Pertamakali aku memberitahu kelakuan memyimpangku adalah pada nenekku, orang yang sangat berharga bagiku, dia sudah meninggal dunia.
Aku ingat, setelah nenekku mempunyai penyakit jantung, dia selalu terbaring dikasurnya setiap saat.Bagaimanapun juga, aku selalu datang dan menjenguknya, dia selalu memegang kepalaku dengan lembut dan berkata "Kau memang anak yang baik".Dia terlihat senang.Matanya akan terpejam diantara dua garis matanya saat dia tersenyum.Tapi, aku tidak tahu kenapa nenekku berpikir seperti itu padaku.Seorang anak yang patuh dan tegas.Tangannya kurus, wajahnya yang keriput, rambut putih yang acak-acakan, dan bau busuk dari obat tercium dari tubuhnya, itu semua mengejutkan dan sangat menjijikan yang tiada akhir untukku.
"Kau memang anak yang baik".Setiap kali, dia menggunakan suara seraknya untuk membisikannya ditelingaku, aku merasa dia meletakan kemalangan padaku.Leherku akan merasa kaku, tubuhku akan terasa sangat mengerikan.Bila nenekku tahu kalau aku bukanlah anak yang baik ; bila dia tahu semua itu, dia pasti akan sangat membencinya -- Tidak diragukan lagi, dia akan bangun dari kasurnya.Rambutnya akan ikut berdiri juga seperti Yashya, Api merah akan keluar dari bola matanya, dan dia akan memakan kehidupanku.Aku pasti akan sangat ketakutan jika itu semua terjadi.Itu akan sangat menakutkan bahkan hingga aku berbaring dikasurku saat malam, mata terbuka lebar, dan keringat dingin akan muncul dan mengalir dipunggungku
Saat aku bertambah dewasa, aku menjadi lebih tahu perbedaan dan pemisah antara apa yang aku pikirkan dengan apa yang orang lain pikirkan.
Hal-hal yang membuat orang lain sedih atau senang, aku tak dapat merasakan itu semua.Tidak pernah sedikitpun bergema diperasaanku.Kenapa yang lain merasa senang ? Kenapa yang lain merasa sedih ?
Pada waktu balapan dan pertandingan dilapangan atau semacam permainan sepak bola, semua orang dengan gembira tersenyum lebar pada tim mereka ; atau ada seorang teman sekelas yang pindah sekolah, kemudian semua orang berkata selamat tinggal dengan perasaan sedih.
Aku merasa seperti orang asing yang berdiri diantara yang lain, kegelisahan mulai muncul diseluruh tubuhku.Aku akan menyembunyikan diriku.Perutku akan mulai merasa terbelit-belit.Orang lain akan bicara tiada henti, tapi sampai saat ini aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Kenapa ? Kenapa semua orang menangis ? Ah, aku benar-benar tidak mengerti.Tapi, bila hanya aku yang terlihat tanpa emosi saat semua orang menangis, orang lain akan menganggapku aneh.Jadi, aku harus membuat diriku menangis.Tapi, bagi wajahku yang kaku ini, itu terlihat tidak mungkin.Wajahku mulai memerah lagi.Bila orang lain mengetahui bahwa aku pura-pura sedih, apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak bisa menaikkan kepalaku sekarang.Jadi, aku menundukkan kepalaku lebih bawah lagi dan memasang ekspresi sedih.
Ah, ini waktunya semua orang tertawa bersama.Tapi apa yang lucu ? Aku benar-benar tidak tahu.Tapi, bila aku tidak menunjukkan reaksi yang sama dengan orang lain, mereka akan menganggapku aneh, dan aku tidak akan punya teman.
Sekarang adalah waktunya tertawa, aku harus tertawa dan tertawa.Tidak, ayo menangis dan menangis.Tidak, Reaksi untuk ini seharusnya adalah gelak tawa .
Didepan orang tuaku, guruku, dan teman sekelasku aku berusaha untuk berpura-pura dan bersikap sopan.Aku hanya harus berpura-pura, dan membuat semua orang menyukaiku.Ah, aku benar-benar berharap tidak ada satu orangpun yang akan mengetahui diriku.Yang sebenarnya adalah monster yang tidak memiliki hati manusia.Aku harap, aku dapat menyamar sebagai seorang badut bodoh, yang akan membuat orang lain tertawa terhadapku, menyayangiku, dan memaafkanku.Dan ini tidak akan pernah berkahir sampai kapanpun juga.
Dan sampai sekarang, aku masih memakai topeng dan bermain layaknya seorang badut. .
Sampai aku masuk SMA, sampai aku bertemu S, aku tidak pernah menyadari bahwa Aku hanyalah badut.
Saat aku terengah-engah di lorong, aku menaiki tangga yang mengarah ke atap.
Catatan tangan ketiga tidak ditulis oleh Shuuji Kataoka; itu ditulis oleh Takeda.
Bagaimana aku bisa begitu bodoh?
Aku selalu menggunakan akal sehatku yang dangkal dan naif untuk melihat perempuan bernama Takeda.
Mengapa Takeda begitu bertekad untuk menemukan S?
Mengapa Takeda terobsesi dengan kematian Shuuji Kataoka?
Imajinasiku terlalu kurang.
Takeda, wajahnya yang bundar, matanya yang bersinar, tingkah lakunya yang seperti anak kecil, senyumnya yang ceria, dia hampir seperti anak anjing, kenaifannya, kepribadiannya yang dia tunjukkan--- yang kulihat hanyalah permukaannya saja.
Aku tidak pernah menduga bahwa itu semua adalah kelakuan yang dibuat oleh Takeda!
Mari kita bicara tentang S!
S adalah orang yang paling memahamiku. Dia adalah musuh bebuyutanku dan teman baikku.
Dia adalah separuh dari diriku yang menentang.
Dengan kecerdasannya yang menakutkan, dia melihat semuanya.
Semua trik badut yang aku lakukan untuk membuat orang lain berpikir bahwa aku sempurna, itu semua tidak berpengaruh kepada S.
Jadi, aku sangat takut padanya.
Karena aku takut padanya, aku tidak bisa lepas darinya.
Di kelas, di klub, aku selalu berada di pihak S.
Aku merasa mata S adalah penilaian dari sang ilahi. Rasa takut dan malu terus-menerus membuatku gemetar dan keringat dingin.
Dunia ini neraka.
Dan aku adalah budak S .
Pada hari ulang tahunku yang ke 14, S memberiku sebuah mug, yang bergambar bebek disekitarnya.
S mengatakan bahwa bebek itu tampak sepertiku.
Ketika aku menjawab dengan 'hehehe', S menatap ke arahku dan bertanya apakah aku benar-benar ingin melanjutkan hidup yang seperti ini.
Aku menjadi takut.
Aku hanya monster yang menyamar sebagai bebek; ini sangat menyinggung S.
Aku mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain. Aku memakai ekspresi berlebihan dan mengatakan
sedikit lelucon.
Tapi S tidak tertawa; dia dengan marah berkata- 'Baiklah, kalau begitu, jadilah bebek bodoh seumur hidupmu' dan
bergegas pergi.
Aku mengejar S.
Jika S meninggalkanku, Dia akan memberitahu semua orang bahwa aku adalah monster!
Jika aku tidak bisa membuat S terhibur ...
Jika aku tidak menarik S kembali ...
Jika aku membiarkan S pergi seperti itu, aku mungkin juga akan mati---!
Ketika sampai pada kesimpulan ini, aku sengaja tersandung di jalan.
Karena kaget, S menoleh ke arahku. Dia mengerutkan kening seolah-olah dia sudah menyerah, dan berlari ke arahku.
Saat aku berdiri, sebuah mobil muncul entah dari mana; dan menabrak tubuh S yang rapuh dan terpental. Tubuhnya terbanting ke tanah, dan tetap di sana, tak bergerak.
Perempuan bernama Shizuka Saitou telah meninggal oleh tangan monster yang dikenal sebagai Chia Takeda.
Dihari itu, aku menyaksikan sebuah tubuh hancur, dan dari itu bau amis dari darah tersebar dijalan beraspal.Aku, dengan hatiku yang berlubang, berada ditempat kejadian.Aku.Telah membunuh seseorang.
'Aku benar-benar tidak mengerti'
'Meskipun sudah membaca 'Ningen Shikkaku ', aku masih belum bisa memahami ceritanya.'
'Aku benar-benar tidak mengerti, dan aku tidak terlalu pintar, aku memang tidak berguna. Dazai Osamu dan Kak Shuuji menginginkan kematian, bahkan jika aku menghabiskan hidupku untuk berpikir kenapa, aku masih belum mengerti. Aku membaca
'Ningen Shikkaku' dari awal sampai ke akhir hingga 5 kali, namun aku masih belum mengerti ... jadi pada akhirnya, yang hanya bisa kulakukan adalah menangis.Apa perasaan Takeda saat dia bilang dia tidak bisa mengerti 'Ningen
Shikkaku'?
'Jadi pada akhirnya, yang bisa aku lakukan hanyalah menangis.'
Emosi apa yang melintas di kepala Takeda saat dia menangis?
'Ini terlalu aneh. Dia terlalu banyak mengeluh. Tidak ada gunanya hidup dengan sangat menyakitkan seperti itu.'
Sebenarnya apa yang ada dalam hatinya saat dia mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu?
Aku berkata kepada anak laki-laki itu, ya kita bisa mencoba jalan bersama.
Anak laki-laki itu, sama seperti anak anjing , menunjukkan senyumannya yang tidak berdosa.
Dia memiliki kepercayaan penuh pada diriku. Dia mempercayakan segalanya kepadaku.
Dia orang yang naif, alami, baik hati, positif, kambing putih yang diberkati dan dicintai oleh tuhan.
Seorang anak laki-laki seperti dia, membuatku dipenuhi oleh rasa cemburu dan benci. Pada saat yang sama, Aku juga tidak bisa berhenti
merindukan akan kealamianya.
Mungkin, hanya mungkin, anak ini, bisa mengubah diriku.
Orang-orang sering mengatakan bahwa cinta bisa mengubah seseorang.
Mungkin anak ini bisa menyelamatkanku dari kehancuran.
Mungkin mulai sekarang, aku tidak akan lagi menjadi monster tanpa rasa kasih sayang dan tak acuh. Aku akan menjadi manusia seutuhnya.
Ah, aku benar-benar ingin menjadi seseorang seperti itu.
Rasa panas membakar muncul di dadaku; aku sungguh-sungguh berdoa untuk itu.
Jatuh cinta pada anak itu.
Meski awalnya cinta itu palsu, mungkin itu akan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya suatu hari nanti.
Kata-kata yang Takeda katakan kepadaku, sekarang aku melihat mereka dalam konteks lain, itu sesuatu yang sama sekali berbeda.
Pada hari saat hujan itu, saat dia memelukku di dekat gedung sekolah; atau saat aku menanyai Takeda tentang keberadaan Kak Shuuji, saat aku menanyakan kedua pertanyaan itu, Takeda selalu menampakkan ekspresi sedihnya.
Aku benar-benar salah mengerti alasan di balik wajah sedih itu.
Aku tersenyum setiap kali aku berada di depannya; aku terus mengulanginya, dengan suaraku yang manis,
bahwa aku mencintainya.
Hari demi hari dia jatuh cinta padaku sedikit demi sedikit; hari demi hari pula aku menjadi lebih sedih dan sedih.
Bahkan jika aku masih memakai topeng badut itu sebagai penyamaranku, hatiku terasa lemah dan lelah seperti orang sekarat. Kadang aku bahkan merasa tubuhku seperti terpisah.
Pada saat hujan itu, di samping gedung sekolah, saat bibir anak laki-laki itu menyentuh bibirku,
sesuatu di hatiku sepertinya meledak. Itu bukan kebahagiaan; itu sangat menjijikkan,
begitu menjijikkan sehingga semua rambut di tubuhku berdiri.
'Ahh, kau mengejutkanku ~~!' Aku tertawa dan lari seolah aku merasa malu.
Semuanya terasa berputar. Aku ingin memuntahkan sesuatu yang panas dan padat
di dalam tenggorokanku.Sering kali aku menutup mulut dengan tangan. Begitu air hujan masuk kemulutku.
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini!
Aku tidak bisa menerima ini lagi. Aku benci segalanya.
Kenapa aku masih hidup setelah aku membunuh S?
Bukankah harusnya sebaliknya?
Bukankah aku yang seharusnya terbunuh oleh S?
Bukankah karena memang itu yang kuinginkan, aku meringkuk di samping kaki S seperti seorang budak, dan
mengikutinya.
Aku benci dan takut pada S; tapi jauh di lubuk hatiku, aku menanti untuk dihancurkan oleh S.
Hanya S, itu adalah S, yang seharusnya orang yang membunuhku!
Tapi dia tidak ada lagi.
Aku, yang tercela dan rapuh, tidak dapat menghadapi kekecewaan orang lain, kecaman
dan diskriminasi. Aku hanya bisa hidup sebagai badut di dunia ini selama sisa hidupku.
Dibandingkan dengan saat aku bersama S, neraka yang aku alami saat ini jauh lebih kejam dan tidak memiliki
penebusan.
'Aku pikir menjalani kehidupan normal tidaklah buruk! Paling tidak untuk diriku sendiri, aku mendukungmu agar hidup yang sama.'
'Benarkah…'
Mengapa aku mengatakan sesuatu yang tidak sensitif seperti ini?
Aku tidak tahu tentang ini. Aku tidak tahu apa-apa.
Ketika aku mengatakan 'menjalani kehidupan normal tidaklah buruk' Takeda pasti merasakan jumlah rasa sakit dan putus asa yang tak terlukiskan.
Aku membaca sebuah surat yang ditulis oleh orang lain sepertiku.
Ini seperti melihat yang lain. Dadaku terus bergetar, tanpa jeda, air mataku terus mengalir diwajahku.
Ah, akhirnya aku bertemu orang lain yang merasakan hal yang sama sepertiku.
Hanya saja dia bisa mengerti penderitaan di hatiku.
Surat ini juga ditulis dengan meniru suratnya.
Semakin aku menulis, semakin dekat aku merasakan kehadirannya.
Takeda membaca surat Shuuji Kataoka dan menjadi sangat tertarik padanya, begitulah alasannya sehingga dia
tanpa henti mencoba mengungkap kebenaran di balik kematiannya. Dia tidak tertarik karena kualitas tulisannya.
Dia tidak tertarik padanya karena kepribadian mereka berlawanan.
Dia hanya tertarik padanya karena orang ini memiliki jiwa yang sama seperti dia; dia
ingin membuktikan bahwa orang ini pernah ada.
Siapa itu S?
Apa yang harus aku lakukan untuk menemukan kelemahan S?
Jika aku bisa menggerakkan hati S, aku akan bisa menggali semua rahasia S.
Ya, hanya S yang tahu penyebab kematiannya.
Bagaimana dia meninggal? Apakah dia memilih untuk bunuh diri, atau apakah dia dibunuh oleh S? Akhirnya, Saat ini, apa yang dia katakan? Ekspresi macam apa yang dia miliki saat dia meninggal?
Sebagai orang yang memiliki jiwa yang sama dengannya, jawaban macam apa yang sebenarnya aku cari?
Di sinilah jalanku akan menuju.
Apa alasanmu hidup? Apa alasanmu untuk mati?
Ah, aku ingin tahu. Tidak peduli apa yang terjadi, aku ingin tahu. Aku harus tahu ini.
Sepanjang waktu saat terbangun dan tidur, pikiranku tidak bisa berhenti merencanakan ini. Akhirnya, dari sebuah kejadian tak terduga, aku mendapat kunci penghancuran S.
Dengan rasa sakit yang luar biasa, seolah dadaku terbakar oleh besi yang mencair, akhirnya aku
paham.
Takeda dan Shuuji Kataoka adalah tipe orang yang sama.
Mereka berdua ingin dihancurkan oleh S--- seseorang yang paling mengerti mereka, seseorang
yang pada saat bersamaan adalah musuh terburuk mereka. Dan mereka berdua kehilangan orang terdekat mereka karena
perbuatan mereka.
Mereka sangat menyalahkan diri mereka sendiri karenanya, dan perlahan, pikiran mereka berhenti.
Setelah Takeda kehilangan teman dekatnya, Takeda diliputi rasa sakit karena kesalahannya
dan hati nuraninya. Surat dari Shuuji Kataoka berfungsi sebagai kompas yang memimpinnya untuk menemukan jalan keluar dari siksaan ini.
Jadi Takeda mulai beraksi.
Dia membiarkanku, yang terlihat seperti Shuuji, mendekati alumni Klub Memanah untuk menyimpulkan siapa S itu.
Dari juga, dia telah mengirim semua suratku padanya.
Sedikit demi sedikit, aku perlahan-lahan menyuntikkan racun ke S ---S menjadi semakin gila. Semua ini
lambat laun terjadi di bawah mataku yang sayu.
Aku tahu sikap S tidak begitu tenang seperti dulu.
S akan terus melihat-lihat; Suara S akan bergetar.
Saat S sendirian, akan ada desahan tanpa henti. Terkadang S bahkan akan meraih rambutnya,
dan kemudian S , seolah ketakutan akan sesuatu, berbalik dan melihat ke belakang.
Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dikatakan Shuuji sebelum dia meninggal--- apakah sama seperti yang dia bayangkan?
Bagaimana dia meninggal?
Apakah itu pembunuhan? Atau bunuh diri?
Apakah seseorang membunuhnya, atau apakah dia memilih kematian itu sendiri?
Takeda ingin tahu.
Tidak peduli apapun caranya, tapi dia harus tahu.
Waktunya sudah dekat
.
Semuanya sudah siap
.
Yang tersisa adalah membuka pintu dengan kuncinya.
