hidup di bawah kesalahpahaman yang paling mengerikan. Aku selalu menerima serangan dalam diam, meskipun dalam hati sangat ketakutan sampai hampir keluar dari kepalaku.

Itu benar, ku kira, tidak akan ada orang yang akan senang ketika di kritik kan, tapi yang aku lihat adalah wajah manusia yang marah padaku  seperti wajah yang sangat liar, lebih mengerikan dari singa, buaya atau naga. Orang biasanya akan menyembunyikan sifat aslinya ini, tapi ketika ada kesempatan yang muncul (seperti saat seekor lembu dengan tenang berlindung di padang rumput yang berumput tiba-tiba menyerang dengan ekornya untuk membunuh kuda di sampingnya) itulah ketika kemarahan membuat mereka mengungkapkan sifat terdalam manusia dengan semua kengeriannya.Ketika ini terjadi, ini selalu membuatku takut sehingga membuat bulu kudukku berdiri, dan memikirkan hal itu, sifat ini mungkin menjadi salah satu prasyarat untuk bertahan hidup sebagai manusia, aku merasa sangat putusasa.Aku selalu bergetar ketakutan ketika berada di hadapan maluk bernama manusia. Bahkan aku tak dapat berbicara dan bertindak seperti seorang manusia, aku menyimpan semua kesendirianku dan menguncinya rapat-rapat. Aku menyimpan kemurungan dan kegelisahanku agar tak terlihat, terus berhati-hati dan jangan sampai meninggalkan jejak apapun.
Aku berpura-pura sebagai orang yang optimis ; Berangsur-angsur aku menyempurnakan
diriku menjadi peran yang selalu melucu.

Aku berpikir, "Selama aku bisa membuat mereka tertawa,
Itu tak masalah, aku akan baik-baik saja. Jika aku berhasil melakukannya, manusia mungkin tidak akan terlalu berharap padaku dan aku akan tetap berada di luar kehidupan mereka.

Hanya satu hal, aku harus menghindari tatapan mereka: aku bukanlah apa-apa, angin, langit. Peranku sebagai badut adalah peran yang lahir dari keputusasaan, bahkan diperpanjang hingga menjadikanku sebagai budak, yang lebih aku takuti adalah keluargaku, karena mereka tak dapat kumengerti sama sekali.

Di musim panas, aku membuat semua orang tertawa dengan cara berjalan-jalan keluar rumah mengenakan sweter wol merah didalam bajuku. Bahkan kakak lelakiku, yang
jarang sekali tertawa, mendadak tertawa dan berkomentar , "Kelihatannya itu tak bagus untukmu, Yozo." Tapi untuk semua lelucon bodohku, aku tidak begitu peduli dengan itu semua, lagipula aku tidak terlalu sensitif terhadap panas dan dingin, bahkan memakai sweter wol di musim panas sekalipun.Aku mengambil legging adik perempuanku dan memakainya ditanganku, membiarkannya cukup untuk sampai ke ujung lengan sehingga memberi kesan bahwa aku sedang memakai sweater.

Ayahku adalah pembisnis di kota besar dan itu semua dilakukannya hanya untuk membiayai kehidupan keluarga. Dia menghabiskan dua atau tiga minggu dalam sebulan sekaligus di kota, dan
selalu kembali dengan banyak sekali hadiah dan oleh-oleh, tidak hanya untuk anggota keluarga kami, tetapi bahkan untuk tetangga kami. Ini adalah salah satu dari hobinya.Pernah sekali, ketika malam sebelum dia pergi ke kota, dia memanggil semua anak-anaknya ke ruang tamu dan dengan tersenyum, dia bertanya kepada kami apa ada yang kami inginkan saat ini, permintaan setiap anak ditulisnya didalam sebuah buku kecil.

Sangat tidak biasa Ayah berperilaku begitu kepada anak-anaknya.
"Bagaimana denganmu, Yozo?" dia bertanya padaku, tapi aku hanya bisa tergagap tidak pasti.
Setiap kali aku ditanya apa yang aku inginkan, hal pertama yang aku pikirkan adalah jawabannya "Tidak ada." Pikiran itu datang melalui pikiranku, memang benar, bahwa tak ada yang akan membuatku senang. Pada saat yang sama, aku sama sekali tidak bisa menolak apa yang orang lain tawarkan kepadaku, tidak peduli seberapa kecil apapun. Ketika aku membenci sesuatu, aku sama sekali tak bisa mengucapkan kata-kata, "aku tidak suka itu." Kapan aku menyukai sesuatu yang aku inginkan dengan ragu-ragu, aku hanya diam meskipun itu terasa pahit bagiku. Didalam kasusku, aku merasa sangat ketakutan yang sama sekali tak dapat aku dikatakan. Dengan kata lain, aku tidak punya
kekuatan untuk memilih. Faktanya, aku percaya, membiarkan salah satu karakteristik seperti ini di tahun-tahun berikutnya adalah penyebab dimana aku merasakan
'Hidup dengan memalukan.'

Aku tetap diam dan gelisah. Ayahku kehilangan sedikit perasaan senangnya.
"Apa kau mau buku? Atau bagaimana dengan topeng singa? Sekarang mereka menjualnya
dengan ukuran anak-anak. Tidakkah kau mau satu? ".Kata-kata yang fatal "tidakkah kau mau satu?", itu sangat mustahil bagiku untuk menjawab. Aku bahkan tak bisa memikirkan respons badut yang sesuai. Ekspresi badutku benar-benar gagal. "Buku mungkin akan cocok untuknya, kurasa"kata saudaraku. "Oh?" Kebahagiaan mengalir di wajah ayahku. Dia menutup buku catatannya tanpa menulis apa pun lagi. Gagal. Sekarang aku telah membuat ayahku marah dan aku yakin dia pasti marah besar padaku, itu sangat membuatku takut. Malam itu ketika aku berbaring di tempat tidurku, aku mencoba untuk berpikir apakah masih ada cara untuk memperbaiki situasi ini. Aku merangkak turun dari tempat tidur, berjingkat keruang tamu, dan membuka laci meja tempat Ayahku kemungkinan besar meletakkan buku catatannya. Aku menemukan buku itu dan mengeluarkannya. Aku membalik-balik halamannya hingga aku sampai pada halaman dimana dia menuliskan catatan permintaan hadiah milik kami.Aku mengambil pensil di buku catatannya dan menulis 'TOPENG SINGA' dalam huruf besar semua. Setelah selesai menuliskannya kemudian aku kembali ke tempat tidurku. Aku sama sekali tak mempunyai keinginan untuk membeli topeng singa. Sebenarnya, aku lebih menyukai buku. Tetapi sangat jelas bahwa ayah ingin agar aku membeli topeng singa, ini semua kulakukan hanya untuk memenuhi keinginannya dan membalas kebaikannya yang mana telah membuatku berani menyelinap ke ruang tamu di tengah malam. Tindakan inipun akhirnya bisa sesuai dengan apa yang aku harapkan. Beberapa hari kemudian, saat Ayahku kembali dari Kota. Aku tidak sengaja mendengarkan dia berbicara dengan lantang kepada ibu dengan beberapa anak diruangan pada saat itu. "Menurutmu apa yang aku temukan ketika aku membuka buku catatanku di toko mainan? Lihat, seseorang telah menulis 'topeng singa' disini. Itu bukan tulisan tanganku. Awalnya aku tak bisa mengenal tulisan siapa ini, lalu saat kuteliti lagi. Ternyata ini adalah tulisan milik Yozo. Kau tahu, aku bertanya padanya apa yang dia inginkan saat aku pulang dari kota, tetapi dia hanya berdiri di sana sambil menyengir tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Dia pasti sangat menginginkan topeng singa itu. Dia benar-benar anak yang lucu. Dia berpura-pura tak tau apa yang dia inginkan, tapi kemudian dia diam-diam menulisnya tanpa aku ketahui. Jika memang dia sangat menginginkan topeng singa, seharusnya dia langsung berkata saja padaku. Aku tertawa terbahak-bahak di depan semua orang saat berada di toko mainan. Cepat panggil dia kemari".

Pada kesempatan lain, aku berkumpul dengan semua orang dikeluarga kami dan pelayan perempuan di ruangan bergaya asing ini. Aku menyuruh salah satu pelayan untuk memencet tombol kunci piano secara acak (rumah kami dilengkapi dengan berbagai fasilitas meskipun kami berada dirumah tradisional), dan aku membuat semua orang tertawa terbahak-bahak saat aku mengiringinya dengan tarian India asal-asalan.Kakakku mengambil fotoku ketika aku sedang menari. Ketika gambar dicetak, kau bisa melihat bahwa seleting celanaku terbuka sehingga kau bisa melihat celana dalamku, dan ini membuat semua orang tertawa.

Mungkin ini adalah kemenangan yang melampaui harapanku sendiri. Aku biasanya membeli selusin atau lebih majalah anak-anak untuk bacaan pribadiku, semua buku-buku itu dipesan dari kota.

Aku akhirnya menjadi seseorang yang mahir dalam cerita eksploitasi Dr. Nonsentius dan Dr. Knowitall, dan tahu semua cerita seram, kisah petualangan, humor, lagu dan sejenisnya. Aku tidak pernah kekurangan bahan untuk cerita - cerita yang tidak masuk akal,  dan aku benar-benar membuat keluargaku tertawa terbahak-bahak.

Tapi, bagaimana dengan sekolahku? Aku sedang mencoba untuk bisa dihormati. Tetapi, gagasanku terhadap dihormati berbeda dan sedikit berlebihan. Definisiku tentang seorang pria yang "dihormati" adalah jika orang itu sudah benar-benar berhasil membohongi orang lain, tetapi akhirnya bisa ditebak oleh beberapa orang yang mahatahu, mahakuasa yang mana telah menghancurkan dan membuatnya menderita hingga lebih buruk daripada kematian. Bahkan seandainya aku bisa membohongi sebagian besar manusia agar menghormatiku, salah satu dari mereka pasti akan mengetahui kebenarannya, dan cepat atau lambat kemudian manusia lain akan belajar darinya.

Apa yang akan terjadi jika mereka marah ketika mereka mengetahui bahwa mereka sudah dibohongi! Pemikiran itu benar-benar membuat bulu kudukku merinding. Aku tidak pernah kurang untuk mendapatkan reputasiku di sekolah karena aku adalah putra dari keluarga kaya, mungkin dalam bahasanya, aku juga punya "otak." Menjadi anak yang sakit-sakitan, membuatku sering izin sekolah selama satu atau dua bulan atau bahkan satu semester. Walaupun demikian, ketika aku kembali ke sekolah, masih dalam masa pemulihan dan berada di kursi roda, aku mengambil ujianku di akhir semester, aku selalu menjadi peringkat pertama di kelasku, terima kasih kepada "otakku." Aku tidak pernah belajar, bahkan ketika aku sedang dalam kondisi sehat sekalipun. Selama waktu pelajaran di sekolah aku selalu menggambar kartun, dan di waktu istirahat aku membuat anak-anak lain di kelas tertawa dengan penjelasan dari gambarku. Saat kelas menulis karangan, aku tak menulis apapun melainkan menulis cerita lucu.Guruku memperingatkanku, tetapi itu tidak membuatku berhenti, karena aku tahu dia diam-diam menikmati ceritaku. Suatu hari aku memberikan cerita yang ditulis dalam gaya yang sangat suram yang mana menceritakan waktu aku dibawa oleh ibuku naik kereta ke Kota, aku telah menginjak permen karet bekas di koridor.

(Tapi pada saat itu aku tidak tahu bahwa itu adalah permen karet; aku sengaja membuat kesalahan, berpura-pura dengan kepolosan kekanak-kanakanku.) Aku sangat yakin bahwa guruku akan tertawa, jadi aku diam-diam mengikutinya ke ruang staf. Begitu dia meninggalkan kelas, sang guru mengeluarkan ceritaku dari tumpukan cerita yang ditulis oleh teman-teman sekelasku. Dia mulai membacanya sambil berjalan di aula, dan kemudian dia terkekeh. Dia masuk ke ruang staf, kira-kira sekitar satu menit kemudian saat itulah dia melanjutkannya dan ia tertawa terbahak-bahak, wajahnya dipenuhi dengan tawa. Aku melihatnya memberitahukan kertasku pada guru yang lainnya. Aku merasa sangat senang dengan diriku sendiri. Anak yang nakal. Aku telah berhasil dengan kenakalanku. Aku pun berhasil melarikan diri dari yang 'dihormati'. Didalam raporku diberi nilai A semua kecuali untuk sikap, yang mana itu tidak pernah lebih baik daripada C atau D. Ini juga merupakan sumber hiburan besar bagi keluargaku. Namun, sifat alamiku yang sebenarnya adalah benar-benar berbanding terbalik dari peran yang nakal.Sejak waktu itu aku diajari tentang penyesalan oleh pembantu dan pelayan; aku sudah dirusak. Aku sekarang berpikir, untuk melakukan hal seperti itu pada anak kecil adalah kejahatan paling jelek, paling keji, paling kejam yang bisa dilakukan oleh manusia.

Tapi aku menahannya. Aku bahkan merasa seolah-olah itu diajarkan kepadaku untuk melihat satu lagi aspek khusus yang terdapat pada manusia. Aku tersenyum dalam kelemahanku. Jika aku membentuk kebiasaan untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya, mungkin aku bisa berkata langsung pada ayahku tanpa malu-malu atau ibuku tentang kejahatannya, tapi aku bahkan tidak bisa percaya kepada orang tuaku sendiri. Untuk meminta bantuan kepada manusia mana pun, ---aku tidak bisa mengharapkan apa pun dari kebijaksanaan itu. Andaikata aku mengeluh kepada ayah atau ibuku, atau kepada polisi, atau juga pemerintah---Aku khawatir bila  pada akhirnya tidak akan ada yang peduli pada orang diam sepertiku bahkan seseorang yang paling baik di dunia ini sekalipun. Sangat jelas bahwa pilih kasih itu tak pernah ada: tidak ada gunanya untuk mengeluh pada manusia. Jadi aku tidak mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan, aku tidak punya pilihan lain selain memendam dan menanggunya sendiri hingga aku terus berperan sebagai badut. Beberapa orang mungkin akan mencemoohku. "Apa maksudmu tidak bisa percaya pada manusia? Apa kau juga tidak percaya pada Tuhan? "

Aku gagal paham, Namun, kenapa ketidakpercayaan terhadap manusia harus mengarah langsung ke agama. Itu tak benar, hanya pada manusia, termasuk yang mungkin sekarang mencemoohku, aku hidup dalam ketidakpercayaan satu sama lain.Itu bukan berarti aku tidak percaya pada Tuhan atau yang lainnya?

Ada sesuatu yang terjadi ketika aku masih kecil.Seorang tokoh partai politik yaitu ayahku, datang untuk berpidato di kota kami, dan aku diajak oleh pelayan pergi ke teater untuk mendengarkannya. Ruangan itu penuh sesak. Semua orang di kota itu terutama yang kenal dengan ayahku hadir dan bertepuk tangan.Pidatonya selesai tiga hingga lima jam lamanya sampai malam. Saat pulang dari teater, di jalanan yang tertutup salju, mereka mengomentari pertemuan itu.Aku bisa mendengar suara-suara teman dekat ayahku mengeluh dengan nada hampir marah, betapa tidak kompetennya ucapan pembukaan ayahku.Kemudian orang-orang ini mampir kerumah, pergi ke ruang tamu kami, dan memberi tahu ayahku dengan ekspresi kegembiraan di wajah mereka tentang betapa suksesnya pertemuan itu. Bahkan para pelayan, ketika ditanya oleh ibuku tentang pertemuan itu, dijawab seolah-olah itu adalah pemikiran spontan mereka bahwa itu benar-benar menarik.Dia adalah pelayan yang sama yang telah mengeluh pada saat di jalan pulang bahwa pertemuan politik itu adalah yang hal yang paling membosankan di dunia. Namun, ini hanya contoh kecil. Aku meyakini bahwa kehidupan manusia dipenuhi dengan banyak keaslian, kebahagiaan, contohnya adalah ketulusan, kebahagiaan dan ketenteraman, benar-benar hebat dari jenis dari mereka bisa menipu satu sama lain tanpa (anehnya) memberikan luka yang ditimbulkan, orang yang tampaknya tidak sadar bahwa mereka menipu satu sama lain. Tapi aku tidak punya minat untuk saling menipu sama lain seperti itu. Aku sendiri menghabiskan sepanjang waktu dengan cara membohongi manusia dengan peran badutku. Aku belum bisa menyimpulkan keprihatinan atas moralitas yang tertulis dalam buku teks etika dengan nama "kebenaran". Aku masih menemukan kesulitan untuk memahami berbagai jenis manusia yang hidup, atau yang yakin bahwa dia bisa hidup, murni, bahagia, dengan tenang saat terlibat dalam sebuah kebohongan. Manusia tidak pernah mengajariku rahasia yang sulit untuk dipahami seperti itu.

Kalau saja aku tahu satu hal yang seharusnya tidak aku takuti kepada manusia , aku pasti juga tidak harus menentang diriku sendiri untuk hidup sebagai manusia, tidak juga merasakan siksaan neraka seperti ini setiap malam. Singkatnya, aku percaya bahwa alasan mengapa aku tidak memberi tahu siapa pun tentang kejahatan keji yang dilakukan kepadaku oleh para pelayan, bukan karena ketidakpercayaanku kepada manusia, tetapi karena manusia di sekitarku telah dengan ketat mengekangku terhadap kepercayaan dan ketidakpercayaan. Bahkan orang tuaku kadang-kadang menunjukkan sikap yang sulit untuk aku pahami. Aku juga memiliki kesan kepada banyak wanita, yang secara naluriah merasakan kesepian milikku, yang tidak aku rahasiakan kepada siapa pun, dan ini menjadi salah satu tahun penyebab keberadaanku dimanfaatkan dalam banyak hal. Wanita berpikir bahwa aku adalah seorang pria yang bisa menjaga rahasia cinta.














No comments:

Post a Comment

Lari, Melos!

Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...