Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Monday, 6 January 2020
The Gray Life Bagian 4
Dikelas, aku hanya duduk termenung dikursiku dengan rasa bosan yang berkepanjangan.Mungkin ini hampir sama bosannya ketika kau sedang menunggu antrian pembelian karcis film yang ingin kau tonton.dan kemudian kau mendapati bahwa antriannya mencapai hingga sepanjang satu kilometer.Wow ! Mengesalkan
sekaligus membosankan bukan.Kadang karena rasa bosan ini, aku sering melamun.
Ditambah lagi, Kojiro sedang kekantin dan masih belum kembali.
"Togashi ~~~"
Seorang perempuan yang tak kuketahui kehadirannya, berdiri didepanku sambil menatapku.Dengan senyuman yang khas, mungkin aku lebih memanggilnya seperti sebuah senyuman rayuan.
"To-ga-shi~~~"
"Y-ya" Aku tersadar dari lamunanku.
Kanade tiba-tiba menatapku, ada sekitar beberapa lama aku bertatapan dengannya.Apa ini sebuah permainan menatap ? Kalau ini adalah sebuah lomba menatap, aku adalah jagonya.Karena aku bahkan pernah tak berkedip selama waktu lima menit.Tapi kalau tatapan macam ini, tentu saja tidak adil bagiku.Maksudku dia tak henti-henti menatap mataku, apalagi ditambah dengan senyuman.Aku hanya bisa memalingkan wajahku seperti seorang anak yang menolak uang jajan dari ibunya, padahal sang anak ingin sekali menerimanya.
Kadang sesekali aku menoleh kearahnya lagi, aku sedikit tersenyum padanya.Tapi dia malah tersenyum lebih lebar lagi
"Hehehe...."
Sial, dia masih menatapku.Aku tak bisa membiarkan ini terus berlanjut.Tapi bagaimana cara menghentikannya.Kalau misalkan aku bilang Sudahlah hentikan tatapan mesummu itu. Apa dia akan marah ? Tapi lebih baik aku tidak usah berbicara seperi itu.
"Hehe... Ada apa Togashi ?"
"T-Tidak ada apa-apa, hanya saja kenapa kau menatapku seperti itu."
"Apakah salah kalau aku menatapmu Togashi ? Lagipula sebenaranya kau suka kan aku menatapmu seperti ini."
Suka ? Kanade, kau ini benar-benar blak-blakkan.Dia ini adalah perempuam yang suka sekali menggodaku.Tidak, aku lebih menyebutnya dengan menggoda sambil menjahili di saat yang bersamaan.
"A-apa maksudmu dengan suka ?"kataku
"Togashi, apa aku ini manis ?" Dengan kedua jari telunjuknya ditempelkan di pipinya, Dia mulai menanyakan suatu hal padaku.
Ah dengan mudahnya dia mengabaikanku dan mengganti topik pembicaraan seperti membalikkan telapak tangan.Lagipula bukankah kau sudah menanyakan hal itu padaku.Apa kau belum puas dengan jawabanku
"Tidak"
Tiba-tiba wajahnya menunjukkan ekspresi tidak puas.Dia mengubah ekspresi senangnya menjadi ekspresi cemberutnya.
"Kau tahu, Togashi.Jawabannmu itu menyakitkan.Walaupun aku sudah mendengarnya darimu dua kali.Tetap saja itu menyakitkan"
Apakah aku terlalu kejam untukmu.Tapi tunggu dulu, Siapa yang kejam disini.Kurasa kau lah yang lebih kejam.Kau hanya mendapatkan jawaban 'Tidak' dariku.Itu sudah kujawab dengan jujur kau tahu.Tapi, kau malah menyuruhku untuk berbohong.Apa mungkin itu jawaban yang ingin kau ketahui.Sebuah kebohongan yang keluar dari mulutku.
"Ah~~~ sudahlah."
Kanade menghela nafas panjang.Lalu dia duduk di atas mejaku dan layaknya seperti seorang anak kecil dia mulai mengayun-ayunkan kakinya.Dia merogoh sebuah handpone dan sebuah headseat dari kantong bajunya.Dia memasangkan headseat ditelinganya.Dan kemudian dia langsung mendengarkan sebuah lagu yang diputar dihandpone miliknya.
Lagipula, lagu apa yang dia dengarkan.Aku mulai penasaran dengan apa yang sedang dia dengarkan dari headseatnya.Kalau dilihat dari perempuan seperti dia, aku mulai bisa menebak lagu jenis apa yang sedang dia dengarkan.Pasti itu lagu yang slow dan tidak terlalu kencang.
Perlahan dia mulai membuka mulutnya dan bernyanyi.Aku penasaran dengan lagu apa yang sedang dia dengarkan.
Kalau yang kudengar dari lagu yang dia nyanyikan, pasti itu adalah sebuah lagu barat.
"Lagu apa itu ?"
"Hah" katanya sambil membuka headseat dan menaruh tangannya ditelinganya seolah dia tak mendengar apa yang aku katakan.
"Lagu apa itu ?" Kataku sedikit keras.
"Oh, lagu ini"
"Ya" kataku sambil menganggukan kepalaku.
"Kau mau dengar ?"
Boleh juga, lagipula aku juga sedang bosan.Tak ada salahnya kan mendengarkan sedikit musik.Siapa tahu ini akan menghilangkan sedikit rasa bosanku.Perlahan dia menempelkan sebelah headseatnya ditelingaku.
"A-apa ini ?!"
Sebuah alunan musik rock yang sangat keras bergema dikepalaku.Aku hampir tidak bisa mendengar sekitarku, walaupun aku hanya memakai sebelah headseat miliknya.Kepalaku sudah seperti mau pecah mendengarkannya, ditambah lagi volume suaranya yang berada di volume paling tinggi.
Ini sudah lebih dari dugaanku.Kukira perempuan seperti dia akan mendengarkan lagu-lagu yang terkesan lambat laun.Tapi, ada apa dengan perempuan ini, Lagu ini tidak terkesan lambat laun sama sekali.Ini lebih seperti sebuah lagu kematian yang dia berikan untuk membunuhku.Tak kuasa menahan bising dari lagu itu.Aku langsung melepaskan headseat yang tertempel ditelingaku.
"Hebat kan ?"
Kanade menyengir padaku.Hebat ndasmu.Maksudku, Ayolah...
"Aku sangat menyukai lagu ini, lagu ini seperti memberikan semangat padaku setiap kali aku mendengarkannya.Memang terdengar aneh sih kalau ada seorang perempuan sepertiku yang menyukai tipe lagu seperti ini, ya kan ?"kata Kanade
"T-tidak juga, setiap orang pasti mempunyai seleranya masing-masing.Bahkan sesuatu yang kita suka belum tentu orang lain suka dan begitu sebaliknya.Belum tentu sesuatu yang orang lain suka kita juga akan menyukainya juga, ya kan ?"
Ngomong apa aku ini?
"Kau betul Togashi...Lalu, apa kau juga punya lagu kesukaan , Togashi ?"
"Mmm...mungkin aku lebih suka lagu yang lebih lambat dan dapat menenangkan jiwa."
Kanade menyengir padaku.Apa ? Apa ada yang salah dengan jawabanku ?.Ya, kuakui.Aku ini tipe orang yang tidak suka kebisingan.Itu karena, Setiap aku mendengar sebuah kebisingan dan keributan, rasanya otakku seperti ingin keluar dari dalam kepalaku.
"Sudah kuduga kau menyukai lagu seperti itu, Lalu lagu seperti apa itu ?"
"Mungkin bukan sebuah lagu, melaikan sebuah instrumen.Contohnya seperti Cannon ID karya Johann Panchelbel.Setiap alunannya membuatku teringat masa-masa lalu.Dan itu sangat menenangkan"kataku
"Masa lalu ?" kata Kanade melihatku kebingungan
Dia kembali menyengir padaku, dan Kanade turun dari mejaku.
Dan berdiri menghadap kearahku yang sedang duduk.Kemudian dia menatapku.
"Kalau begitu, lain kali aku juga akan mendengarkan instrumen itu, boleh ?"kata Kanade dengan matanya yang berkilauan.
"S-silahkan, lagipula tidak ada yang melarangnya"
Kenapa kau minta izin kepaku, lebih baik kau minta izin sama pembuatnya saja sana.
Dan dengan perasaan senang, dia tersenyum.Tapi aku masih belum tahu sifat asli perempuan ini.Aku tak tahu senyum manisnya itu ditujukkan untukku atau hanya sebuah senyum kehampaan.
"Kanade!"
Ah sepertinya itu teman-temannya.
"Ya tunggu sebentar!, Kalau begitu, Togashi.Aku pergi dulu ya"
"Y-ya"
Setelah percakapan itu selesai, dia berbalik dan kemudian menuju teman-temannyq.Kadang, pernah terlintas dipikiranku bahwa dia, memang perempuan yang menarik.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...
No comments:
Post a Comment