Hari berikutnya adalah hari sabtu, sekolah libur.Pada hari senin berikutnya, saat isrirahat jam pertama.Takeda, dengan langkah kakinya yang semangat, muncul di luar
pintu kelas.
"Kak Konoha, bisakah aku meminta surat-suratnya sekarang ? ~~"
Dia tersenyum, lebih bahagia dari Takeda yang biasanya, aku memotong pembicaraanya."Maaf, aku tidak bisa menulis surat-suratnya. Aku perlu tahu lebih banyak tentang Kak Shuuji.Kalau tidak, aku tidak akan menulisnya".Senyuman di wajah Takeda lenyap. Matanya tampak seperti anak anjing yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya.
"Tentang Kak Shuuji, bisakah kau menceritakan lebih banyak tentang dia ? Tolong beritahu aku semua yang kau tahu tentangnya.Maka aku akan menulis surat-suratnya"kataku.
"..." Takeda menurunkan kepalanya.Seakan jemarinya terpelintir, dia terus meregangkannya."Setelah pulang sekolah ... bisakah kau datang ke perpustakaan ? Aku akan menunggumu di ruang penyimpanan dibawah tanah."
Tangga tua berbentuk spiral itu berderit saat aku menyusuri jalan itu. Di bagian bawah ada pintu berwarna abu-abu.Lalu, aku mengetuknya.
"Silahkan masuk."
Sebuah suara dari dalam menjawab.
Saat aku perlahan menarik kenop pintu ke belakang, aku mencium aroma manis.
Bukan bau krim atau cokelat ---itu bau buku-buku tua.
Ruangan itu tertutup debu. Ada jaring laba-laba di seluruh langit-langit. Dua atau tiga
rak buku berdiri di ruangan itu, dengan banyaknya tumpukan buku tergeletak di lantai.
Tempat ini seperti kuburan untuk buku-buku itu. Di tengah ruangan yang ramai itu ada
meja dan kursi yang sudah tua. Lampu di atas meja dinyalakan, dan lampu itu menyinari seluruh ruangan.
Takeda duduk di depan meja dan sedang menulis sesuatu. Dengan kedatanganku dia menutup buku catatan bebeknya dan diam-diam menatapku. Di samping buku catatan ada cangkir kopi.
Gambar di atas cangkir itu sama dengan buku catatannya--- keduanya memiliki bebek kecil yang sama.
"Ruangan ini sering dipenuhi kecoak dan tikus loh."
Senyuman ringan muncul di wajah Takeda saat dia mengatakan itu.
Aku melihat bagian bawah kakiku dengan perasaan tidak enak.
"Karena itulah penjaga perpustakaan lain tidak menyukai tempat ini dan tidak ingin berada di sini; aku memperlakukan tempat ini sebagai ruang rahasia dan aku sering berada di sini. "Kata Takeda."... Benarkah begitu."kataku.
"Kak Konoha, apa kau tidak menyukai kecoak ?"kata Takeda."... Aku rasa tidak ada orang yang menyukai Kecoa."kataku.
"Itu benar, aku belum pernah mendengar tentang klub pecinta kecoa, atau website penggemar kecoa"kata Takeda.
"...Jika aku harus bandingkan, tikus lebih menjijikan dari kecoak. Itu karena saat aku berada di sekolah dasar.Aku pernah tinggal di rumah bibiku. Suatu hari, ketika aku terbangun.Aku melihat tikus mati di sebelah bantalku. Saat aku menggeser posisi tubuhku, wajahku menempel pada mayat tikus itu. Bahkan,
Meskipun ini ternyata dilakukan oleh kucing bibiku ... uhhh, sekarang aku masih teringat akan kejadian itu"
Aku bergidik saat mengingat kejadian tikus mati itu.
"Ah, itu bencana. Tapi tikus 'hanya muncul sesekali', jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.jika tikus itu muncul, aku akan membantumu mengusirnya. "
Dengan bunyi gedebuk, Takeda memukul dadanya dengan tangannya.
"Terima kasih, aku merasa jauh lebih baik."
"Ah, Kak Konoha, maukah kau minum teh ?"
Takeda mengeluarkan kendi air jeruk, memutar tutupnya, dan menuang minuman ke dalamnya
"Ini, ini teh panas."
"Kau memiliki hobi tradisional."kataku
"Hehehe, kadang aku menyelinap ke sini hanya untuk minum teh."
Wadah menyimpan teh panas agar suhunya tetap stabil; itu bagus.
"Terima kasih."kataku.Aku meletakkan tutupnya ke atas meja.dan dari sakuku, aku mengeluarkan surat Shuuji Kataoka yang aku pinjam dari Takeda kemarin.
"... Pertama-tama, kau bisa mengambil ini kembali."
"..."
Takeda diam menerima surat itu. Dia memasukkannya ke buku catatan bebeknya, dan memegang erat buku catatan itu ke dadanya
"Aku minta maaf sebelumnya jika aku salah.Aku tidak berpikir surat itu ditulis untukmu Takeda.Aku rasa itu
ditulis untuk orang lain, jika itu benar ? "
Jari Takeda tersentak.
"Surat itu tidak berisi nama penerimanya. Selain itu, dilihat dari isinya, aku rasa surat itu ditulis bukan untukmu."Kataku.
"…Benar."
Gumam Takeda.
"Kak Shuuji tidak memberikan surat itu padaku. Aku menemukannya secara kebetulan dalam sebuah buku. "Kata Takeda.
"Buku, dari perpustakaan?".
"Ya, itu berada di antara karya Dazai Osamu 'Ningen Shikkaku'.Aku penasaran, jadi aku membacanya
dan aku kaget olehnya. Ini sangat menggangguku dan aku tidak bisa menahannya, jadi aku pergi untuk menemui Kak Shuuji. "
"Di Klub Memanah ?"
Takeda-san sedikit ragu, lalu dengan terpaksa mengangguk.
"…Iya."
"Tapi Klub Memanah tidak memiliki anggota bernama Shuuji Kataoka ..."
"Tidak, Kak Shuuji benar-benar ada."
Dia mengangkat kepalanya dan berkata dengan antusias.
"Itu benar. Kak Shuuji memang ada. "
Aku tidak mengerti.Mengapa Takeda bersikeras bahwa Shuuji Kataoka benar-benar ada ?
Dan juga, siapa identitas sebenarnya Shuuji Kataoka yang Takeda akui ?
Atau apakah Shuuji Kataoka tidak terlihat olehku dan hanya Takeda yang bisa melihatnya ? Itu menakutkan.
Takeda meletakkan kembali buku catatan itu ke meja dan terus menunduk sepenuhnya.
Keheningan yang berat memenuhi ruangan bawah tanah ini.
Aku merasa seolah tikus berdecit didekatku.Aku mencoba mengubah topik pembicaraan.
"Lalu, surat itu adalah tiruan dari karya Dazai Osamu 'Ningen Shikkaku' Apa kau tahu? "
"...Ya. Setelah aku membaca surat itu, aku meminjam 'Ningen Shikkaku'dan kemudian membacanya juga."
Takeda tersenyum lemah.
"Tapi, aku terlalu bodoh. Meski aku selesai membaca 'Ningen Shikkaku', aku masih belum bisa mengerti. Mengapa orang ini merasa sangat kesakitan ... Dia cukup kaya untuk menyewa pembersih rumah.
Setiap kali ayahnya pergi ke kota, dia selalu membeli hadiah untuk keluarganya. Saudara kandungnya, teman,
dan guru semua baik kepadanya. Dia pintar dan menulis banyak karya terkenal. Banyak wanita yang mencintainya; ada beberapa
bahkan mau mati bersamanya. Mengapa dia merasa dia sangat memalukan sehingga dia tidak pantas untuk hidup ? Ini terlalu aneh. Dia terlalu membenci dirinya sendiri. Tidak ada gunanya hidup dengan sangat menyakitkan seperti itu. "
Ekspresi sedih muncul di wajah Takeda. Matanya bersinar tapi seperti orang kesepian. Setengah jalan
saat bercerita, dia menundukkan kepalanya. Bahunya bergetar hebat, bibirnya terus bergerak perlahan.
"... Itu yang bisa kupikirkan, aku sangat tidak berguna. Aku sangat bodoh.Itu benar, aku hanyalah manusia biasa, dan kepalaku tidak begitu pintar, aku memang tidak berguna. Dazai Osamu dan Kak Shuuji 'menginginkan kematian', bahkan jika aku
menghabiskan waktu seumur hidup memikirkan kenapa, aku masih tidak akan bisa mengerti.aku membaca 'Ningen Shikkaku' dari
awal hingga akhir 5 kali, namun aku masih belum mengerti ... akhirnya, yang hanya bisa kulakukan hanyalah menangis. "
Air mata Takeda dengan tenang menodai dadaku.
Untuk memahami orang yang kau cintai.
Tapi tidak mampu.
Karena tidak dapat memahami rasa sakit yang dialami orang lain, aku pernah mengalami pengalaman itu.
Tenggorokan Takeda, seolah mencoba menelan air matanya, mengeluarkan suara 'Tegukan'. Lalu dia mengambil
cangkir bebeknya dengan tangannya.
"... Cangkir ini, adalah hadiah ulang tahun dari temanku; Shii, dia adalah sahabatku. Dia berbeda
denganku. Dia sangat cerdas dan kompeten ... Dia bilang aku seperti bebek ini, aku selalu terlihat tidak mengerti,
dan aku selalu tersandung di tempat-tempat yang tidak perlu dilewati... Aku tahu bahwa aku hanyalah orang bodoh biasa ... tapi aku sangat ingin membantu Kak Shuuji. Jika ada yang bisa aku
lakukan untuk dia, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyelesaikannya. "
Tekad kerasnya bisa dilihat melalui nada suaranya.
Paling tidak, di hati Takeda, Kak Shuuji memang benar-benar ada. Takeda benar-benar mencintai Kak Shuuji.
Melihat dia menangis seperti itu, aku tidak dapat menemukan sesuatu untuk dipikul.
"Aku juga tidak mengerti 'Ningen Shikkaku '".
Aku hanya bisa mengatakan ini.
Takeda mengangkat kepalanya, dan dengan melihat dia yang hampir hancur, dan menangis, dia menatapku.
Bibirnya bergetar pelan.
Akankah Takeda datang dan berlindung padaku, seperti apa yang dia lakukan pada waktu hujan saat itu? Aku
bertanya-tanya.
Tapi, yang bisa kudengar hanyalah suara tegukan dari tenggorokannya. Kedua ujung bibirnya terangkat dan dia tersenyum
padaku.
"Eheh, ehehe ...... itu alasannya. Di mata rakyat jelata sepertimu dan aku, mereka yang terlahir sebagai keluarga kaya dan masih merasa malu dengan diri mereka sendiri ... mereka benar-benar terlihat bodoh. Ehehe "
Dia berusaha sekuat tenaga untuk memaksakan senyumannya, tapi rasanya sama sekali tidak ada rasa ceria. Akhirnya dia mulai
menangis lagi.
"Kak Konoha ... wajahmu..., aku menyukainya."
"Kenapa kau tiba-tiba-"
Wajahnya yang memaksakan tersenyum, menatapku, lalu perlahan berkata:
"Wajah Kak Konoha ... terlihat sangat indah, sangat lemah lembut."
Meskipun aku telah diejek bahwa aku terlihat seperti gadis sebelumnya, ini adalah pertama kalinya seseorang mengatakan bahwa aku
itu indah.Aku menjadi bingung.
"Takeda, itu hal yang aneh untuk dikatakan."
"Eheh, aku perlu meminta bantuanmu Kak Konoha. Besok sepulang sekolah, bisakah kau menemaniku ke Klub Memanah ? "
Suara Takeda sangat kuat sehingga aku tercengang.
"Tolong ikut aku ke Klub memanah ya. Aku akan mengantarmu ke Kak Shuuji. "
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...
No comments:
Post a Comment