Dia adalah orang yang tidak dapat dipercaya dan selalu
membuat lelucon remaja. Dia
tidak pernah menunjukkan wajah aslinya kepada siapapun, dan itu benar-benar
membuatku jijik. Ketika aku mendapatkan sebuah ide, aku berkata
kepadanya 'Semua yang kau katakan adalah bohong. Kau hanya mencoba untuk mengelabui semua orang dengan tindakanmu.' Saat dia mendengarnya, dia tampak ketakutan dan hampir menangis.Ekspresinya tampak begitu rapuh dan sangat kosong; sehingga aku tidak bisa membiarkannya sendirian dan kemudian aku jatuh cinta padanya.Sampai suatu hari, didepanku, dia menghentikan semua tindakannya. Dia
memberitahuku, dan hanya kepadaku, tentang siksaan dan semua kesedihannya. Ketika
seseorang seperti dia memperlakukanmu seperti itu,
dengan semua ketulusan itu, Apakah menurutmu wanita akan menolaknya?
Dia menulis surat untukku dan
memasukkannya ke laci mejaku. Dalam Surat itu dia menulis bahwa dia ingin berbicara denganku, dan memintaku untuk naik
ke atap. Aku tahu itu
saatnya untuk membuat keputusan yang akan mengakhiri segalanya. Ketika aku menyadari hal ini, semuanya menjadi hitam.Aku tidak mau pergi.
Aku ingin menolaknya dan pulang ke rumah. Jika aku melakukan itu, mungkin dia akan menyadari betapa bodohnya ia dan segera menghentikan apa yang dia
rencanakan.Tapi, bagaimana kalau dia memutuskan untuk mati sendirian?
Jika ketidakhadiranku membuatnya putus asa, dan dia merasakan sebuah
pengkhianatan di dalam hatinya, lalu melompat dari atas gedung, aku sama sekali tak bisa membiarkan itu terjadi.Jadi aku pergi keatap saat itu juga. Dalam perjalanan ke atap, aku melihat seseorang berlari menuruni tangga. Saat
aku membuka pintu atap, aku menemukan lelaki itu. Dia disana, terbaring dilantai dengan sebuah pisau tertancap didadanya. Dia menatapku seolah dia tertawa dan menangis pada saat bersamaan, lalu dia
bergumam 'Kau lihat... Aku tidak akan mati hanya dengan ini, luka pisau ini terlalu dangkal dan ini tidak akan membuat jantungku berhenti berdetak'
Kemudian dia bertekuk lutut dihadapanku dan dia bilang padaku ... 'Hei, aku mohon padamu' Seolah dia memohon kepadaku, dia menambahkan, 'Tolong... Tolong bunuh aku'
Dia dengan susah payah berdiri dan bertanya kepadaku. 'Hei bolehkah aku meminjam sapu tanganmu' aku menyerahkan sapu tanganku kepadanya, tanganku gemetaran.Kenapa? Kenapa tanganku gemetar?.dan kemudian dia menggunakan sapu tanganku untuk menghapus sidik jari digagang pisau itu. Lelaki itu kemudian
menyerahkan kembali
saputanganku dan terhuyung-huyung ke arah pagar besi.
Dia berbalik dan menatapku. Lelaki itu tidak memiliki apa-apa selain kesedihan di
matanya. 'Hei, hanya kau yang bisa membunuhku.Bahkan sampai saat ini, aku tidak bisa mengerti perasaan orang lain.Kenapa orang tadi cemburu dengan seseorang sepertiku, kenapa dia membeci keberadaanku dan kemudian menikamku.Bahkan saat aku menyaksikan sebuah tubuh hancur dijalanan beraspal itu... Aku tidak merasa sedih sama sekali.Hei, bukankah jika seperti itu maka aku bukannlah manusia lagi? Hei, tolong beritahu aku... Apakah aku masih pantas sebagai manusia?'
Sudah terlambat untuk menyelamatkannya.
Jika aku benar-benar mencintainya, setidaknya aku harus membantunya
mewujudkan keinginan terakhirnya.
Jadi aku menjawab-
'Ya... Kau bukan manusia lagi'
Senyum lembut muncul di wajah lelaki itu,
seolah-olah dia berterima kasih kepadaku sebagai jawabannya.
Lalu dia berjalan dan terjun dari atap gedung.Ya, Akulah wanita yang telah membunuhnya.Maafkan aku
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...
No comments:
Post a Comment