Dia berdiri dengan celana panjangnya diujung kolam dekat taman. Kepalanya terarah dalam sudut 30 derajat ke kiri, dan giginya terlihat dalam sebuah senyum yang buruk. Buruk? Kau juga mungkin mempertanyakan kata tersebut, untuk orang-orang yang tidak sensitif (yang mengatakan, tidak adanya perbedaan diantara keindahan dan kejelekkan) akan secara otomatis berkomentar dengan ekspresi yang terpana dan bodoh, "Tampannya anak kecil ini!" Memang agak benar, secara umum "ketampanan" adalah sesuatu yang ada pada wajah anak ini, tapi itu hanya memberikan arti yang kecil pada sanjungan tersebut. Dan, setelah kupikir, ketika ada orang dengan pengetahuan tentang keindahan yang mumpuni, dia pasti akan langsung mengatakan sesuatu dengan gestur tubuhnya seperti seseorang yang baru saja menyingkirkan seekor serangga dari pundaknya, "Betapa mengerikannya anak ini!" Tentu saja, semakin kau mengamati senyum dari anak ini semakin sulit kau menggambarkannya. Ketakutan yang tidak terjelaskan akan menghantuimu. Kau akan melihat bahwa itu bukanlah senyum sama sekali. Anak ini tidak berniat untuk menunjukkan sebuah senyuman. Lihatlah kepalan tangan yang sangat kuat itu jika kau inginkan bukti. Tidak ada manusia yang bisa tersenyum dengan mengepalkan tangannya dengan erat seprerti itu. Ia sama seperti halnya seekor kera. Seekor kera yang sedang meringis. Senyum itu tidak lebih berasal dari salah satu keburukannya. Foto itu menghasilkan sebuah ekspresi yang sangat gila, dan di saat yang bersamaan, itu tidak bisa terjelaskan dan bahkan itu bisa membuatmu muak, sehingga kau akan berkata "Betapa jelek dan buruknya anak ini!". Aku tidak pernah melihat seorang anak kecil dengan ekspresi yang tidak jelas seperti ini. Wajah yang tergambar di foto kedua mungkin ketika di awal akan terasa berbeda dengan yang pertama. Di foto ini dia sudah menjadi seorang siswa, meskipun tidak diketahui dengan jelas apakah ketika dia siswa SMA atau mahasiswa. Selain itu, dia yang sekarang menjadi lelaki yang luar biasa tampan. Tapi, pada gambar ini pula wajahnya kembali gagal menggambarkan ekspresi yang dimiliki seorang manusia. Ia mengenakan seragam siswa dengan saputangan putih yang mengintip dari kantung bajunya. Dia duduk di atas sebuah kursi rotan dengan kakinya yang disilangkan. Lagi-lagi ia tersenyum, tapi kali ini bukan senyum seekor kera yang meringis, namun senyum kecil dari seseorang yang cerdik. Dan entah kenapa, senyum ini masih belum terlihat sebagai sebuah senyuman yang ada pada seorang manusia: senyum itu sama sekali sudah kehilangan sebuah arti "tersenyum" pada seorang manusia pada umumnya. senyum itu bahkan tidak memiliki berat dari seekor burung. Itu hanya sebuah kertas kosong, seenteng bulu, dan tersenyum. Foto ini menggambarkan, secara singkat, apa yang disebut dari senyum kepalsuan. Tuntutan, ketidaktulusan, kebodohan. tidak ada satupun dari kata-kata ini yang dapat menjelaskannya. Dan tentu saja kau tidak bisa menyebutnya sebagai persolekan. Faktanya, jika kau melihatnya secara seksama kau akan mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dan tidak mengenakkan mengenai lelaki muda yang tampan ini. Aku tidak pernah melihat seorang pemuda tampan yang sebegitu mengherankan seperti ini. Foto terakhir adalah yang paling menakutkan dari semuanya. Sangat sulit untuk mengira berapa usianya dalam foto ini, meskipun rambutnya sudah terlihat memutih. Foto ini diambil dari sebuah ruangan yang luar biasa kotornya (kau bisa dengan mudahnya melihat dari temboknya yang runtuh di tiga tempat). Tangannya berada di depan. Kali ini dia tidak tersenyum. Tidak ada ekspresi apapun. Foto ini jelas sekali membuat merinding, sebuah arti akan ketakutan, dimana foto ini memperlihatkan ia yang sudah tua ketika ia duduk di depan kamera, tangannya berada diatas sebuah penghangat. Itu bukan satu-satunya hal yang mengejutkan dari foto itu. Kepalanya terlihat membesar, dan kau bisa memperhatikannya dengan jelas: keningnya yang besar, bintik-bintik yang ada diatasnya, alisnya yang juga besar, matanya, hidungnya, mulutnya, dan dagunya... wajahnya tidak sama sekali tanpa ekspresi, wajah itu bahkan sama sekali berbeda jauh dari wajahnya yang dulu. Dia tidak miliki individualitas. Aku hanya cukup menutup mataku untuk melupakan wajahnya. Aku hanya bisa ingat temboknya, penghangat kecil, tapi semua ekspresi yang ada di wajah yang seharusnya menjadi figur utama menghilang; aku tidak dapat mengingat kembali satupun tentangnya. Wajah ini tidak akan bisa menjadi gambaran dari lukisan, bahkan komik sekalipun. Kubuka mataku. Aku bahkan tidak memiliki keinginan untuk mengingatnya lagi: tentu saja, itulah tipe wajah yang kumaksud! Untuk mengatakannya dalam perkataan yang lebih gamblang: ketika aku membuka mataku dan melihat foto itu untuk kedua kalinya, tetap saja aku tidak bisa mengingatnya. Di samping itu, foto itu justru memberikanku kesan yang salah, dan membuatku merasa tidak nyaman, lalu akhirnya membuatku ingin mengalihkan pandanganku. Kupikir, mungkin sebuah topeng kematian miliki ekspresi yang lebih, dan menciptakan ingatan yang lebih membekas. Sebuah patung yang tidak lebih dari tubuh manusia dengan kepala kuda yang ada diatasnya. Sesuatu yang tidak tergambarkan membuat orang yang melihatnya merasa ngeri dengan kehampaannya. Aku tidak pernah melihat wajah lelaki yang begitu tidak terstruktur seperti ini.
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Tuesday, 24 October 2017
Bukan Manusia Lagi : Prolog
Dia berdiri dengan celana panjangnya diujung kolam dekat taman. Kepalanya terarah dalam sudut 30 derajat ke kiri, dan giginya terlihat dalam sebuah senyum yang buruk. Buruk? Kau juga mungkin mempertanyakan kata tersebut, untuk orang-orang yang tidak sensitif (yang mengatakan, tidak adanya perbedaan diantara keindahan dan kejelekkan) akan secara otomatis berkomentar dengan ekspresi yang terpana dan bodoh, "Tampannya anak kecil ini!" Memang agak benar, secara umum "ketampanan" adalah sesuatu yang ada pada wajah anak ini, tapi itu hanya memberikan arti yang kecil pada sanjungan tersebut. Dan, setelah kupikir, ketika ada orang dengan pengetahuan tentang keindahan yang mumpuni, dia pasti akan langsung mengatakan sesuatu dengan gestur tubuhnya seperti seseorang yang baru saja menyingkirkan seekor serangga dari pundaknya, "Betapa mengerikannya anak ini!" Tentu saja, semakin kau mengamati senyum dari anak ini semakin sulit kau menggambarkannya. Ketakutan yang tidak terjelaskan akan menghantuimu. Kau akan melihat bahwa itu bukanlah senyum sama sekali. Anak ini tidak berniat untuk menunjukkan sebuah senyuman. Lihatlah kepalan tangan yang sangat kuat itu jika kau inginkan bukti. Tidak ada manusia yang bisa tersenyum dengan mengepalkan tangannya dengan erat seprerti itu. Ia sama seperti halnya seekor kera. Seekor kera yang sedang meringis. Senyum itu tidak lebih berasal dari salah satu keburukannya. Foto itu menghasilkan sebuah ekspresi yang sangat gila, dan di saat yang bersamaan, itu tidak bisa terjelaskan dan bahkan itu bisa membuatmu muak, sehingga kau akan berkata "Betapa jelek dan buruknya anak ini!". Aku tidak pernah melihat seorang anak kecil dengan ekspresi yang tidak jelas seperti ini. Wajah yang tergambar di foto kedua mungkin ketika di awal akan terasa berbeda dengan yang pertama. Di foto ini dia sudah menjadi seorang siswa, meskipun tidak diketahui dengan jelas apakah ketika dia siswa SMA atau mahasiswa. Selain itu, dia yang sekarang menjadi lelaki yang luar biasa tampan. Tapi, pada gambar ini pula wajahnya kembali gagal menggambarkan ekspresi yang dimiliki seorang manusia. Ia mengenakan seragam siswa dengan saputangan putih yang mengintip dari kantung bajunya. Dia duduk di atas sebuah kursi rotan dengan kakinya yang disilangkan. Lagi-lagi ia tersenyum, tapi kali ini bukan senyum seekor kera yang meringis, namun senyum kecil dari seseorang yang cerdik. Dan entah kenapa, senyum ini masih belum terlihat sebagai sebuah senyuman yang ada pada seorang manusia: senyum itu sama sekali sudah kehilangan sebuah arti "tersenyum" pada seorang manusia pada umumnya. senyum itu bahkan tidak memiliki berat dari seekor burung. Itu hanya sebuah kertas kosong, seenteng bulu, dan tersenyum. Foto ini menggambarkan, secara singkat, apa yang disebut dari senyum kepalsuan. Tuntutan, ketidaktulusan, kebodohan. tidak ada satupun dari kata-kata ini yang dapat menjelaskannya. Dan tentu saja kau tidak bisa menyebutnya sebagai persolekan. Faktanya, jika kau melihatnya secara seksama kau akan mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dan tidak mengenakkan mengenai lelaki muda yang tampan ini. Aku tidak pernah melihat seorang pemuda tampan yang sebegitu mengherankan seperti ini. Foto terakhir adalah yang paling menakutkan dari semuanya. Sangat sulit untuk mengira berapa usianya dalam foto ini, meskipun rambutnya sudah terlihat memutih. Foto ini diambil dari sebuah ruangan yang luar biasa kotornya (kau bisa dengan mudahnya melihat dari temboknya yang runtuh di tiga tempat). Tangannya berada di depan. Kali ini dia tidak tersenyum. Tidak ada ekspresi apapun. Foto ini jelas sekali membuat merinding, sebuah arti akan ketakutan, dimana foto ini memperlihatkan ia yang sudah tua ketika ia duduk di depan kamera, tangannya berada diatas sebuah penghangat. Itu bukan satu-satunya hal yang mengejutkan dari foto itu. Kepalanya terlihat membesar, dan kau bisa memperhatikannya dengan jelas: keningnya yang besar, bintik-bintik yang ada diatasnya, alisnya yang juga besar, matanya, hidungnya, mulutnya, dan dagunya... wajahnya tidak sama sekali tanpa ekspresi, wajah itu bahkan sama sekali berbeda jauh dari wajahnya yang dulu. Dia tidak miliki individualitas. Aku hanya cukup menutup mataku untuk melupakan wajahnya. Aku hanya bisa ingat temboknya, penghangat kecil, tapi semua ekspresi yang ada di wajah yang seharusnya menjadi figur utama menghilang; aku tidak dapat mengingat kembali satupun tentangnya. Wajah ini tidak akan bisa menjadi gambaran dari lukisan, bahkan komik sekalipun. Kubuka mataku. Aku bahkan tidak memiliki keinginan untuk mengingatnya lagi: tentu saja, itulah tipe wajah yang kumaksud! Untuk mengatakannya dalam perkataan yang lebih gamblang: ketika aku membuka mataku dan melihat foto itu untuk kedua kalinya, tetap saja aku tidak bisa mengingatnya. Di samping itu, foto itu justru memberikanku kesan yang salah, dan membuatku merasa tidak nyaman, lalu akhirnya membuatku ingin mengalihkan pandanganku. Kupikir, mungkin sebuah topeng kematian miliki ekspresi yang lebih, dan menciptakan ingatan yang lebih membekas. Sebuah patung yang tidak lebih dari tubuh manusia dengan kepala kuda yang ada diatasnya. Sesuatu yang tidak tergambarkan membuat orang yang melihatnya merasa ngeri dengan kehampaannya. Aku tidak pernah melihat wajah lelaki yang begitu tidak terstruktur seperti ini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...

No comments:
Post a Comment