Malam itu, di kamarku sendiri. Aku berulang kali membaca 'Ningen Shikkaku', dan aku tenggelam dalam pemikiran yang mendalam.(Klub
memanah tidak memiliki seseorang bernama Shuuji Kataoka. Jadi apa yang direncanakan Takeda ?
Apa dia ingin menunjukkan padaku apakah aku salah atau tidak? )
Meski sudah beberapa tahun sejak aku membaca 'Ningen Shikkaku', aku masih mengingat ceritanya yang begitu putus asa dan
menyedihkan. Meskipun, mungkin sekarang aku sudah tumbuh lebih dewasa dalam beberapa tahun terakhir ini, jadi aku bisa mengerti apa yang dirasakan tokoh utama.
Ahh, ketika aku akhirnya menyadari bahwa aku sedang berpikir "Ah, aku juga berpikir seperti itu" atau "Karakter utamanya sama sepertiku ", aku sangat kaget.
(Yikes, apakah aku juga jatuh cinta dengan Dazai?)
"Konoha, ada telepon."
Ibuku memanggilku dari lantai bawah.
Aku mengangkat teleponnya; Peneleponnya tidak lain dan tidak bukan adalah Kak Touko.
"Ku-shu, halo, Konoha ?"
Mungkin karena dia memaksa dirinya untuk pergi ke sekolah kemarin, demam Kak Touko lebih serius hari ini.Pada jam istirahat kedua dia harus pulang ke rumah dikarenakan sakit. Sebelum dia
pulang, dengan langkah yang tidak stabil, dia datang menemuiku.
"Aku akan serahkan Chia kepadamu. Jangan terlalu emosi kepadanya. Jangan menggertaknya. Jika ada
hantu muncul, kabur secepat mungkin. Jika ada sesuatu yang terjadi segera hubungi aku, ini nomor teleponku."
Setelah itu, dia menulis nomor teleponnya di tangan kananku dengan spidol.
"Ku-shu, ku-shu. Baiklah, aku sangat bersukur kau sudah ada dirumah. Kenapa kau tidak meneleponku ? Aku khawatir
bahwa kau mungkin telah dimakan oleh hantu. Ku-shu "
Aku berbaring di tempat tidurku dan melihat nomor telepon yang ditulis Kak Touko di tanganku.
Bahkan jika dia tidak menuliskannya, aku masih bisa menemukan nomor teleponnya di daftar anggota klub
(karena hanya ada dua anggota yaitu aku dan Kak Touko).Walaupun begitu, bagaimanapun, Kak Touko masih menyambar tanganku, dan dengan air mata di matanya dikarenakan bersinnya yang terus-menerus, ekspresinya sangat serius ketika dia sedang menulis di tanganku.
Tangan Kak Touko basah karena bersin dan keringatnya.
"Karena kau masih sakit dan tidur dikasurmu, aku pikir mungkin aku tidak akan mengganggumu. Bagaimana keadaanmu sekarang ?"kataku.
"Aku baik-baik saja. Pokoknya, bagaimana obrolanmu dengan Chia ? "
Definisi 'baik' orang ini benar-benar tidak dapat dipercaya. Saat aku mengingat masa lalunya dengan tindakan cerobohnya, aku menceritakan kejadian itu pada Takeda.
Ketika Kak Touko mendengar bahwa Takeda dan aku akan pergi ke klub memanah, Kak Touko kaget
"Mungkin hantu Kak Shuuji akan muncul! Konoha, jangan lupa bawa garam [Catatan: biasanya garam digunakan untuk mengusir 'makhluk-mahluk/roh jahat. "]
Kenapa kau selalu memikirkan hantu? Apakah kau berteman dengan hantu? Jika ada buku dimakan monster di dunia ini, kurasa tidak aneh jika hantu ada juga.
Aku mengatakan kepadanya bahwa setelah aku membaca ulang 'Ningen Shikkaku' sepertinya aku sedikit menyukainya. Dia bersin,
dan kemudian mulai tertawa kecil:
"Aku juga pernah jatuh ke dalam kegelapan pada karakter utama saat aku berada dalam suasana hati yang Saaaangat buruk. Sihir Dazai benar-benar sangat mengerikan. "
"Kak Touko, jadi kau pernah mengalami depresi dari waktu ke waktu juga ?"
"Ya, itu saat aku diberi tahu bahwa aku hanya harus mencintai Daisatsukai."
"Ha ha ha"
"Dan saat semua orang makan Fruit sunday, yang aku rasakan, hanya rasa yang sangat mengerikan ..."
Kali ini aku tidak tertawa. Makanan yang menurut semua orang enak--- untuk Kak Touko
hanya benda-benda yang rasanya hambar.
Sama seperti karakter utama 'Ningen Shikkaku', yang tidak bisa merasakan emosi.
Karena yang lain bisa merasakan emosi, oleh karenanya, itu membuat dia merasa tersiksa; sama seperti makanan yang disukai orang lain, namun kau sendiri
tidak merasakan apa-apa yang ada hanya rasa hambar.
Kak Touko bersin lagi, dan dengan ceria berkata:
"Jadi aku menggunakan imajinasiku untuk membayangkan diriku memakan sebuah buku yang lezat, dan mengatakan 'Wah, sangat lezat.'"
"Karena kau Gadis sastra kan ?."
"Ehem, itu benar. Ah, tapi tentang 'Ningen Shikkaku', ada satu bagian yang tidak bisa aku mengerti. "
"Bagian mana?"
"Bagian ini--- 'aku tidak pernah tahu rasanya lapar '. Aku mencoba yang terbaik untuk membayangkannya, tapi
Aku tidak bisa mengerti perasaan itu ... Aha, aku sudah mengobrol denganmu begitu lama, aku
rasa, aku mulai lapar lagi. Ku-shu! "
"..."
Bahkan saat dia demam; Bahkan saat dia dalam suasana hati yang buruk; Kak Touko selalu berperilaku seperti
Kak Touko yang biasanya.
Aku menyuruhnya untuk mengkonsumsi lebih banyak Vitamin C untuk melawan flu, dan kemudian aku menutup teleponnya.Sebuah buku yang diisi dengan Vitamin C ... Buku seperti apa itu?
Keesokan harinya, mungkin karena kondisinya, Kak Touko tidak masuk sekolah.
Setelah jam pelajan sudah selesai, Takeda datang ke kelasku untuk menemuiku.
"Kalau begitu, ayo kita pergi, Kak Konoha."
Dia tampak sangat bahagia, seolah-olah kami mau pergi ke sebuah taman hiburan.
"Apa, Inoue sedang berkencan ?"
"Tidak mungkin, tidak."
Aku hanya tersenyum dan mengabaikan teman-teman sekelasku.
Kotobuki-san masih menatapku dengan dingin.'Dia bilang dia tidak pacaran dengannya.Dia benar-benar pembohong '.Dia pasti berpikir begitu.Di bawah pengaruh tarikan tangan Takeda, aku melangkah keluar dari kelas.
"Lalu, apa Kak Shuuji ada di Klub memanah ?"
"Kau akan tahu nanti, dan kenapa kau masih mengajukan pertanyaan itu ? Semuanya sempurna! "
Sempurna? Apa yang sempurna !?
Dengan perasaan tidak enak yang menimpaku, kami datang ke klub Memanah.
"Permisi ~~~, kami di sini hanya untuk menonton ~"
Di pintu masuk ketempat praktek, Ada yang memanggil Takeda.
"Hei, Chia, lama tidak jumpa."
"Hei hei kau bahkan tidak pernah bilang ingin membawa pacarmu bersamamu. Big bromu ini benar-benar terkejut, Chia. "
Anggota klub semua berlari ke arah kami dan dengan ramah menyambut kami. Takeda sepertinya sering datang kesini
(Jadi Takeda selalu datang ke Klub memanah hanya untuk melihat Kak Shuuji ...)
Aku jadi semakin bingung.
Anggota klub membawa dua kursi untuk kami, jadi Takeda dan aku duduk.
Kapan pun seseorang mengenai target dengan tepat, Takeda akan bersorak:
"Uwah, itu hebat ~, bagus ~!"
Dan dia akan bertepuk tangan.
Di tengah prosesnya, Akutagawa yang melihatku. Ekspresi aneh
muncul di wajahnya.
Aku mengangguk padanya, dia juga menyapaku kembali. Dilihat dari kepribadian Akutagawa, aku ras dia tidak akan bergosip dengan teman sekelas yang lain. Meskipun demikian, dia tetap melanjutkan latihannya. aku datang
dengan Takeda untuk melihat mereka berlatih, aku masih merasa sangat malu.
Aku diam-diam bertanya kepada Takeda :
"Hei, siapa sebenarnya Kak Shuuji ?"
"Aku sedang mencarinya. Ah, orang itu! "
Mengikuti arah yang dia tunjuk, aku melihat orang yang dia tunjuk adalah Akutagawa yang sedang menarik tali busur ke sasarannya. Punggungnya lurus dan ekspresinya sangat
serius. Dia terlihat sangat keren.
"Eeeeh, Akutagawa adalah Kak Shuuji ?"
"Eeeeeee? Apakah Kak Konoha mengenalnya? "
"Kita adalah teman sekelas. Apa Akutagawa adalah Kak Shuuji ? Akutagawa adalah murid kelas dua. Dan juga, dia adalah orang yang pendiam, bahkan tidak pernah bercanda sekali pun dalam hidupnya. "
Kataku."Aa, Jika itu yang kau rasakan terhadapnya.Dia mungkin seorang pelatih yang sabar. "Kata Takeda sambil terus cekikikan.
"Itu bukan dia! Aku hanya ingin memberitahu Kak Konoha bahwa dia adalah yang terbaik dari Klub memanah. "Kata Takeda
* Braak ! *
Panah yang ditembakan Akutagawa tepat sasaran.
"Kya ~~~~! Menakjubkan! Itu adalah Dead Center ~~~~! "
Takeda melompat dan bersorak.
"Hei, hei, dia sangat hebat!"
Aku agak kesal.
"~~~~ Anu.... Takeda, kita kesini bukan untuk memata-matai klub memanah, Dan juga, kita bukan anggota
dari Klub Jurnalistik yang akan mewawancarai anggota klub untuk artikel surat kabar. "
"Aku tahu itu. Aku dan Kak Konoha datang ke sini untuk menemui Kak Shuuji kan, ?"
"Lalu di mana Shuuji-senpai?"
"Uhmm… baiklah..."
Takeda melihat sekitar dengan matanya.
"Halo, Semuanya ! Apakah kalian sedang berlatih dengan keras? "
Empat atau lima orang dewasa datang kemari.
"Ah, Kak Manabe!"
"Halo semuanya, Alumni datang berkunjung ~"
"Hari yang baik, Kak Manabe!"
"Oi, apakah kamu sudah lebih baik, Kashiwagi ?"
"Ya. Aku berlatih dengan instruksi yang Kakak berikan kepadaku, dan anak panahnya benar-benar terbang lurus saat aku melakukannya!"
"Bagus ! Tunjukkan padaku nanti. "
"Silahkan !"
"Kak Soeda dan Kak Rihoko, lama tidak jumpa."
"Yo, maaf jika kedatangan kita di sini mengganggu kalian lagi."
"Haha, sudah lama sekali. Jadi nostalgia ~~~ "
"Kak Rihoko aku dengar kau beberapa bulan lagi mau melahirkan ya, selamat !"
"Terima kasih. Ini terlalu awal untuk mengatakan itu. Aku keluar dari pekerjaanku minggu lalu, jadi aku bebas akhir-akhir ini. aku juga akan datang mengunjungi kalian bulan depan. "
"Hei hei, apa tidak apa-apa, Rihoko? Jangan memaksakan diri ! "
"Hahaha, Manabe, kau selalu khawatir."
Mereka sepertinya adalah alumni lulusan tahun lalu yang kembali untuk melihat bagaimana adik kelas mereka berlatih. Disana
hanya ada satu perempuan; Sisanya adalah laki-laki.
"Aku dengar bahwa setiap bulan, alumni tahun lalu akan mengunjungi dan menjadi pelatih anggota klub saat ini."
Takeda menjelaskan padaku.
"Pria tampan berkumis itu adalah Kak Manabe. Sepuluh tahun
lalu, dia adalah kapten yang memimpin klub ke posisi kedua di juara nasional. Sampai sekarang dia selalu memanggil rekan satu timnya untuk membantu melatih para siswa ini. "
"Kau tahu banyak ya"
"Karena aku sering kesini.Bisa dikatakan bahwa aku adalah cheerleader untuk Klub memanah. "
Kata Takeda dengan bangga. Aah, kita mulai ganti topik lagi. Kapan aku bisa bertemu Kak Shuuji ?
Pada saat itu---
"Shuuji ...!"
Teriakan menakutkan terdengar di telingaku.Aku buru-buru melihat sekeliling.
Apakah Kak Shuuji akhirnya muncul ? Tapi tidak peduli di mana aku melihat, aku tidak bisa menemukan orang yang dimaksud.
"Apa ! Shuuji ! Jangan bodoh !"
"Itu tidak mungkin!"
Lulusan lain juga berteriak dengan ngeri mendengar namanya.
Dimana? Dimana dia?
Tiba-tiba aku mencium aroma keringat dan tembakau. Seseorang, dengan kedua tangannya, meraihnya
wajahku dan mengadahkan kepalaku ke atas.
Pria berambut pirang itu, dengan kedua matanya yang terbuka lebar, menatapku. Dia adalah salah satu alumni,
Kak Manabe.
"Shuuji ..."
Dari mulut Kak Manabe, aku mencium aroma tembakau dan mendengar suaranya yang kasar.
Dengan matanya, dia hanya menatapku seolah ingin menelanku hidup-hidup.
Aku tercengang.
Shuuji adalah aku ?!
Itu berarti aku adalah Shuuji Kataoka ?
Kak Manabe akhirnya melepaskan tangannya dari wajahku yang kaku.
"Oh, Salah orang ... Ya?"
Api di matanya menghilang. Dia mulai bergumam dengan dirinya sendiri.
"Itu benar ... Shuuji sudah ...... Maaf, kau terlihat sangat mirip dengan teman kami. Apakah kau
anggota baru klub?"
"Tidak, aku hanya siswa kelas dua. Hari ini aku di sini untuk mengamati latihan klub. "
Aku tidak tahu kapan, tapi sekarang semua lulusan tiba-tiba sudah berkumpul disekitarku. Mereka menatapku seolah mereka
sedang melihat hantu.
Seiring tatapan ini diarahkan ke arahku, aku bingung dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
Ada apa dengan mata mereka. Lalu, dia mengatakan bahwa aku terlihat identik dengan Shuuji Kataoka.apa yang
sedang terjadi?
Alumni wanita itu, dengan nada suram, bergumam:
"Dia benar-benar mirip Kataoka, tapi Kataoka lebih tinggi ... tapi wajah mereka hampir sama. Dia hampir seperti seperti adik Kataoka. Hei, siapa namamu? "
"Aku ... Inoue Konoha."
"Konoha ... nama yang aneh, tapi itu nama yang cukup lucu. Konoha, apa kau punya saudara yang mempunyai nama belakang Kataoka? "
"Hei, sudah cukup. Rihoko. "
Bagaimanapun juga, lulusan yang memakai jas dan kacamata itu, sepertinya dia pria yang tampaknya sangat cerdas, Rihoko melanjutkan pembicaraannya .
"Tapi dia begitu mirip dengannya. Mungkin Konoha mempunyai hubungan tertentu dengan Shuuji. "
"Mereka tidak mirip seperti yang kau katakan. Mungkin karena kita semua belum pernah melihat Shuuji begitu lama, sehingga ingatan kita mulai kabur. Itu sebabnya kita salah mengira seseorang yang cukup mirip
dengannya, maksudku sangat mirip dengannya. "
"Itu masuk akal ... Mungkin benar apa yang dikatakan Soeda."
"Manabe ..."
Ekspresi muram muncul di wajah Rihoko.
"Permisi," aku bertanya tanpa peringatan, "orang macam apa Shuuji Kataoka itu ?"
Semua alumni menatapku. Setelah itu, mereka saling pandang dengan penuh kebingungan.
"Kataoka adalah orang yang sangat membingungkan."
Rihoko tiba-tiba berkata.
"Dia selalu bersikap bodoh dan selalu bermain-main. Kapan pun dia membuka mulutnya, dia selalu bercanda. "
"Cukup, Rihoko." Manabe menghentikan Rihoko untuk berbicara lebih jauh. Lalu dia tersenyum
pahit padaku:
"Shuuji adalah anggota Klub memanah. Dia berada di tahun yang sama dengan kami. "
Tahun yang sama!
Itu berarti Kak Shuuji dan Manabe dan yang lain, semuanya alumni dari Klub memanah yang sama.
Shuuji Kataoka memang ada.
Kecuali, dia tidak ada di Klub memanah saat ini; Tapi dia ada di Klub memanah di masa lalu.
Tanpa sadar aku melirik Takeda. Mata Takeda juga terbuka lebar, kecuali
Dia menatap alumnus itu.
Apa? Takeda tidak tahu Shuuji Kataoka adalah lulusan sekolah ini? Dia tidak tahu apa saja tentang dia, namun dia jatuh cinta padanya? Bagaimana mungkin?
"Lalu, di mana Kak Shuuji sekarang ?"
Kata Shuuji Kataoka, yang selalu merasa seperti 'konsep kebahagiaan berbeda dengan norma
dunia, ini membuatku merasa seolah-olah aku perlahan-lahan dimakan habis'; Oleh karena itu dia memilih untuk bermain
Sebagai badut.Seperti apa dia?
Berdiri di sampingku, Takeda tersentak ringan.
Wajah Manabe semakin gelap dan gelap.
"Tidak ada yang bisa bertemu Shuuji lagi. Maaf, ini bukan topik yang membahagiakan, jadi aku tidak berniat
terus melanjutkannya.Aku minta maaf karena telah menakut-nakutimu, Konoha. "
"Kalau begitu mari kita lanjutkan dengan latihan hari ini."
Alumni yang memakai Kacamata ini sepertinya memiliki sifat yang baik. Tidak ada yang berbicara tentang Kak Shuuji
lagi.
Semua lulusan telah pergi untuk melatih adik kelas mereka. Hanya saja Takeda dan aku tetap tinggal.
Wajah Takeda kaku. Matanya terpaku di tengah anak panah.
Matanya tajam seperti pisau cukur--- seolah-olah dia melihat musuh bebuyutannya.
"Takeda..."
Aku memanggilnya dengan suaraku. Baru saat itulah dia berpaling ke arahku dengan ekspresi hampa:
"……Maaf.sepertinya Kak Shuuji tidak datang hari ini. "
Ini adalah blog tentang segala hal, baik itu anime, motivasi dan sastra.Mohon dimaklum jika penulisan dalam blog ini masih jauh dalam kata sempurna.Jika ada salah kata mohon dimaafkan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Lari, Melos!
Melos sangat marah. Dia memutuskan untuk melakukan apa pun untuk membersihkan negeri ini dari kejahatan dan kekejaman raja tirani.Melos tida...
-
"Enaknya..."kata Miu sambil melahap makanan yang kusuapi.Aku mengambil makanan dengan sendok dan menyodorkannya pada Miu....
-
Aku berkata pada perempuan itu, bahwa kita bisa mulai jalan bersama.Perempuan itu, memperlihatkan senyumnya yang tak berdosa, dia hampi...
No comments:
Post a Comment